Da Mama

280

Daya tahan demonstran Hongkong tak terkira. Tapi daya tahan polisi juga luar biasa.

Betapa tahan sabarnya. 

Padahal sudah 28 orang polisi terluka. Termasuk ada yang kehilangan ujung jarinya. Minggu lalu.

Pun tenang saja. Menghadapi demo besar-besaran nanti sore. 

Polisi tidak merencanakan represif. Hanya minta rutenya diperpendek sedikit. Dan bubarnya jangan tengah malam. Jam 9 malam diminta sudah selesai.

Selama 38 hari ini mereka terus berdemo. Memang masih kalah dengan rangkaian demo pada 2014: 70 hari. Tapi sampai hari ini belum ada gejala berhenti.

Dari 38 hari itu yang sangat besar dua kali: satu juta orang turun ke jalan. Sisanya ratusan ribu. Atau puluhan ribu. Atau ribuan.

Hanya ada 4 demo selingan. Salah satunya disebut ‘demo rambut putih’. Yakni demonya generasi tua. Untuk mendukung demo anak muda itu.

Dua lagi demo selingan. Dari kelompok yang mendemo pendemo. Dua minggu lalu. Dan Sabtu kemarin.

Satu selingan lagi: demo ribuan orang melawan satu orang wanita. Wanita itu digelari ‘Da Ma’ (大妈). Mama Besar. Bukan badannya yang gendut. Tapi umurnya yang sudah 60-an tahun. Dan suaranya yang keras: selalu pakai pengeras suara.

Pekerjaan Dama (baca: ta ma) itu menyanyi. Solo. Di sebuah taman. Di dekat perumahan bertingkat. Tiap hari. Dianggap mengganggu ketenangan perumahan itu.

Terutama ketenangan ibu-ibu rumah tangga.

Pakaian Dama itu selalu seronok. 

Banyak suami mereka yang datang ke taman itu. Mengajak Dama berdansa. Lalu menyelipkan uang di balik bra-nya.

Sabtu kapan itu lebih 1000 emak mendemo Dama. Tapi ada seorang kakek yang berani menghadang pendemo itu. Kakek itu merasa terganggu: dansanya. Terjadilah cekcok. Kian banyak emak yang melawan kakek itu. Sampai si Dama lari. Ngumpet di toilet umum.