Batu Nisan Untuk Partai Tionghoa

586

Oleh: Dahlan Iskan

Kejayaan partai Tionghoa Malaysia ikut berakhir. Nama resmi partainya: MCA (Malaysian Chinese Association). Didirikan 2 Februari 1949. Pada pemilu terakhir 9 Mei lalu hasilnya tragis: hanya dapat satu kursi.

Padahal MCA pernah meraih 31 kursi pada pemilu tahun 2004. Bahkan sewaktu jumlah anggota DPR dikurangi tinggal 192 kursi pun MCA masih menduduki 30 kursi.

Satu-satunya kursi saat ini diraih oleh Dr.Ir Wee Ka Siong. Dari dapil Anyer Hitam, Johor Baru. Ia mendapat dukungan 17 ribu suara. Merosot jauh dari perolehannya di pemilu 2004. Tapi masih cukup untuk jatah satu kursi.

Wee adalah wakil presiden partai. Umurnya 49 tahun. Suku Hakka. Kelahiran Malacca. Alumni Universitas Teknologi Malaysia. Doktornya di bidang ilmu lalu lintas dari Nanyang University.

Wee dikenal dekat dengan Najib Razak, perdana menteri yang kalah pemilu. Pada periode yang lalu ia diangkat jadi wakil menteri pendidikan. Lalu menjalani operasi syaraf tulang belakang.

Dengan hanya satu kursi di DPR bagaimana nasib MCA dalam koalisi Barisan Nasional?

Itulah yang lagi jadi pembicaraan di kalangan partai suku melayu, UMNO. Partai ini sangat kecewa pada MCA. Janjinya akan all out. Nyatanya mesin partai MCA tidak jalan sama sekali. Bahkan presiden partainya pun kalah di dapilnya: Liow Tiong Lai.

Padahal MCA memiliki dua koran terbesar di Malaysia. Koran berbahasa Inggris terbesar di sana, “The Star”, adalah milik resmi MCA. Demikian juga koran berbahasa mandarin terbesar: “Nanyang Siang Pao”.