Pisau di Tangan Benjamin Chua dan Manish

Lolos dari Lubang Aorta Dissection (7)

455

 

Oleh Dahlan Iskan

Tibalah saat operasi itu. Tempat tidur saya didorong dari kamar 803. Menuju ruang operasi di rumah sakit Farrer Park Singapura ini.

Jam menunjukkan pukul 16:00. Robert Lai dan istrinya berjalan di belakang tempat tidur saya.

Setelah naik-turun lift terbacalah oleh saya tulisan besar: ruang operasi. Robert melambaikan tangan. Juga istrinya. Pertanda mereka hanya boleh mengantar sampai batas itu.

Saya tahu apa yang akan terjadi berikutnya. Suster-suster masuk. Badan saya diangkat ke meja operasi. Lalu saya akan dianestesi.  Disuntik cairan untuk mati rasa. Lima menit setelah suntik itu, mestinya, saya akan tertidur. Tidak akan tahu apa-apa. Tidak akan ingat apa-apa. Tidak akan merasa apa-apa.

Saya masih ingat pengalaman seperti itu 10 tahun yang lalu. Saat operasi ganti hati di RS Tianjin, Tiongkok.

Dokter anestesi pun masuk. Memperkenalkan diri. Dan menceritakan apa yang akan dia lakukan. Saya bilang, saya sudah tahu.

Saya lihat dia mulai mengikatkan sesuatu seperti sabuk di lengan atas saya. Pengikatnya rewel. Gak bisa dipasang. Dicoba diperbaiki.  Tidak bisa. Dokter minta diganti dengan ikatan dari karet saja. Begitu diikatkan, karetnya putus. Ganti lagi.

Wah pertanda apa ini? Saya tidak percaya takhayul. Saya abaikan saja. Setelah akhirnya sukses, mulailah proses penyuntikan anestesi.

Saya pun melirik jam dinding yang cukup besar. Lima menit berlalu. Kok saya belum tertidur. Lima menit kemudian masih juga sadar. Saya masih bisa mendengar pembicaraan para perawat. Kok lama sekali. Jauh lebih lama dari waktu anestesi di Tianjin dulu.