Beranda Rubrikasi Cover Story Para Pranatacara di Era Milenial

Para Pranatacara di Era Milenial

0
Para Pranatacara di Era Milenial
PAHAMI BUDAYA JAWA : Waluya, guru SMPN 3 Ambarawa ini memiliki profesi lain sebagai pranatacara, dengan belajar terus tentang budaya Jawa. (SIGIT ANDRIANTO/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, Keberadaan pranatacara menjadi kunci dalam setiap acara-acara penting, seperti pernikahan, khitanan, dan kematian. Juga seminar dan lokakarya. Sayang, eksistensi mereka harus berhadapan tuntutan masyarakat yang menghendaki segala sesuatu serba praktis dan cepat.

ADALAH Waluya, guru SMPN 3 Ambarawa yang turut merasakan kondisi ini. Banyak prosesi yang seharusnya ada dalam suatu acara, terpaksa ditiadakan. Padahal, setiap prosesi memiliki makna filosofis. Makna yang dapat dijadikan pelajaran untuk setiap orang yang datang dalam acara. Pernikahan, misalnya.

”Sekarang mulai banyak yang menggunakan MC nasional maupun internasional. Sehingga prosesi Jawa-nya ada, tapi hanya diambil cuplikan-cuplikannya saja,” jelas pria yang kerap menjadi pranatacara di berbagai acara ini. Kondisi ini membuatnya mengkhawatirkan kelestarian budaya Jawa.

Tidak hanya itu. Selain tuntutan hidup serba praktis, kekhawatiran juga muncul karena minat generasi muda pada kebudayaan Jawa dirasa kian meredup.

Sebenarnya bukan menjadi kendala ketika generasi muda minimal memiliki ketertarikan pada budaya Jawa. Seperti menekuni untuk menjadi pranatacara. Sebab, dia katakan, di setiap kota/kabupaten ada lembaga yang konsen untuk hal ini dan dapat dijadikan tempat untuk menimba ilmu.

”Namanya Permadani. Persaudaraan Masyarakat Budaya Nasional Indonesia. Di Permadani ini diselenggarakan pawiyatan atau pembelajaran untuk pranatacara dan pamedhar sabda atau yang lebih dikenal dengan pidato bahasa Jawa,” bebernya.

Memang, ia katakan, tujuan lembaga ini adalah untuk nduduk, ndudah lan ngrembakake. Atau menggali, membuka dan mengembangkan budaya Jawa secara keseluruhan.

Waluya mengatakan, menjadi pranatacara dapat dipelajari. Ia pun mengakui bahwa pranatacara bukan merupakan profesi utamanya. Mulanya, sebagai guru sekolah, ia dianggap tetangganya sebagai orang yang ”serba bisa”. Bisa memimpin rapat, ngacarak’ke manten, khitan dan beberapa lainnya. Kondisi ini, ditambah dengan kecintaannya dengan segala hal yang berbau budaya Jawa, kemudian memaksanya untuk terus belajar.

”Saya belajar dengan membaca, mendengar dan melihat. Membaca dari sejumlah referensi, mendengar dari radio, maupun melihat ketika ada acara dan ada pranatacara yang menurut saya bagus untuk dipelajari dan diapikasikan,” ujar pengajar mata pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di SMPN 3 Ambarawa ini.

”Saya selalu berproses seperti itu. Maka menjadi pranatacara sebenarnya bisa dipelajari,” tambah pria yang mengaku cinta budaya Jawa karena kaya ajaran filosofi di dalamnya.

Dari situ, ia kemudian dipercaya meng-handle acara. Memasrahkan dan menerima dalam acara, menjadi wakil tuan rumah, pambagya dan pranatacara. Dari pengalaman itu, kemudian banyak orang yang menggunakan kemampuannya ini berdasar informasi dari mulut ke mulut.

Ia bercerita, selama menjadi pranatacara ada satu pengalaman yang hingga kini tidak dapat ia lupakan. Adalah ketika ia membawakan acara pernikahan namun terpancang pada kertas catatan. Saat itu, ia ceritakan, ia menggambarkan suasana dengan cara membaca, tanpa melihat apa yang sedang terjadi.

”Karena masih awal menjadi pranatacara saat itu. Jadi ada yang namanya nyandra atau menggambarkan prosesi dengan sedemikian rupa. Misalnya manten putri masuk, itu digambarkan. Saya menggambarkannya dengan cara membaca, ternyata mantennya sudah melakukan prosesi lainnya,” ujarnya mengingat.

”Yang seperti ini juga menjadi pembelajaran bagi saya,” imbuhnya.

Waktu demi waktu ia jalani hingga kemudian ia memahami lebih dalam seluk beluk pranatacara. Menurutnya, pranatacara memang menjadi kunci, karena mengarahkan sesi demi sesi dalam setiap acara. Pranatacara merupakan pemegang kendali. Bahkan, dapat dikatakan, hidup matinya satu acara bergantung pada pranatacara.

”Harus memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Kalau saya, biasanya dengan menyelipkan joke-joke, menggunakan humor atau kadang saya selipkan parikan. Joke-joke ini juga harus selalu di-update,” bebernya.

Meski demikian, menjadi pranatacara bukan perkara gampang. Pranatacara harus mengetahui seluk beluk acara. Ada pula kemampuan khusus yang harus dimiliki pranatacara. Terutama, kemampuan berbahasa Jawa. Ini harus diasah secara terus menerus.

Tidak hanya itu, pranatacara juga wajib mengetahui, sekalipun sedikit, tentang gendhing Jawa. ”Selanjutnya, mereka juga garus mengerti tentang bahasa rias manten. Itu adalah modal utama,” jelasnya kepada koran ini.

Tidak kalah penting, karena menjadi pranatacara adalah olah rasa, maka suara adalah salah satu unsur penting untuk menjadi pranatacara. Suara, yang didapat dari olah rasa, harus mampu membuat pendengar fokus pada setiap prosesi acara. (sga/ida)