Diminati Generasi Milenial, Tapi Ritme Harus Cepat

106
SANGAT MAHIR : KRT Supriyono Jayeng Nagoro, pranatacara legendaris asal Semarang yang lebih memilih menghafalkan di luar kepala seluruh prosesi acara.(DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
SANGAT MAHIR : KRT Supriyono Jayeng Nagoro, pranatacara legendaris asal Semarang yang lebih memilih menghafalkan di luar kepala seluruh prosesi acara.(DEWI AKMALAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID, KRT Supriyono Jayeng Nagoro, pranatacara legendaris asal Semarang ini merasa bersyukur. Generasi muda, khususnya di Semarang, saat ini sudah mulai peduli dengan kebudayaannya sendiri. Yakni, kebudayaan Jawa.

Jayeng –sapaan akrab KRT Supriyono Jayeng Nagoro- berbagi kisah dengan kaum muda tentang pranatacara. Diakuinya, pada zaman dulu, kisaran tahun 1980-an, tidak mendapat ilmu atau pengajaran khusus tentang pranatacara. Dengan berbekal bisa berbahasa Jawa yang baik, dapat menembang lagu Jawa dan kepercayaan diri tampil di depan umum, semua orang bisa menjadi pranatacara.

Namun hal tersebut tidak dapat diterapkan pada masa sekarang. Saat ini, untuk menjadi seorang pranatacara harus menjalani pendidikan khusus profesi pranatacara. Mereka harus mengikuti pelajaran yang diselenggarakan oleh pawiyatan (tempat kursus profesi pranatacara) sehingga bisa dinyatakan lulus dan menjadi pranatacara profesional.

Mulai tahun 1990-an, para pelaku Pranatacara Semarang mulai takut tidak ada generasi muda yang meneruskan profesi ini. Akhirnya dengan kesepakatan bersama, mulai membentuk pawiyatan untuk mendidik anak muda mengenai teknik pranatacara yang baik. “Alhamdulillah, meski jumlah peminatnya naik turun, namun beberapa tahun terakhir trennya naik. Bahkan saat ini tidak hanya generasi muda yang ikut, para ulama juga ikut belajar. Mereka merasa dengan menguasai pranatacara, bisa menguasai audiens untuk mendengarkan ceramahnya,” ujarnya.

Dirinya menambahkan banyaknya peminat generasi muda untuk belajar pranatacara, tak lepas dari faktor masih larisnya jasa pranatacara yang digunakan oleh masyarakat. Tidak hanya di Jawa, saat ini banyak acara pernikahan pengantin luar Jawa justru menggunakan pranatacara untuk memandu pernikahan mereka. Bagi mereka, kebudayaan Jawa tersebut unik dan memiliki arti mendalam, meskipun tidak mengetahui makna dari bahasa Jawa tersebut.

Hal ini sekaligus mematahkan paham bahwa pranatacara mulai ditinggalkan dan beralih dengan model pembawa acara yang baru dan lebih modern. Dalam kenyataannya justru semakin eksis dan merambah ke berbagai kalangan baik yang memiliki perbedaan suku, budaya, adat istiadat dan strata sosial yang beragam.

“Saat ini, saya justru sering menjadi pranatacara untuk perkawinan warga luar Jawa. Anehnya, mereka justru suka dengan bahasa Jawa yang tidak mereka pahami. Semakin menggunakan bahasa Jawa yang susah, semakin senang. Mereka berasumsi dengan bahasa Jawa yang semakin susah, semakin tinggi derajat kebangsawanan dan hasilnya menimbulkan rasa bangga dari dalam diri yang mengundang,” lanjutnya.

Seiring berkembangnya zaman pasti ada perubahan. Begitu pula dalam menjalankan profesi pranatacara. Jayeng tidak menutup mata akan berkembangnya teknologi dan gaya hidup masyarakat modern. Dirinya secara bertahap mulai menyesuaikan diri dengan style baru masyarakat modern. Contohnya adalah pengaturan ritme acara pernikahan. Dirinya harus mengubah ritme acara menjadi lebih cepat, ketika membawakan acara pengantin modern. Beda dengan pengantin zaman dulu yang menggunakan ritme lambat. Dirinya menuturkan pengantin modern akan bosan, jika menggunakan ritme yang lambat. Sehingga ritme cepat lebih sesuai dengan gaya kekinian.

“Saat ini yang masih setia menggunakan ritme lambat hanya pada adat pengantin Tionghoa. Kalau untuk upacara penikahan Jawa modern, ritme tersebut saat ini susah diterapkan. Selain mudah bosan, juga membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Sehingga mau tidak mau pemandunya harus lebih cepat dari masa lalu,” katanya.

Selain itu, pihaknya mengakui penggunaan teknologi seperti gadget dalam memandu acara mulai banyak dilakukan. Khususnya bagi pranatacara muda. Namun ketika bertanya apakah dirinya menerapkan hal tersebut, ia lebih memilih menerapkan teknologi tersebut. Baginya menggunakan kertas maupun gadget sama saja.

“Ya bagaimanapun, saya harus mempertahankan wibawa saya. Malu saya pas memandu acara melihat gadget dan dilihat teman-teman pranatacara muda. Karena saya sudah tidak lagi menggunakan bantuan teks untuk memandu acara. Apalagi saya sudah hampir 40 tahun menjadi pranatacara. Semua pedoman dalam prosesi pernikahan harus sudah di luar kepala,” lanjutnya.

Dirinya berharap tren postif naiknya minat anak muda mempelajari pranatacara tidak hanya fenomena sementara. Namun bisa bertahan dalam jangka waktu lama. Sehingga semakin banyak pranatacara muda yang mempu meneruskan karirnya sekaligus turut serta melestarikan atau nguri-nguri budaya Jawa. Sehingga tidak ada lagi stigma atau pandangan bahwa kebudayaan Jawa mulai ditinggalkan dan perlahan terhapus seiiring berkembangnya zaman. (akm/ida)