Awalnya Iseng, Sekarang Banjir Job

148

RADARSEMARANG.ID, AIPDA Budiyanto, anggota Polsek Gunungpati yang sekarang bertugas di bagian intelijen ini, ternyata piawai menjadi seorang pranatacara. Padahal, semula menganggap pranatacara itu kegiatan iseng yang menjadi hobi.

Anggota Polri yang akrab disapa Budi ini mengaku menggeluti hobinya sebagai pranatacara sejak lima tahun silam. Awalnya ketika bertugas di Polsek Gunungpati sebagai Babinkamtibmas. Dirinya sering menyambangi warga untuk sosialisasi ketertiban dan keamanan.

“Kalau bersama warga, komunikasinya lebih banyak menggunakan bahasa Jawa, meski terkadang pakai bahasa Indonesia. Dari situlah, mulai menekuni profesi sebagai pranatacara,” ungkapnya saat ditemui di rumahnya di daerah Ngijo Kecamatan Gunungpati, Sabtu (19/10) kemarin.

Pihaknya menjadi anggota Polri sejak tahun 2001, pertama bertugas di Reskrim Polda Jateng sampai 2004. Selanjutnya di Polres Semarang Selatan sampai tahun 2009, terus pindah di Polsek Gunungpati. Kemudian bertugas di Babinkamtibmas untuk pendekatan ke masyarakat.

Diakuinya, berkomunikasi dengan warga lebih mengena dan memasyarakat jika menggunakan bahasa Jawa. Apalagi budaya Jawa yang adiluhung, banyak nasehat dan pitutur yang sudah mulai dilupakan.

Saking seringnya berbahasa Jawa dalam sosialisasi dan tugas, menginspirasi pria kelahiran Kabupaten Semarang, 29 April 1979 ini menjadi seorang pranatacara atau MC dalam pernikahan. Meski belum menguasai secara mendalam, Budi tidak menyerah. Bahkan, rela belajar atau kursus bahasa Jawa di Permadani selama 6 bulan.

“Itu belajar dasar-dasarnya. Kemudian ketika berkunjung ke masyarakat, ketika ada pernikahan, melihat. Akhirnya semakin paham tentang makna. Dalam bahasa Jawa ada pituturnya seperti ini, akhirnya semakin tertarik,” bebernya.

Namun dalam bahasa Jawa itu ada stratanya. Saat pertama kali menjadi pranatacara, ada rasa grogi. Tapi setelah terbiasa, akhirnya rasa grogi itu hilang. “Cuman masih ada rasa was-was, apakah yang saya sampaikan, audien mengetahui maksudnya atau tidak. Itu yang bikin tanda tanya,” ujarnya.

Saat belajar atau kursus di Permadani, Budi mengakui tidak pernah melupakan menjalankan tugasnya sebagai anggota kepolisian. Meski harus mengorbankan jadwal kursus, Budi tidak menyerah. Ia tetap belajar ekstra di luar mengejar ketinggalan.

“Ketika ada pernikahan, meski tidak nyumbang, tetap hadir melihat dari kejauhan. Ya melihat bagaimana prosesi-prosesi yang disampaikan, supaya bisa mengetahui makna atau cara-caranya sehingga paham,” katanya.

Menurut Budi, dirinya hampir sepanjang tahun mendapat job pranatacara mantenan. Waktu atau bulan yang jarang adalah ketika bulan Ramadan (Puasa) dan Muharram (Suro).

“Ya tetap ada satu dua. Tapi tidak seperti bulan-bulan lainnya. Biasanya Sabtu Minggu ada, karena kantor libur. Waktu libur digunakan untuk kegiatan ini,” katanya.

Job yang didapatkan lokasinya tidak menentu. Belakangan ini, justru di luar wilayah Kecamatan Gunungpati. Seperti di Gedung Akpol, Kodam, beberapa hotel maupun perkantoran. Bahkan, kalangan pejabat dari alumni Akpol, Akmil, IPDN, saudara, dan tetangga lebih sering. “Tidak hanya pejabat, siapapun yang membutuhkan kami bantu,” jelasnya.

Kendati begitu, kata Budi, tidak semua kegiatan pranatacara ini dikomersialkan. “Tidak harus ada dana, karena memang awalnya hobi. Tapi akhirnya menjadi hobi yang ada hasilnya. Ya dijalankan saja, untuk tambah-tambah,” tuturnya.

Menurutnya, kegiatan pranatacara sebetulnya petunjuk dari nenek moyang. Sebab, di dalam prosesi yang disampaikan, terdapat nasehat-nasehat kebaikan. Nasehat tersebut diwujudkan dalam peragaan, mulai dari siraman, midadareni, dan lain-lain. Itu semua berisi nasehat. Terus ada tetuwuhan, ada pisang rojo, cengkir gading, juga bagian dari nasehat. “Tapi kalau orang yang tidak mengetahui, ya menurutnya itu sajen. Padahal tidak, itu nasehat dari para sesepuh,” bebernya.

Baginya, profesi pranatacara akan selalu dibutuhkan masyarakat dimanapun. Bahkan, sangat prospektif. Terpenting seorang pranatacara harus menguasai dan mengikuti perkembangan zaman.

“Dulu umumnya memakai pakem keraton. Kalau sekarang diselingi dengan bahasa Indonesia karena belum tentu yang hadir atau pengantinnya itu dari Jawa. Maka harus bisa memodifikasi Joglosemar, tidak harus budaya. Tapi, kiblatnya memang ke Keraton Solo, ada yang kiblatnya ke Jogja, Semarang, kadang ada yang menghendaki campuran. Yang baku namanya budaya, tidak terlepas dari etika, estetika dan logika,” katanya.

Terkait komunitas pranatacara, ada wadah Griyo Jawi. Menurutnya, wadah tersebut sampai sekarang masih berjalan. Dulunya, berada di Ngijo, sekarang di Kedungwadas di daerah Dewi Sartika, Kecamatan Gunungpati.

“Jumlah anggota yang tergabung dalam Griyo Jawi, sekitar 40-an orang. Jumlahnya semakin bertambah. Ini kan kegiatan sosial, keluar masuk itu wajar,” pungkasnya. (mha/ida)