Terkendala Biaya, Ada Spare Part Harus Impor

Geliat Kampus Kembangkan Mobil Listrik

802
TERUS DISEMPURNAKAN: Prototype mobil listrik Gentayu karya Mahasiswa Undip. (DOKUMENTASI UNDIP)

MOBIL listrik yang digadang-gadang sebagai kendaraan hemat energi di masa depan, membuat perguruan tinggi saling berlomba-lomba membuat dan merakit mobil listrik dengan menambahkan kearifan lokal di dalamanya. Perguruan tinggi semakin bersemangat ketika Presiden Joko Widodo bahkan secara terang-terangan mendukung penuh kemunculan mobil listrik.

Namun, seolah tertelan waktu, perhatian pemerintah kini tidak lagi getol mengampanyekan mobil listrik. Terlebih beberapa perusahaan otomotif di Indonesia, tidak benar-benar serius memproduksi mobil listrik. Namun beberapa kampus di Jawa Tengah tetap setia memproduksi dan mengembangkan mobil listrik yang ditengarai lebih ramah lingkungan dan sebagai konvergensi energi.

Salah satunya prototype mobil listrik Elang Untidar atau Electrical Lightweight Automobile Non Gasoline hasil karya mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Tidar (Untidar) yang lahir pada Mei tahun 2017 silam. Kini, bahkan mahasiswa Teknik Mesin Fakultas Teknik Untidar telah mengembangkan model kedua, yakni tipe urban dengan pengembangan yang lebih futuristik dan bertenaga. Keseriusan Fakultas Teknik Untidar dalam mengembangkan mobil listrik diikuti dengan mengikuti kompetisi Kontes Mobil Hemat Energi (KMHE)  yang diadakan Kemenristek Dikti di ITS Surabaya pada November 2017 lalu. Bahkan, Elang mencatatkan prestasi gemilang sebagai the best rookie atau pendatang terbaik.

Kepala UPT TIK Untidar sekaligus Dosen Teknik Untidar Sigit Joko Purnomo menceritakan bahwa perkembangan teknologi kendaraan atau vehicles di dunia termasuk di Indonesia sudah mulai berkembang, dan kemudian turun di perguruan-perguruan tinggi. Dari situ, menurut Sigit, dirinya yang menjadi dosen teknik mesin berupaya untuk mengonsentrasikan penelitian dan mencoba merancang sebuah penelitian yang konsen ke mobil listrik.

“Awalnya, saya melakukan sebuah penelitian sederhana dan sebagai dosen melibatkan mahasiswa sebagai laporan akhir. Dari beberapa mahasiswa tadi, akhirnya bisa terpenuhi sebuah prototype mobil listrik. Kemudian seiring itu, perkembangan program di Kemenristek Dikti, dalam hal ini Belmawa, ada sebuah kompetisi mobil hemat energi. Alhamdulillah akhirnya bisa ikut serta,” katanya.

Sigit menuturkan, dirinya sengaja memilih penelitian mobil listrik karena merupakan program pemerintah. Selain itu, menurutnya, BBM ke depan pasti akan menurun, sehingga energi yang terbarukan harus bisa dioptimalkan.

Ia mengakui belum semua kampus mengembangkan prototype mobil listrik. Untuk itulah, menurutnya, ini adalah sebuah peluang bagi Untidar untuk tampil mengembangkan mobil listrik.

“Saya memulai penelitian awal tahun 2017, dan sudah menjadi sebuah prototype. Kemudian sampai sekarang, Alhamdulillah sudah memasuki generasi kedua. Perkembangan dari produk pertama di aspek bodi, dari semula fiber glass menjadi fiber karbon. Sekarang ini kami sedang menyusun lagi, merancang lagi, dan bahkan sudah jadi chasis-nya dengan type urban. Dan sudah mengarah lagi menjadi passenger atau kendaraan penumpang,” imbuhnya.

Sigit menilai, kelangsungan pengembangan mobil listrik oleh perguruan tinggi harus sejalan dengan program pemerintah. Artinya, menurut Sigit, dari pemerintah harus di-breakdown kemudian ke Kemenristek Dikti, kemudian turun ke perguruan tinggi baik negeri maupun swasta.

Ia menyebutkan, mobil listrik Elang Untidar pertama masih memiliki panjang body sekitar 265 cm, tinggi 75 cm, dan berat 106 kg dengan bahan fiber glass serta memiliki tiga roda (dua depan dan satu belakang). Untuk dapat bergerak, menurut Sigit,  mobil ini ditanam penggerak motor listrik berkekuatan 350 watt, mampu melesat hingga 40 km/jam dan tahan selama 3 jam untuk kemudian 4 baterai diisi ulang.

Untuk generasi prototype kedua, menurut Sigit, disempurnakan dengan menggunakan fiber karbon dan ada pengurangan bobot yang semula mencapai 106 kg menjadi 80 kg. Pengurangan bobot ini, kata Sigit, menjadikan kecepatan mobil menjadi naik, yakni 50 km/jam.

Sigit memaparkan, kendala dalam pengembangan mobil listrik cukup kompleks, terutama pendanaan. Pendanaan ini, kata Sigit, mengingat beberapa bahan masih sulit dicari, terutama baterai yang masih harus mengimpor.“Kendala yakni satu sarpras lah. Itu sangat penting karena semua pengerjaan itu bisa dilaksanakan di lab. Yang kedua modal, atau dana. Karena mau tidak mau, komponen-komponen tadi juga, ya untuk level mahasiswa atau penelitian, sangat mahal kategorinya. Bahkan ada salah satu alat yang belanjanya harus di luar negeri,” tandasnya.

Ia mengakui dalam mengembangkan mobil listrik, butuh perjuangan. Bahkan, anggaran pribadi pun sudah tidak terhitung harus dikeluarkan dalam mengembangkan mobil listrik.

Pengembangan mobil ramah lingkungan juga dilakukan di Universitas Negeri Semarang (Unnes). Hampir sama dengan di Untidar, pengembangan mobil listrik di Unnes juga memiliki sejumlah kendala, salah satu kendala yang mendasar adalah pada bagian komponen atau spare part yang belum semuanya tersedia di Indonesia. Sehingga mau tidak mau, beberapa spare part harus impor dari luar negeri.

“Salah satu kendalanya ya banyaknya spare part yang harus impor. Misalnya motor, bahkan bagian magnetnya yang merupakan spare part kecil pun harus impor. Sehingga cost-nya jadi mahal,” kata dosen pembimbing mobil listrik Pandawa Unnes Ahmad Mustamil Khoiron MPd.

Khoiron, begitu ia disapa, mengatakan, awal mula pengembangan mobil listrik Pandawa di Unnes dimulai pada 2014. Sampai saat ini sedikitnya ada enam prototype yang telah dibuat tim Pandawa.  Mulai dari prototype mobil listrik beberapa kali sampai mengubah desain, hingga sekarang fokus yang diambil adalah kategori urban concept Internal Combustion Engine (ICE).

“Dulu awalnya untuk pengembangan mobil ramah lingkungan di internal kampus, nah kemudian ada beberapa kompetisi mobil hemat energi sekaligus belajar dan mengembangkan mobil buatan Unnes ini,” jelasnya.

Sampai saat ini, mobil Pandawa Unnes memiliki prestasi yang cukup mentereng di tingkat nasional maupun internasional. Terbaru mobil ini berhasil menorehkan prestasi sebagai peringkat 8 dalam ajang Goes To Shell Eco Marathon Asia 2019 yang digelar di Sepang International Circuit, Malaysia Mei lalu. (had/den/aro)