Beranda Rubrikasi Cover Story Jejak Darah Pejuang di Kampung Tulung

Jejak Darah Pejuang di Kampung Tulung

0
Jejak Darah Pejuang di Kampung Tulung
SAKSI HIDUP: Abak Roflin bin Sabar (AGUS HADIANTO/JAWA POS RADAR KEDU).

Terhasut fitnah keji pasukan sekutu, tentara Kidobutai Jepang kalap. Membabi-buta, tentara-tentara  Jepang menyerang warga dan tentara Republik yang tengah berada di dapur umum Kampung Tulung, Kota Magelang. Darah pejuang tumpah.

WORO Indarti, cucu Lurah Kampung Tulung (era 1945) Atmo Prawiro tidak bisa menyembunyikan perasaan mirisnya, ketika menceritakan pengalaman sang kakek lolos dari kekejian tentara Jepang pada 29 Oktober 1945. Ketika itu, tentara Dai Nippon kalap, memberondong semua orang yang tengah berada di dapur umum Kampung Tulung.

Suara rintihan, erangan kesakitan, seketika menyeruak. Darah berceceran. Satu tubuh tumbang, tubuh pejuang lain menyusul di atasnya. Bertumpuk. Atmo Prawiro salah satunya. Tubuhnya tertindih pejuang yang tumbang dengan darah berceceran.  “Kakek bisa selamat karena terkena darah dari tentara Indonesia yang tewas berlumuran darah,” kenang Woro kepada Agus Hadianto dari Jawa Pos Radar Kedu.

Setelah Jepang meninggalkan Kampung Tulung dan kondisi dirasa aman, pelan-pelan Atmo Prawiro membebaskan diri dari tumpukan jenasah para pejuang. “Kakek jalan pelan-pelan di bawah jenasah tentara yang gugur. Setelah aman, kakek langsung lari ke arah Bandongan,” kata Woro.  Atmo Prawiro kini sudah almarhum. Namun, keberaniaan dan ketokohannya memobilisasi warga untuk membantu pejuang dan tentara menyediakan pasokan makanan di dapur umum, tidak akan pernah dilupakan.

Di mana Kampung Tulung? Kampung ini berada di Kelurahan Magelang, Kecamatan Magelang Tengah, Kota Magelang. Lokasinya, tidak jauh dari SMP Negeri 1 Magelang. Di Kampung Tulung,  berdiri monumen untuk mengenang tentara dan warga yang gugur dibantai pasukan Jepang. Tragedi Kampung Tulung menimbulkan korban gugur 42 orang, 16 di antaranya warga Kampung Tulung dan 26  Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Magelang.

Tragedi berdarah di Kampung Tulung tidak akan terjadi, jika tentara NICA (Inggris)—belakangan diketahui diboncengi oleh tentara Belanda—tidak berbuat licik. Karena kedodoran dan terdesak menghadapi perlawanan pasukan pejuang dan tentara Republik, pasukan sekutu (Inggris dan Belanda) bersiasat keji. Mereka melakukan fitnah. Kepada pasukan Jepang di Semarang, petinggi sekutu mengatakan bahwa tentara Jepang yang menjadi tawanan di Magelang—termasuk pimpinan mereka Jenderal Nakamura—dibantai oleh pejuang dan tentara Republik. Mendengar kabar itu, tentara Jepang murka.

Maka, pada  28 Oktober 1945, tujuh truk tentara Jepang dari Semarang  dikerahkan menuju Kota Magelang. Semua personelnya diturunkan di pertigaan Payaman, pukul 08.00. Pasukan berjuluk Kidobutai ini dibagi jadi 2 kelompok. Kelompok pertama, dari pertigaan Payaman, terus bergerak ke selatan. Kelompok kedua, menuju arah barat sampai mata air Kalibening, kemudian ke selatan, menelusuri Sungai Bening menuju Kampung Tulung.

Mereka bersiasat mengepung Kampung Tulung dari segala penjuru. Selama perjalanan menuju Kampung Tulung, tentara Kidobutai  menembaki setiap orang yang dijumpainya. Tua, muda, pria, perempuan, menjadi korban kekejian tentara Jepang. Pun, ketika tentara Kidobutai melintasi Meer Uitgebreid Leger Onderwijs (MULO) Guverment (sekarang SMP Negeri 1 Magelang). Pasukan kalap ini  menembak para pelajar. Tragedi ini menyebabkan terbunuhnya Soemiatdjo, Soesilo, dan Soediro. Untuk mengenang gugurnya tiga pelajar itu, didirikan Monumen Rantai Kencana di lingkungan SMP Negeri 1 Magelang.

Abak Roflin bin Sabar, 89 tahun, pejuang kemerderkaan warga Kampung Tulung yang kala itu turut memanggul senjata bercerita, ketika tentara Jepang menyerang Magelang, sebenarnya pejuang dan TKR tengah bertempur melawan tentara sekutu.  “Pak Ahmad Yani, waktu itu punyai strategi akan menyerang markas sekutu secara tiba-tiba. Pada  28 Oktober 1945, sekitar pukul 05.00, Pak Yani memberikan isyarat kepada pasukan untuk menyerang tentara sekutu dari segala arah. Penyerangan berjalan sampai pukul 11.00. Tiba-tiba dari markas sekutu, ada bendera putih tanda menyerah. Kemudian, tentara Republik menghentikan serangan,” urai Abak yang kala itu berusia 17 tahun.

Pada hari yang sama, sekitar pukul 12.00, muncul rombongan tentara Kidobutai Jepang bersenjata lengkap. Mereka menyerang tentara Republik. Terdesak, tentara Republik mundur, sembari terus bertempur hingga ke tepi Progo sampai sore hari.  Tentara Republik yang kehabisan amunisi dan kalah persenjataan, lantas mundur meninggalkan Kota Magelang, bergeser ke arah Bandongan dan sekitarnya.  “Nah, paginya kejadian, tanggal 29 Oktober 1945, tentara Jepang masuk ke Kampung Tulung melalui jalur belakang dan samping,”  kenang Abak.

Warga Kampung Tulung yang tengah berkumpul di kelurahan yang dijadikan sebagai lokasi dapur umum, kata Abak, sempat kaget melihat kedatangan pasukan Jepang. Toh, mereka tetap mengira bahwa  yang datang adalah kawan. Sebab, sebelumnya banyak tentara Jepang yang membela Indonesia dan berganti nama menjadi nama khas Indonesia. Seperti Toro, Haryono, Bakri, dan Mohammad.

“Ternyata tentara Jepang  menyerang tentara BKR dan warga, baik dari belakang serta samping. Saat itu, akhirnya terjadi baku tembak. Pertempuran seorang lawan seorang. BKR dan warga ada yang balas menyerang. Ada juga yang lari.” Karena tentara dan warga di dapur umum Kampung Tulung tidak siap, maka dengan mudah dibantai oleh pasukan Jepang.  “Dari pihak Republik, yang gugur 42 orang,” kata Abak.

Setelah tidak ada baku tembak, Toro, seorang BKR dari Jepang,  kata  Abak,  bertanya kepada tentara Kidobutai  yang menyerang. Menurut keterangan tentara Kidobutai, mereka mendapat kabar dari tentara sekutu bahwa tentara Jepang di Kota Magelang dibunuh semua oleh pasukan Republik. “Pak Toro membantah. Ia bahkan menjamin tidak ada satu pun tentara Jepang yang dibunuh. Setelah mendapat penjelasan seperti itu, semua tentara Kidobutai  pulang ke Semarang.”

Satu sisi, tentara Republik terus menggempur tentara sekutu. Tak sanggup melawan derasnya serangan dari TKR, pihak sekutu melobi Presiden Soekarno agar turun ke Magelang untuk melakukan perundingan genjatan senjata.  Maka, pada 2 November 1945, bertempat di Bada’an, pemerintah Indonesia dipimpin Presiden Soekarno dan tentara sekutu dipimpin Jenderal Bethel melakukan perundingan.  “Setelah perundingan, Presiden Soekarno sempat mengunjungi Kampung Tulung dan melihat kondisi kelurahan atau dapur umum,” kata Abak yang sampai saat ini masih merawat kursi yang dulu pernah diduduki oleh Soekarno di rumahnya.

Presiden Soekarno, kenang Abak, bertanya tentang 42 korban yang gugur. Pada saat itu, semua jenasah korban dimakamkan  di depan kelurahan atau depan dapur umum. “Baru setahun kemudian, jenasah-jenasah dipindah di Taman Makam Pahlawan.” Setelah perundingan, sekitar tanggal 21 November, menurut Abak,  diam-diam tentara sekutu meninggalkan Kota Magelang dan mundur ke Ambarawa. Di Ambarawa, lagi-lagi terjadi pertempuran yang dikenal dengan Palagan Ambarawa.

Bagaimana awal tentara sekutu masuk ke Magelang? Abak bercerita, sekitar tanggal 24 September 1945, enam tentara Inggris terjun dari pesawat jenis capung di lapangan gunung Tidar.  Mereka beralasan akan melucuti dan menawan tentara Jepang yang ada di Kota Magelang. Hal itu dilakukan setelah Jepang menyerah akibat kalah dalam perang dunia ke-2, pasca Hiroshima dan Nagasaki dibom oleh pasukan sekutu yang dipimpin Amerika Serikat .  “Tentara Inggris lantas ditempatkan di Hotel Nitaka bersama tentara Kempetai (Jepang) yang ditahan.”

Pada 18 Oktober 1945, tentara sekutu yang datang ke Magelang jumlahnya semakin banyak. “Ada sekitar 60 kendaraan lebih. Mereka menempati lima tempat. Di  kompleks Bada’an, Hotel Nitaka, Susteran, Kader School, dan RST. “Keadaan inilah yang kemudian menjadi perhatian Pak Sarbini, pimpinan BKR selaku Komando Wilayah Karesidenan Kedu.”

Karenanya,  pada 24 Oktober 1945, Kampung Tulung dijadikan sebagai dapur umum dengan memerintahkan Pak Lurah, Atmo Prawiro dan Carik Karto Taruno.  Ditunjuklah sebagian warga Kampung Tulung dan BKR menjadi juru masak. Sebagian besar laki-laki. (agus.hadianto/dari berbagai sumber/isk)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.