Pendidikan Gratis untuk Wajib Belajar 12 Tahun, Mungkinkah?

1092
Oleh: Nerru Pranuta Murnaka SSi MPd
Oleh: Nerru Pranuta Murnaka SSi MPd

SALAH satu cara untuk menciptakan suatu masyarakat terpelajar (educated people) yang berkualitas dan berintelektual, yakni dengan melalui pendidikan. Lewat pendidikan akan terbentuk suatu masyarakat maju, mandiri, demokratis, sejahtera, dan bebas dari kemiskinan. Namun sayangnya hal tersebut belum merata di seluruh wilayah tanah air. Salah satu upaya untuk dapat mewujudkannya yaitu dengan cara pemerataan pendidikan.

Menurut James S. Coleman, dkk. dalam bukunya “Equality of educational opportunity” menyebutkan, konsep pemerataan pendidikan mencakup dua aspek, yakni aspek Equality dan aspek Equity. Aspek Equality mengandung arti persamaan untuk memperoleh pendidikan. Sedangkan aspek Equity bermakna keadilan dalam memperoleh pendidikan yang sama di antara berbagai kelompok dalam masyarakat.

Kedua hal tersebut mempunyai makna yang luas, yakni tidak hanya persamaan dalam memperoleh pendidikan, tapi juga mendapatkan perlakuan sama setelah mereka memperoleh pendidikan. Hal ini akan memungkinkan individu untuk dapat mengembangkan potensi yang dimilikinya secara optimal, sehingga dapat dikatakan bahwa pendidikan adalah untuk seluruh lapisan masyarakat atau Education for All.

Hal ini senada dengan pendapat seorang tokoh pendidikan Brasil dan teoretikus pendidikan Paulo Freire yang menyebutkan bahwa pendidikan tidak boleh dibatasi hanya untuk golongan elite dengan mengesampingkan golongan menengah ke bawah sebagai kaum tertindas.

Upaya pemerataan pendidikan di Indonesia pertama kali secara formal diupayakan oleh pemerintah sejak 1984, dan tindak lanjut dari program pemerataan pendidikan adalah dengan dicetuskannya program wajib belajar 9 tahun pada 2 Mei 1994, serta ditetapkannya Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Proses pemerataan pendidikan tersebut merupakan bagian dari dimensi pemerataan pendidikan, yakni dimensi Equality of Access dan dimensi Equality of Survival.

Dimensi Equality of Access lebih mengacu pada perluasan kesempatan untuk memperoleh pendidikan. Sedangkan dimensi Equality of Survival yakni dengan pemberian program beasiswa. Dewasa ini program beasiswa yang diberikan untuk pendidikan dasar dikenal dengan nama BOS (Bantuan Operasional Sekolah). Program BOS pertama kali dimulai pada Juli 2005. BOS diberikan agar seluruh lapisan masyarakat dapat memperoleh pendidikan secara gratis.