alexametrics


Penampakan Serdadu Belanda Mondar-Mandir di Bawah Jembatan Kali Progo Temanggung

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID – Jembatan Kali Progo, Temanggung terkenal dengan kisah pembunuhan masal di masa Perang Kemerdekaan RI. Kabarnya, sering ada penampakan serdadu Belanda tanpa kepala mondar-mandir di bawah jembatan rel kereta api.

Hujan deras mengguyur hampir seluruh wilayah Kabupaten Temanggung pada Jumat (11/6/2021) sore. Guyuran air baru benar-benar berhenti saat layar ponsel menunjukkan angka 21.31, tepat ketika wartawan koran ini memarkirkan kendaraan di Taman Kali Progo yang ada di Dusun Projo, Kelurahan Madureso, Kecamatan Temanggung.

Lokasi taman ini benar-benar ‘strategis’ jika dilihat dari kacamata metafisik. Pasalnya, taman ini diapit dua jembatan yang menyimpan kisah kelamnya masing-masing. Sebelah utara taman terdapat Jembatan Kranggan dengan cerita pembunuhan masalnya, sedangkan di bagian selatan terdapat bekas jembatan rel kereta api dengan kisah kecelakannya yang mengerikan.

Wartawan koran ini datang sendirian, tidak ada orang sama sekali malam itu. Para pemancing yang jamak ditemui pada siang hari pun, raib tak tampak batang hidungnya. Dibantu senter ponsel, wartawan ini menyisir bagian tepi sungai menuju bawah Jembatan Kranggan, di bawahnya mengalir Sungai Progo yang muaranya langsung menuju laut pantai selatan. Arus sungai yang sangat deras membuat pergerakan terbatas, alhasil langkah wartawan ini terpaksa terhenti 3 meter di tepi sungai.

Sejenak, cerita-cerita tentang jembatan ini bermunculan di kepala si wartawan. Konon, jembatan inilah yang menjadi saksi kekejaman tentara kolonial terhadap para pejuang Temanggung pada Agresi Militer II 1949. Tentara Belanda pada saat itu secara membabi buta menangkap siapa saja, bukan hanya Tentara Keamanan Rakyat (TKR), tapi juga masyarakat sipil. Ribuan pejuang gugur di lokasi ini.

“Dari cerita kakek-kakek dulu, banyak warga yang meninggal dijembatan. Sebelum dibantai ia dibungkam, ditutup matanya dan ditembak dan jatuh ke sungai,” begitu kata Dwi Agus, warga setempat.

Di masa sekarang, jembatan ini masih sering menjadi tempat ‘buangan’. Biasanya para dukun meminta syarat bagi orang dengan tujuan seperti pesugihan, penglaris maupun ilmu tertentu agar membuang bunga, hewan.

Setelah mendoakan para pejuang yang gugur, wartawan langsung menuju jembatan di sisi yang lain. Sebuah bekas rel kereta api nampak dari kejauhan. Untuk sampai ke sana, perlu menaiki bukit bebatuan. Jalurnya licin dan curam dengan semak belukar. Setelah mendaki beberapa saat, sampai juga di atas rel kereta. Dari sini, pemandangan Sungai Progo nampak jelas.

Sama seperti saat di Jembatan Kranggan, di sini pun wartawan tidak merasakan keanehan sama sekali. Kendati demikian, merinding tentu saja dirasakan. Kondisi rel sudah karatan, beberapa bagian yang terbuat dari kayu tampak lapuk dimakan usia.

Informasi dihimpun, proyek pembangunan jalur kereta api ini digagas oleh Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij, sebuah perusahaan perkeretaapian yang berkantor di Lawang Sewu, Kota Semarang. Selesai dibangun pada 1907 oleh seorang Aannemer atau insinyur pemborong keturunan Tionghoa, Hou Cong An.

Sekitar tahun 1950 terjadi kecelakaan hebat di sini, salah satu gerbong kereta terakhir terlepas dan meluncur ke bawah lantaran tidak kuat melewati tanjakan. Kereta langsung jatuh menghantam bebatuan sungai, badan kereta yang masih terbuat dari kayu langsung hancur. Setidaknya, 50 orang meninggal dalam peristiwa tragis tersebut. Bekas roda kereta, saat ini masih bisa ditemukan di pinggiran Sungai Progo. “Di sini memang kadang-kadang ada yang dilihatin penampakan gitu-gitu mas,” kata Bu Tri, salah seorang pedagang di Taman Kali Progo.

Bu Tri lantas menceritakan berbagai penampakan yang warga sekitar alami. “Dulu ada orang lewat jalan situ, terus pas di bawah rel itu dia lihat kayak tentara Belanda bawa senjata begitu mas. Tapi tanpa kepala,” ujarnya ngeri. Bukan halnya itu, kata Bu Tri, tetangganya sesama pedagang juga seringkali diperlihatkan beberapa sosok seperti pocong, genderuwo, kuntilanak, manusia tanpa kepala, dan tentara Belanda.

Atas kumpulan cerita-cerita itulah, pedagang di Taman Kali Progo tidak ada yang berani membuka warungnya sampai malam. “Maksimal maghrib sudah saya tutup mas, lha takut jee, di sini kalau malam kan sepi. Beruntung Mas-nya kemarin tidak lihat penampakan, karena memang nggak semuanya bisa lihat to mas,” jelasnya.

Sampai saat ini, Jembatan Kranggan dan jembatan bekas rel kereta memang masih menjadi misteri. Ada yang percaya, ada juga yang sangsi.  (nan/ton)

Terbaru

Fadia Baca Semua Aduan Warga

Tempat Ibadah Harus Taat Prokes

Populer

Lainnya

Nekat Buka, Tempat Karaoke dan SPA Disegel

Penyekatan Jalan Tak Ada Relaksasi

Fadia Baca Semua Aduan Warga

Pengolahan Limbah Infeksius Belum Optimal