alexametrics


Misteri Pohon Kelor di Tikungan Gunung Brintik

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Gunung Brintik. Nama wilayah ini sudah tak asing lagi di telinga masyarakat, Semarang. Lokasinya masih satu wilayah dengan pemakaman umum Bergota. Banyak rumah yang bertetangga dengan kumpulan batu nisan. Sejumlah cerita yang bikin merinding banyak didengar di wilayah ini.

Kampung Gunung Brintik ini bisa diakses dari beberapa arah. Bisa dari Jalan Dr Sutomo, depan Polrestabes Semarang, maupun bagian belakang RSUP dr Kariadi Semarang. Atau dari Jalan Kiai Saleh, masuk pemakaman umum Bergota, sebelah selatan pasar Randusari. “Kalau siang jalan situ ya sepi. Tapi kalau sudah sampai sini (permukiman Gunung Brintik), ramai,” ungkap Wiwik saat rumahnya dikunjungi wartawan Jawa Pos Radar Semarang malam itu.

Diakuinya, permukiman warga di Gunung Brintik bisa dibilang bercampur dengan tempat pemakaman. Sebab, samping kanan kiri, belakang rumah terdapat kuburan. Namun demikian, Wiwik mengakui tidak mengetahui secara persis, awal mula warga tinggal di tempat ini. “Mungkin zaman nenek moyang, sudah ada makam ini. Saya disini sejak kecil tahun 1974, dulu masih sepi,” bebernya. Dinamakan Gunung Brintik karena di kampung tersebut terdapat makam Mbah Brintik.

Ketika malam hari, akses jalan mulai gapura menuju permukiman Gunung Brintik sangat gelap. Suasana senyap. Mulai ada penerangan setelah tikungan dengan pohon kelor di pinggirnya, searah rumah Wiwik menuju permukiman warga. “Pojok-pojok situ (pohon kelor) memang gelap. Kalau dikasih lampu, mesti lampunya mati. Sudah sering sekali dipasangi lampu. Awalnya ya bisa nyala, tapi tahu-tahu mati,” katanya.

“Di sini sepi-sepinya ya jam 12 malam ke atas. Kalau lihat gitu-gitu (makhluk halus, red) ya sudah biasa. Kalau takut ya lari,” tambahnya.

Wiwik mengakui, sepanjang lokasi mulai tikungan pohon Kelor hingga sebelah kiri rumahnya terbilang angker. Termasuk juga rumah tinggalnya. Menurut “orang pintar” rumah tersebut dahulunya adalah tempat berkumpulnya mahluk halus. “Soalnya saya pernah diweruhi (melihat), tubuh manusia ada kepalanya tapi gak ada kakinya,” ujarnya.

Kejadian aneh yang pernah dialami Wiwik dan keluarganya antara lain mendengar suara benda jatuh dari dapur tapi tak ada apa-apa, suara cekikikan atau orang menangis.

Kejadian yang tak masuk akal sering terjadi di tikungan berdirinya pohon kelor. Pengendara jatuh dengan sendirinya bersama sepeda motornya. Ini terjadi baik siang maupun malam hari.

Wartawan koran ini juga pernah mengalami hal aneh ketika melintas setelah tikungan pohon kelor. Kejadian, sudah lama, sekitar 2007. Sekitaran pukul 22.00, saat keluar dari permukiman dan melintas tikungan pohon kelor, tiba-tiba ban kendaraan bocor. “Waktu lewat sini, dalam hati berkata, kalau bannya bocor gimana. Jauh dari tukang tambal ban. Ternyata, pulang setelah belok tikungan ban depan bocor,” cerita wartawan koran ini kepada Wiwik.

“Kalau masuk sini gak boleh pikiran kaya gitu gitu. Kalau mau ke sini ngucapin Assalamualaikum, kalau gak ya ngebel (klakson). Tin.. tin.. tin gitu,” timpal Wiwik menirukan suara klakson.

Perjalanan malam, keluar dari lokasi jalan tersebut bikin bulu kuduk merinding. Sepanjang tikungan pohon kelor menuju pintu keluar Bergota suasana sangat gelap. Andaikan kendaraan tidak ada lampunya, mungkin juga sangat berbahaya. Aroma sangat wangi tercium sebelum wartawan koran ini mencapai gapura keluar. Padahal ketika masuk belum tercium aroma tersebut.

“Itu kembang Kantil, pas tengah-tengah ada pohon besar, baunya wangi. Kalau dengar-dengar yang jaga namanya Sri Tanjung, kalau laki-laki di situ rasanya adem, tapi kalau perempuan rasanya panas. Setahu saya itu,” kata Wiwik.

Ia juga mengingatkan, kepada supaya tidak punya rasa takut untuk datang ke tempat Gunung Brintik. Terpenting tidak memiliki pemikiran atau niat dan prasangka buruk.

“Kalau pas lewat ngepasi ada orang meninggal juga jangan berpikiran yang negatif. Kalau orang sini biasanya bilangnya, eh mantenne teko, lewat. Malah ndak apa-apa. Kalau setahu saya sih gitu. Jadi anak sini begitu, ya biasa saja. Jangan berpikiran yang jelek dulu. Khawatirnya nanti malah beneran kejadian,” jelasnya. (mha/ton)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer