alexametrics

Gadis Kecil Berpakaian Khas Belanda Berdiri di Halaman Gedung

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID – Belakangan, gedung PT Pertani (Persero) Cabang Pekalongan eksis di laman instagram (IG). Utamanya menghiasi feed IG kalangan muda-mudi Pekalongan. Arsitektur bangunan tersebut memang unik. Instagramable kalau kata anak muda zaman sekarang. Tetapi konon bangunan peninggalan pemerintah kolonial Belanda itu, menyimpan cerita mistis. Ingin membuktikanya, wartawan Jawa Pos Radar Semarang pun datang saat malam hari.

Jumat (9/4/2021) malam itu, kawasan Bundaran Jetayu, Pekalongan, masih cukup ramai. Masih ada beberapa lapak kaki lima buka. Meski tak sedikit yang sudah mulai berkemas-kemas. Dari bundaran, lokasi gedung PT Pertani Cabang Pekalongan hanya kurang lebih 500 meter ke arah utara. Persis bersebelahan dengan GOR Jetayu.

Usai membeli air minum kemasan di salah satu warung kelontong dekat GOR Jetayu, wartawan koran ini menuju ke gedung itu. Seorang diri. Saat itu waktu menunjukan pukul 23.02. “Hati-hati, Mas,” pesan si bapak-bapak pemilik warung.

Dia sempat bercerita. Katanya, di jalan sekitar gedung itu memang ngeri. Selain sepi saat malam, hawa di sana sudah beda. “Coba saja sampean nanti rasakan,” ucapnya.

Jalan depan gedung itu memang bukan jalan utama. Jarang dilalui. Apalagi saat malam. Malam itu, kondisinya relatif terang. Ada banyak penerangan. Tetapi remang dan sunyi. Sangat kontras dengan keramaian di bundaran.

Si bapak pemiliki warung tadi mengaku memang belum pernah mengalami langsung kejadian aneh dari gedung itu. Tetapi, kata dia, pernah tengah malam ada penjual nasi goreng keliling mampir ke warungnya dan bercerita.

“Katanya pas lewat gedung itu lihat gadis kecil berpakaian khas Belanda berdiri diam di halaman gedung. Tepatnya di bawah pohon,” jelasnya menceritakan.

Cerita itu terus terngiang di pikiran saya ketika hampir sampai di gedung itu. Gerbang gedung ini kebetulan terbuka sedikit. Karena tak ada penjaga, wartawan koran ini masuk saja.

Suasananya memang sangat sepi. Hanya ada suara serangga dan katak. Pohon yang diceritakan si pemilik warung tadi masih ada. Di bawahnya tumbuh rumput dan tanaman liar.

Saya pun duduk di selasar gedung. Menghadap pohon itu. Tak ada penerangan. Hanya ada lampu penerangan jalan. Itu sudah cukup membantu penglihatan. Saya tak bisa menangkap maksud “hawa beda” seperti yang dikatakan si pemilik warung tadi. Rasanya sama saja. Dingin. Tetapi memang benar sepi. Tak ada satu pun orang melintas.

Cerita tentang gadis kecil berpakaian belanda terus terngiang. Membuat nyaliku mulai ciut. Tetapi sampai 15 menit duduk, tak ada apa pun yang menampak.

Saya tak banyak mengeksplor tempat itu. Selain karena mulai ciut nyali, takut tiba-tiba kepergok penjaga. Akhirnya hanya bergeser melongok sisi kanan dan sisi kiri gedung. Semuanya gelap.

Saat akan kembali duduk, saya sempat melihat kaca pintu gedung ini bergetar. Malam itu angin memang bertiup agak kencang. Saya pun menghibur diri. “Angin ternyata,” kataku kemudian kembali duduk.

Kali ini tak mau menghadap ke pohon. Saya memilih menghadap layar ponsel. Belum ada dua menit sejak mulai duduk kembali, saya mendengar sesuatu. Seperti kerikil yang dilempar ke atas genting lalu menggelinding. Tetapi tak tahu di mana posisi kerikil itu jatuh.

Saya lantas mulai meninggalkan lokasi, menuju gerbang sambil menengok ke segala arah. Tidak ada orang sama sekali. Lalu beranjak pergi.

Berdasarkan informasi, gedung itu mulanya digunakan sebagai bank pada masa pemerintahan kolonial Belanda. Setelah Indonesia merdeka gedung itu baru digunakan sebagai kantor cabang PT Pertani (Persero) yang merupakan BUMN pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. (nra/zal)

 

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer