alexametrics

Atasi Bullying dengan Teknik Role Playing pada Layanan Bimbingan Kelompok

Oleh : Fendi Ermawan

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID, Pada hakikatnya aktivitas pendidikan selalu berlangsung dengan melibatkan unsur subjek atau pihak-pihak sebagai aktor penting. Subjek yang terlibat dalam proses pendidikan disebut peserta didik. Peserta didik adalah anggota masyarakat yang berusaha mengembangkan potensi diri melalui proses pendidikan (Dwi Siswoyo, 2007: 96).

Istilah peserta didik pada pendidikan formal atau sekolah jenjang dasar dan menengah dikenal dengan nama anak didik atau siswa.

Sekolah merupakan tempat khusus untuk membangun hubungan atau mengubah perilaku siswa secara menetap dalam kepribadian sebagi anggota masyarakat. Dalam hubungan sosial siswa banyak terjadi gangguan atau masalah. Salah satunya adalah tindakan kekerasan antarsiswa atau bullying.

Bullying adalah adalah penggunaan kekuasaan atau kekuatan dengan tujuan menyakiti orang atau kelompok yang lebih lemah sehingga korban merasa tertekan atau trauma serta tidak berdaya.

Dalam konteks dunia pendidikan, khususnya di tingkat SMP, istilah bullying merujuk pada perilaku agresif yang dilakukan berulang-ulang oleh seseorang atau kelompok siswa yang memiliki kekuasaan terhadap siswa atau siswi lain yang lebih lemah, dengan tujuan menyakiti orang tersebut. Kecendrungan perilaku agresif, berkaitan erat dengan afektif siswa.

Afektif merupakan aspek tingkah laku yang mencakup perasaan serta emosi dan menggambarkan suatu bentuk di luar ruang lingkup kesadaran, misalnya bakat, minat, konsep diri, dan lainnya.

Guru Bimbingan Konseling (BK) memiliki peran dan tanggung jawab dalam membantu siswa mengatasi masalah terutama perilaku bullying kepada siswa, serta membantu siswa dalam mencari jalan keluar yang tepat.

Di SMP Negeri 26 Semarang, masih dijumpai siswa yang melakukan bullying terhadap siswa lain, seperti mengejek teman karena kondisi fisiknya yang paling kecil dibandingkan yang lain.

Keadaan ini tentunya tidak dapat dibiarkan terus menerus. Dilihat dari permasalahan yang terjadi di sekolah, maka metode bermain peran atau role playing sebagai suatu penanganan terhadap perilaku bullying yang dilakukan oleh peserta didik di sekolah.

Dalam rangka menyiapkan situasi bermain peran, perlu disiapkan langkah-langkah sebagai berikut, a) guru menyiapkan situasi/dilema bermain peran. Situasi-situasi masalah yang dipilih harus menjadi “sosiodrama” yang menitikberatkan pada jenis peran, masalah dan situasi familier serta pentingnya bagi siswa. b) Sebelum pelaksanan bermain peran, siswa harus mengikuti latihan pemanasan, latihan-latihan ini diikuti oleh semua siswa baik sebagai partisipasi aktif maupun sebagai pengamat aktif. c) Guru memberikan instruksi khusus kepada peserta bermain peran setelah memberikan penjelasan pendahuluan kepada keseluruhan kelas. d) Guru memberitahukan peran-peran yang akan dimainkan serta memberikan instruksi-instruksi yang bertalian dengan masing-masing peran kepada para audience.

Dengan bermain peran sesuai langkah-langkah tersebut di atas, maka siswa dapat belajar mengenal dan mengembangkan keterampilan sosial dan fisik, mengatasi situasi dalam kondisi sedang terjadi konflik. Secara umum, siswa yang mendapatkan layanan bimbingan kelompok untuk mengatasi perilaku bullying dengan teknik bermain peran/role playing dilakukan siswa secara spontan dan dalam suasana yang riang. Bermain peran dilakukan secara berkelompok siswa akan mempunyai penilaian terhadap dirinya tentang kelebihan yang dimilikinya sehingga dapat membantu pembentukan konsep diri yang positif, pengelolaan emosi yang baik, memiliki rasa empati yang tinggi, memiliki kendali diri yang bagus, dan memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi. (ra2/ida)

Guru BK SMP Negeri 26 Semarang

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya