alexametrics


Asyiknya Belajar Materi Cermin dengan Media Papan Dart

Oleh : Rifatul Fadjriyah, S.Pd

Rekomendasi

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran IPA di Sekolah Menengah Pertama (SMP) dalam Kurikulum 2013 dikembangkan sebagai mata pelajaran integrative science atau IPA terpadu.

Konsep keterpaduan ditunjukkan oleh kompetensi inti dan kompetensi dasar yang di dalamnya sudah memadukan konsep-konsep IPA dari bidang ilmu biologi, fisika, dan ilmu pengetahuan bumi antariksa. Dimaksudkan agar pembelajaran menjadi lebih bermakna, efektif dan efisien.

Pembelajaran IPA diarahkan agar siswa menemukan dan mencoba sehingga dapat membantu siswa mendapatkan pemahaman kosep yang lebih tentang alam lingkungannya. Akan tetapi dalam pembelajaran yang berlangsung di kelas sebagian masih terfokus pada guru terlebih dalam mata pelajaran IPA.

Siswa masih sebagai objek dalam pembelajaran, siswa sering tidak menghiraukan pembelajaran yang sedang berlangsung dan cenderung bergurau dengan teman sebangkunya.

Hal ini disebabkan guru belum memberikan media yang dapat menarik perhatian siswa untuk memahami materi. Briggs (dalam Sadiman, dkk. 2010: 6) menyatakan media adalah alat yang dipergunakan untuk memberikan perangsang bagi siswa agar proses belajar bisa terjadi.

Misalnya dalam pembelajaran IPA kelas VIII bab Cahaya dan Alat Optik tentang pembentukan bayangan pada cermin terdapat konsep dan rumus yang harus dipahami oleh siswa.

Apalagi kalau sudah menjumpai rumus dan harus menghitung maka sebagian siswa akan mengatakan sulit. Berdasarkan hal tersebut guru di SMPN 1 Gemuh mencoba menggunakan media papan dart sebagai alternatif media yang digunakan dalam proses pembelajaran.

Dart merupakan permainan mengarahkan panah panah kecil (dart) ke papan bundar (dartboard). Papan dart terbagi menjadi beberapa area yang memiliki point-point berbeda. Poin tertinggi ada pada pusat atau bagian persis di tengah lingkaran.

Media ini merupakan adopsi dari permainan yang menarik dan melibatkan semua siswa aktif dan mencoba. Sebagai pelengkap dari media ini adalah beberapa panah dan kartu pertanyaan. Papan dart akan diberi angka 1 – 10 yang menentukkan jumlah poin dan nomor urut siswa untuk mengambil kartu pertanyaan.

Penerapan dalam proses pembelajaran diawali dengan pembentukan kelompok dengan anggota heterogen. Setiap kelompok dibagikan brain card dilanjutkan menentukan giliran melempar dengan cara hompimpa. Pemain dengan lemparan yang mengenai angka terbesar akan mendapat giliran pertama mendapat pertanyaan dari brain card yang diambil oleh teman sekelompoknya.

Jika pemain dapat menjawab pertanyaan yang diberikan kepadanya maka poin akan ditambahkan sebaliknya jika tidak bisa menjawab pemain tidak akan mendapatkan poin. Begitu seterusnya sampai semua pemain mendapatkan giliran.

Akan tetapi dalam penggunaannya pada pembelajaran, media papan dart ini memiliki beberapa kelebihan serta kekurangan. Kelebihannya antara lain mudah dalam penyajian, menarik rasa penasaran siswa.

Siswa bisa belajar mandiri karena materi sudah berada di dalam kartu berupa pertanyaan dan jawaban serta melatih siswa menyampaikan pendapatnya.

Selain kelebihan, media papan dart ini juga memiliki kekurangan, yaitu dibutuhkan keuletan dalam pembuatan karena harus menyiapkan beberapa pertanyaan dan jawaban juga bahan yang agak sulit didapat.

Tidak semua mata pelajaran dapat dimasukan dalam media ini dan tidak dapat digunakan di kelas awal karena memiliki anak panah yang mungkin dapat membahayakan sehingga perlu pendampingan.

Terlepas dari kelebihan dan kekurangannya, penggunaan media papan dart ini bisa dimodifikasi lebih sempurna dan lebih menarik. Sehingga dapat merangsang siswa untuk belajar lebih aktif, mempercepat tercapainya tujuan pembelajaran serta meningkatkan hasil belajar siswa. (ips1/lis)

Guru IPA SMPN 1 Gemuh

Artikel Menarik Lainnya

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya