alexametrics


Cerdas Berbahasa Daring

Oleh: Amie Rinawati, S.Pd.

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, “Iya bu ini lagi ngerjain lagi huh”, “La saya udah ngantuk”. Jawaban yang terkesan informal, kurang sopan santun, tidak memuat kata-kata seperti “maaf”, “selamat pagi”, “terima kasih” mungkin sering diterima oleh teman-teman tenaga pendidik di Whatsapp ketika mengejar siswa yang belum mengumpulkan tugas atau belum mengerjakan ujian. Tidak jarang pesan bahkan tidak dijawab sama sekali. Bukan bermaksud gila hormat dengan berharap akan pesan yang sopan dari siswa, tetapi jika etika dalam berkomunikasi dalam jaringan (daring) tidak dimiliki oleh siswa kita, mungkin akan berlanjut hingga jenjang pendidikan berikutnya, hingga mungkin dewasa ketika bekerja.

Kita mungkin mengira berkomunikasi daring adalah hal yang mudah. Tetapi ternyata sebuah studi oleh Ivanic dkk (2009, hal. 34) yang melihat berbagai macam praktik menulis dan membaca yang dilakukan oleh siswa di luar tugas kelas, mereka menunjukkan bahwa praktik literasi membaca dan menulis pesan tertulis merupakan suatu hal yang kompleks dan memerlukan penguasaan teknologi yang mumpuni dan sensitivitas terhadap keperluan audiens yang dikirimi pesan.

Belajar daring yang dilakukan pada masa pandemi membuat semua orang, termasuk guru dan siswa, berinteraksi secara daring. Penggunaan internet oleh siswa di masa pandemi ini mungkin juga lebih tinggi dibandingkan masa sebelum pandemi. Ketika guru tidak bisa menjelaskan secara rutin layaknya di kelas luar jaringan (luring) dan ketika orang tua di rumah tidak bisa membantu menyelesaikan tugas, banyak murid mencari jawaban di internet. Interaksi di internet yang lebih besar ini bukan tanpa dampak. Interaksi di dunia maya, salah satunya dalam media sosial dan aplikasi percakapan seperti Whatsapp sering dianggap sebagai media yang informal. Maka, bukan tidak mungkin menggunakan bahasa yang informal ini dianggap biasa.

Terlebih, karena adanya pembatasan sosial yang membuat kita lebih banyak berada di dalam rumah daripada sebelumnya, membuat siswa lebih banyak di rumah dan tidak banyak berinteraksi dengan orang luar. Padahal berinteraksi dengan berbagai macam orang di luar sana bisa menjadi sarana belajar komunikasi sosial karena kita menghadapi berbagai macam jenis orang. Bayangkan saja, jika masuk sekolah, mungkin kita bisa mengetahui berbagai macam karakter guru, dan menentukan bagaimana harus berkomunikasi. Namun, di masa pandemi ini, siswa baru bahkan belum pernah bertemu gurunya sama sekali, sehingga kemampuan membaca siapa audiens yang diajak berinteraksi berkurang. Interaksi hanya terbatas melalui Whatsapp atau Google Classroom yang membuat kemampuan membaca audiens siswa hanya sebatas tulisan di layar yang mungkin membuat sulit untuk menganalisis seperti apa lawan bicara mereka.

Pelajaran Bahasa Indonesia tentu diharapkan memiliki peran untuk mengajarkan berbahasa. Konteks pandemi ini mengajarkan kita semua, terutama para pengajar Bahasa Indonesia untuk sensitif terhadap perubahan kondisi siswa yang membuat mereka kurang mampu berbahasa. Untuk itu, kita pengajar perlu membantu mereka untuk cerdas berbahasa daring dengan mungkin menyelipkan dalam berbagai kurikulum yang sudah ada: bagaimana menulis pesan WA yang sopan dan sesuai audiens, menulis email yang baik dan benar, dalam kondisi apa kata “maaf” atau “maaf mengganggu” digunakan, kapan harus menghubungi lawan bicara, dll. Hal ini penting untuk menyiapkan siswa di masa mendatang di mana dunia tentu akan semakin bergerak ke ranah daring. Universitas top di Asia sekelas National University of Singapore (NUS) bahkan membuat mata kuliah wajib tersendiri yang mengajarkan siswa menulis email, menulis laporan, dan menulis notulensi (lihat: https://fass.nus.edu.sg/writing-expression-and-communication-wec-modules/). Hal ini menunjukkan bahwa hal sederhana yang selama ini mungkin tidak kita pikirkan sebelumnya, memang perlu diajarkan kepada siswa. (bs1/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP N 9 Salatiga.

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer