alexametrics


Memahami Kisah Nabi Yunus. a.s. Lebih Mudah dengan Bermain Peran

Oleh : Tuslani, S.Ag

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Keterlibatan peserta didik selama proses belajar mengajar berlangsung adalah salah satu motivasi belajar yang dapat menciptakan keterkaitan untuk memahami suatu materi pelajaran. Terlebih jika metode yang digunakan mendukung sepenuhnya. Kecenderungan memberikan tugas untuk membaca buku pelajaran, mengamati gambar, ternyata sangat membosankan. Tidak mudah mencermati hal baru tanpa ada cara yang tepat.

Anak didik merasa kesulitan memahami materi Pendidikan Agama Islam di tingkat sekolah dasar terutama yang berhubungan dengan proses suatu peristiwa atau masalah actual. Karena metode ceramah yang digunakan oleh guru belum sepenuhnya dapat memberikan pemahaman pada materi yang dibahas, hanya dengan mendengarkan. Ternyata cara inipun kurang efektif dan belum memiliki tingkat relevansi dengan tujuan, materi, karakteristik siswa dan yang tidak kalah pentingnya adalah inovatif. Metode yang belum sepenuhnya melibatkan siswa berperan aktif, pembelajaran yang dilaksanakan masih belum maksimal berdampak pada hasil belajar yang minimum, terlebih pada materi kisah Nabi Yunus a.s.

Dari kondisi yang seperti ini menuntut tenaga pendidik untuk menerapkan metode yang tepat, mudah diikuti. Pemahaman materi juga lebih mudah seperti metode bermain peran. Bermain peran adalah sejenis permainan gerak yang di dalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (JillHdfield :1986). Dalam bermain peran murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas. Selain itu, bermain peran sering kali dimaksudkan sebagai suatau bentuk aktivitas di mana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peristiwa orang lain (Basri syamsu : 2000). Metode pembelajaran bermain peran ini adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pembelajaran melalaui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang yang mempunyai peran masing-masing.

Tujuan dari penggunaan metode bermain peran ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar peserta didik. Metode inipun sangat mendukung materi belajar Pendidikan Agama Islam tentang Kisah Nabi Yunus a.s., karena sesuai dengan target dan harapan yaitu berupa pengembangan berbagai potensi seperti kognitif, afektif, dan psikomotorik.

Langkah-langkah yang dilakukan adalah: Pertama, guru menyiapkan skenario yang akan ditampilkan. Kedua, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario dalam waktu beberapa hari sebelum pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Ketiga, guru membentuk kelompok siswa yang anggotanya terdiri dari empat sampai lima orang, kemudian memberikan penjelasan kompetensi yang ingin dicapai. Selanjutnya dengan bimbingan pendidik, skenario yang telah direncanakan sebelumnya akan diperankan dalam materi Kisah Nabi Yunus a.s.

Mungkin satu, dua anak masih kesulitan memerankan tokoh tertentu. Hal ini disebabkan pada kondisi awal yang cenderung malu-malu untuk bermain peran. Namun setelah alur cerita mulai tersambung dengan pemeran yang lain ternyata cara ini dapat menimbulkan kesan yang luar biasa pada masing-masing siswa. Para murid seolah-olah berada pada zaman tertentu, dan dapat mengerti kisah Nabi Yunus a.s. secara langsung. Dari sinilah semangat belajar siswa menjadi lebih tergugah, menimbulkan rasa ingin tahu, lebih meningkatkan hasil belajar baik pengetahuan, maupun tindakan, sehingga tujuan pembelajaran Pendidikan Agama Islam tentang kisah Nabi Yunus a.s. dapat tercapai dengan baik. (pg1/ton)

Guru PAI SDN 03 Mendelem Kec. Belik Kab. Pemalang.

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer