Meningkatkan Keterampilan Menulis Cerita melalui Model Pembelajaran Inovatif TTW

221
Oleh : Devi Andriyani, S.Pd
Oleh : Devi Andriyani, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, Kita semua menyadari bahwa bahasa itu penting dalam kehidupan. Dengan bahasa, kita dapat menyampaikan keinginan, pendapat, dan perasaan kita. Dengan bahasa pula kita dapat memahami dan mengetahui apa yang terjadi di dunia dan lingkungan sekitar kita. Anak-anak telah belajar bahasa dan menguasai bahasa lisan dengan baik jauh sebelum mereka sekolah.
Layaknya sebuah proses membangun gedung, anak-anak secara terus-menerus membangun makna baru (pengetahuan, sikap dan keterampilan) berdasarkan apa yang telah mereka kuasai sebelumnya. Pengetahuan dibangun siswa melalui keterlibatan mereka secara aktif dalam belajar. Keberhasilan pembelajaran tidak terletak pada seberapa banyak materi atau informasi yang disampaikan guru kepada siswa. Karena belum tentu yang guru sampaikan, mereka perhatikan dan pelajari dengan baik. Keberhasilan pembelajaran terletak pada seberapa jauh guru dapat melibatkan siswa secara aktif dalam belajar.

Salah satu upaya untuk meningkatkan keterampilan siswa dalam menulis cerita yaitu dengan menggunakan pembelajaran yang bisa memfasilitasi siswa, membangun pengetahuannya sendiri dalam rangka proses perubahan perilaku ke arah yang lebih baik sesuai potensi dan perbedaan yang dimiliki siswa. Dalam melaksanakan proses belajar mengajar diperlukan langkah-langkah sistematis sehingga mencapai tujuan yang telah ditentukan.

Metode yang digunakan juga harus cocok dengan koneksi siswa agar siswa dapat berpikir kritis, logis dan dapat memecahkan masalah dengan sikap terbuka, kreatif, dan inovatif. Salah satu model pembelajaran yang penulis gunakan untuk meningkatkan keterampilan menulis cerita pada siswa kelas VI SDN Padomasan 01 Kecamatan Reban, Kabupaten Batang adalah model pembelajaran inovatif Think Talk Write (TTW).

Dalam jurnal Kuswari (2013) TTW merupakan model pembelajaran yang dikembangkan oleh Huinker dan Laughlin. Model pembelajaran TTW didasarkan pada pemahaman bahwa belajar adalah sebuah perilaku sosial. Dalam model pembelajaran ini, peserta didik didorong untuk berpikir, berbicara, dan kemudian menuliskan berkenaan dengan suatu topik. Metode ini merupakan metode yang dapat melatih kemampuan berpikir dan berbicara peserta didik. Think Talk Write adalah sebuah pembelajaran yang dimulai dengan berpikir melalui bahan bacaan (menyimak, mengkritisi, dan alternatif solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi, dan kemudian membuat laporan hasil presentasi. Sintaknya adalah informasi, kelompok (membaca-mencatat-menandai), presentasi, diskusi, melaporkan. Alur strategi TTW di mulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan membagi ide (sharing) dengan temannya sebelum menulis. Suasana seperti ini lebih efektif jika dilakukan dalam kelompok heterogen dengan 3-5 siswa. Dalam kelompok ini siswa diminta untuk membaca, membuat catatan kecil, menjelaskan, mendengar dan membagi ide bersama teman kemudian mengungkapkannya melalui tulisan.

Model pembelajaran berbasis TTW dapat membantu siswa dalam mengonstruksi pengetahuannya sendiri sehingga pemahaman konsep siswa menjadi lebih baik. Siswa dapat mengomunikasikan atau bertukar pikiran dengan temannya sehingga mudah memahami materi yang diajarkan. Dan yang paling penting tujuan dari model pembelajaran ini yakni, agar proses dan hasil belajar mengajar lebih berdaya guna, berhasil guna dan menimbulkan kesadaran anak didik dalam belajar. (pai1/lis)

Guru SDN Padomasan 01, Kecamatan Reban, Kabupaten Batang