Pembelajaran IPA Asyik dengan Make a Match

226
Oleh: Hartati, S.Pd., M.Pd.
Oleh: Hartati, S.Pd., M.Pd.

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan adalah usaha sadar untuk menumbuh kembangkan potensi sumber daya manusia siswa dengan cara mendorong dan memfasilitasi kegiatan belajar mereka . Sehingga pendidikan merupakan proses belajar siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan maupun ilmu keagamaan agar berguna bagi diri sendiri dan bagi masyarakat maupun bekal masa hidupnya kelak. Dengan pendidikan memudahkan untuk kebutuhan berinteraksi dan dapat mewujudkan cita –cita anak bangsa yang diinginkan.

Tujuan pendidikan adalah menyediakan lingkungan yang memungkinkan anak didik untuk mengembangkan bakat dan kemampuannya secara optimal sehingga dapat mewujudkan dirinya dan berfungsi sepenuhnya yang sesuai dengan kebutuhan pribadinya serta kebutuhan masyarakatnya.

Keberhasilan proses pembelajaran sebagai proses pendidikan di suatu sekolah dipengaruhi oleh banyak faktor – faktor yang dimaksud misalnya guru, siswa, kurikulum, lingkungan sosial dan lain –lain. Namun dari faktor – faktor itu guru dan siswa menjadi faktor terpenting. Pendidikan merupakan serangkaian peristiwa yang kompleks yang melibatkan beberapa komponen antara lain tujuan,peserta didik ,pendidik, isi/bahan ,cara/metode dan situasi /lingkungan.Hubungan ke enam faktor tersebut berkaitan satu sama lain dan saling berhubungan dalam suatu aktifitas satu pendidikan (Dwiningsih, 2016).

Kondisi awal siswa – siswi kelas V SDN Pendrikan Lor 01 Semarang siswa beranggapan bahwa pelajaran tematik adalah pelajaran yang sangat sulit, membingungkan, tidak menarik dan sulit dipahami, sehingga berakibat fatal sebab setiap belajar IPA mereka cenderung pasif, kurang biasa menangkap isi pelajaran dan kurang semangat yang akhirnya hasil belajarpun rendah. Karena itulah diperlukan perbaikan pembelajaran melalui tindakan kelas. Penulis menerapkan model pembelajaran make a match.

Menurut Wahab (2007:59) model pembelajaran make a match adalah sistem pembelajaran yang mengutamakan penanaman kemampuan sosial terutama kemampuan dalam bekerja sama dan kemampuan berinteraksi disamping kemampuan berpikir cepat melalui permainan mencari pasangan dengan dibantu kartu. Adapun langkah – langkah model pembelajaran make a match adalah guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep berupa kartu soal dan kartu jawaban untuk dibagikan kepada setiap siswa.

Selanjutnya siswa memikirkan pasangan kartu yang dipegang dilanjutkan mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartunya. Model pembelajaran make a match pada kompetensi dasar ini sangat menarik karena siswa aktif dan saling berinteraksi dalam mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartu yang dimiliki.

Ketika semangat belajar meningkat maka hasil belajarnya juga akan meningkat. Dari keadaan awal ketika pembelajaran belum menerapkan model make a match ketuntasan aspek pengetahuan siswa pada materi ini 18% dan setelah menerapkan ketuntasan menjadi 55% pada siklus 1 dan siklus 2 mencapai 95% adapun ketuntasan aspek keterampilan pada materi ini sebelum menerapkan model make a match sebesar 44% dan setelah menerapkan ketuntasannya menjadi 86% pada siklus 1 dan 2 mencapai 100%.

Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa model make a match dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada pelajaran IPA. Make match juga bisa menjadi motivasi belajar bagi siswa karena dengan melakukan aktivitas mencari pasangan kartu yang cocok dengan kartu yang dipegang membuat siswa sangat aktif dan senang dalam proses pembelajaran. Sehingga bisa meningkatkan hasil belajar siswa sesuai dengan tujuan yang diharapkan. (gm2/aro)

Guru SDN Pendrikan Lor 01 Semarang