Pemanfaatan Film Animasi dalam Pembelajaran Writing

849
Oleh; Anita Fikayanti, S.Pd
Oleh; Anita Fikayanti, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN Bahasa Inggris tidak akan terlepas dari empat ketrampilan berbahasa yaitu menulis (writing), membaca (reading), menyimak (listening) dan berbicara (speaking). Masing-masing aspek mendapatkan porsi yang seimbang dan dilaksanakan secara terpadu untuk mengembangkan kecakapan hidup dalam arti luas. Dalam aspek menulis, ketrampilan menulis tidak datang secara otomatis, melainkan harus melalui latihan dan praktik yang banyak dan teratur.

Dalam bukunya Quantum Learning, DePorter dan Hernacki (2000) mengungkapkan bahwa media visual atau alat peraga dapat menciptakan lingkungan yang optimal, baik secara fisik maupun mental. Dan film animasi merupakan salah satu media audio visual yang dapat digunakan dalam pembelajaran writing. Dengan media film animasi, diharapkan pembelajaran yang tadinya dianggap sulit menjadi mudah dan sesuatu yang rumit menjadi sederhana. Dengan media ini, juga diharapkan dapat menumbuhkan dan mengembangkan minat, keaktifan dan motivasi belajar karena pada dasarnya, media adalah perangsang belajar sehingga dapat menumbuhkan motivasi belajar . Dengan demikian, tidak merasa bosan dalam meraih tujuan belajar meskipun pada materi yang dianggap susah.

Ada beberapa langkah pembelajaran writing dengan memanfaatkan media film animasi yang diintegrasikan dengan materi teks deskriptif di SMPN 2 Kesesi, Kabupaten Pekalongan; pertama adalah pembentukan kelompok. Peserta didik dibagi menjadi beberapa kelompok kecil menyesuaikan jumlah peserta didik dalam satu kelas. Langkah berikutnya adalah mendampingi peserta didik dalam mempelajari dan menganalisa teks deskritif. Memberikan penjelasan tentang fungsi sosial, tujuan, struktur teks dan ciri-ciri kebahasaan dari teks deskriptif. Mendorong peserta didik untuk berlatih mendiskripsikan orang-orang disekitar dengan menyusun kalimat pendek dan sederhana. Mulai dari ciri-ciri fisik, karakter, hobi, kebiasaan dan lain-lain. Latihan menyusun kalimat pendek dan sederhana ini bisa dimulai dengan meminta mereka untuk mendiskripkan orang terdekat atau anggota keluarga, teman, artis terkenal, tokoh-tokoh terkenal dengan media gambar atau foto.

Setelah mereka memiliki konsep dasar bagaimana cara mendiskripkan orang, maka langkah selanjutnya adalah mengembangkan kemampuan mereka dengan memanfaatkan media film animasi. Peserta didik dapat memanfaatkan internet untuk browsing film animasi terutama di You Tube sesuai dengan kesepakatan kelompok masing-masing. Akan lebih membantu lagi kalau peserta didik memilih film animasi dengan subtitle Bahasa Inggris. Sehingga ketrampilan listening dan speaking mereka akan lebih terasah dalam proses ini. Subtitle film animasi akan membantu mereka memeperkaya kosakata dan dialog dalam film tersebut secara tidak langsung akan membantu meningkatkan kemampuan pronunciation (pelafalan).

Berikutnya peserta didik menganalisa dan mengidentifikasi karakter atau tokoh dalam cerita. Dalam menganalisa dan mengidentifikasi karakter, akan lebih baik apabila peserta didik menonton film animasi tidak hanya satu kali tapi berulang-ulang. Hal ini dilakukan agar peserta didik bisa meningkatkan intuisi mereka dalam mendiskripsikan tokoh dalam film animasi. Tugas pengajar dalam tahap ini adalah mendampingi peserta didik dalam menyusun kalimat yang digunakan dalam mendiskripkan karakter-karakter dalam film animasi.
Yang terakhir adalah presentasi hasil kelompok. Secara bergilir, masing-masing kelompok mempresentasikan hasil diskusi mereka dan kelompok yang lain menanggapinya. Tahap yang tak kalah penting dalam proses ini adalah memberikan apresiasi terhadap hasil kerja keras mereka.

Jadi penggunaan media terutama film animasi dalam pembelajaran writing yang diintegrasikan dengan materi teks deskriptif, akan membuat peserta didik lebih bisa menggunakan daya imajinasi dalam mengembangkan kompetensi writing mereka. Adapun manfaat yang dapat diraih dengan menggunakan media antara lain adalah meningkatkan motivasi siswa, mengembangkan minat dan keaktifan, mencegah kebosanan dalam mengikuti suatu proses belajar mengajar, menjadikan proses belajar mengajar berjalan lebih sistematis. (dj2/zal)

Guru Bahasa Inggris SMPN 2 Kesesi, Kabupaten Pekalongan

Tinggalkan Balasan