Pembentukan Karakter Siswa melalui Kecerdasan Emosional

264
Oleh : Anggraeni Widiastuti, S.Psi, M.Si
Oleh : Anggraeni Widiastuti, S.Psi, M.Si

RADARSEMARANG.ID, Mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya, adalah bagian dari tujuan pendidikan. Untuk mencapai tujuan tersebut, sudah pasti tidak semudah yang dibayangkan. Pendidikan sendiri mempunyai arti sebagai suatu usaha yang sadar dan sistematis dalam mengembangkan potensi peserta didik. Sedangkan karakter adalah watak, tabiat, akhlak, atau kepribadian seseorang yang terbentuk dari hasil internalisasi berbagai kebajikan (virtues) yang diyakini dan digunakan sebagai landasan untuk cara pandang, berpikir, dan bersikap.

Cepi Triatna (2008:37) menyatakan, pendidikan karakter adalah pendidikan emosi atau pendidikan budi pekerti plus, yaitu pendidikan yang melibatkan aspek pengetahuan (cognitive), perasaan (feeling), dan tindakan (action). Tanpa ketiga aspek ini, maka pendidikan karakter tidak akan efektif, dan pelaksanaannya pun harus dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan. Dengan pendidikan karakter, emosi peserta didik akan menjadi cerdas, karena tujuan dari pendidikan karakter adalah: pertama, mengembangkan potensi kalbu/nurani/afektif peserta didik sebagai manusia dan warganegara yang memiliki nilai-nilai budaya serta karakter bangsa. Kedua, mengembangkan kebiasaan dan perilaku peserta didik yang terpuji dan sejalan dengan nilai-nilai universal dan tradisi budaya bangsa yang religius. Ketiga, menanamkan jiwa kepemimpinan dan tanggung jawab peserta didik sebagai generasi penerus bangsa. Keempat, mengembangkan kemampuan peserta didik menjadi manusia yang mandiri, kreatif, berwawasan kebangsaan. Kelima, mengembangkan lingkungan kehidupan sekolah sebagai lingkungan belajar yang aman, jujur, penuh kreativitas dan persahabatan, serta dengan rasa kebangsaan yang tinggi dan penuh kekuatan (dignity). Kecerdasan emosi adalah bekal terpenting dalam mempersiapkan peserta didik menyongsong masa depan yang penuh dengan tantangan. Menurut Bar-On (Goleman:2000: 180), mendefinisikan kecerdasan emosional sebagai serangkaian kemampuan pribadi, emosi, dan sosial yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk berhasil dalam mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan.

Sedangkan Goleman (2002:512), memandang kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang mengatur kehidupan emosinya dengan inteligensi (to manage our emotional life with intellegence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati, dan keterampilan sosial. Dari definisi tersebut tersirat adanya faktor kecerdasan emosional yang terdiri dari lima kemampuan utama, yaitu: pertama, mengenali emosi diri. Kedua, mengelola emosi. Ketiga, memotivasi diri sendiri. Keempat, mengenali emosi orang lain dan kelima, membina hubungan.
Sehingga itu, peserta didik yang memiliki tingkat kecerdasan emosional yang lebih baik, cenderung dapat menjadi lebih terampil dalam menenangkan dirinya dengan cepat, lebih terampil dalam memusatkan perhatian. Lebih baik dalam berhubungan dengan orang lain. Lebih cakap dalam memahami orang lain, dan untuk kerja akademis di sekolah lebih baik.

Peserta didik yang mempunyai masalah dalam kecerdasan emosional, akan mengalami kesulitan belajar, bergaul, dan tidak dapat mengontrol emosinya, sehingga jauh dari nilai-nilai yang diharapkan dalam pendidikan. Sebaliknya peserta didik yang memiliki kecerdasan emosional akan membentuk peserta didik yang berkarakter sesuai dengan nilai-nilai pada pendidikan berkarakter.

Nilai-nilai yang dikembangkan dalam pendidikan karakter adalah religius, jujur, toleransi, disiplin, kerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, bersahabat/komuniktif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial dan tanggung jawab.
Oleh karena itu, agar nilai-nilai dalam pendidikan karakter tersebut dapat dicapai, maka sekolah bekerja sama dengan semua elemen masyarakat terutama keluarga bersama-sama mengembangkan kecerdasan emosional peserta didik. Sebab dengan mengembangkan kecerdasan emosional, maka akan membentuk peserta didik yang berkarakter sebagaimana yang diharapkan. (ips1/lis)

Guru BK SMAN 2 Batang
















Tinggalkan Balasan