Pembelajaran Berbasis Permasalahan Sosial Tingkatkan Kemampuan Berpikir Analitis

168
Oleh : Risdiyanto, S.Pd
Oleh : Risdiyanto, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, Perkembangan zaman khususnya perkembangan IT membawa dampak besar terhadap kehidupan sosial masyakarat. Seringkali kita mendengar begitu banyak kasus kriminalitas, pemerkosaan, bullying, kemiskinan dan kesenjangan sosial, kejahatan cyber. John Dewey (Miller, 2004) yang merupakan seorang filsuf dan pendidik, menjelaskan bahwa masalah adalah stimulus untuk berpikir. Sejalan dengan keinginan penulis bahwa banyaknya permasalahan sosial saat ini akan dijadikan stimulus untuk mengembangkan kemampuan berpikir analitis siswa. Sebab dari beberapa pengamatan yang dilakukan pada siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kesesi, penulis menemukan beberapa indikator mengenai rendahnya siswa dalam berpikir analitis, terlihat siswa masih pasif dalam proses pembelajaran.

Siswa dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi untuk memecahkan masalah yang berkaitan dengan isu lokal dan global melalui kegiatan pembelajaran salah satunya yaitu kemampuan berpikir analitis (Osman, Hiong & Vebrianto, 2013). Kemampuan berpikir analitis meliputi keterampilan siswa dalam menerapkan pemikiran logis untuk mengumpulkan dan menganalisis informasi, merancang dan menguji solusi untuk masalah, dan merumuskan rencana (Arnold & Wade, 2015).

Dalam meningkatkan kemampuan analitis tersebut penulis menerapkan pembelajaran problem based learning (PBL). Metode pengajaran ini bercirikan adanya permasalahan nyata sebagai konteks untuk para peserta didik belajar berpikir kritis dan keterampilan memecahkan masalah, dan memperoleh pengetahuan (Duch,1995). Dalam Pembelajaran yang berbasis pada permasalahan sosial ini, penulis melakukan beberapa tahapan yaitu : Pertama, mengorientasi peserta didik terhadap materi permasalahan sosial dengan membagikan berbagai sub materi diantaranya kemiskinan, kriminalitas, kesenjangan sosial dan perkembangan masyarakat multikultural; Kedua, mengorganisasikan peserta didik bahwa setiap siswa dalam kelompok sudah memiliki peran; Ketiga, membimbing dan memantau keterlibatan siswa dalam mencari data informasi untuk didiskusikan, siswa ditekankan untuk mencari informasi menggunakan rumus 5W 1H; Keempat, peserta didik mengembangkan permasalahan yang diberikan dan menyajikan hasil karya dalam makalah dan power point; Kelima, setiap kelompok melakukan presentasi, kelompok yang lain memberikan apresiasi. Kegiatan dilanjutkan dengan merangkum/membuat kesimpulan sesuai dengan masukan yang diperoleh dari kelompok lain.

Selesai pembelajaran, guru memberikan penguatan, Dengan demikian peserta didik memiliki konsep yang bulat tentang bagaimana mengentaskan kemiskinan, mengatasi kesenjangan sosial, menurunkan angka kriminalitas dan menyikapi perkembangan multikulutral dalam kehidupan sosial.

Setelah metode ini dilakukan, siswa kelas XI pada materi masalah sosial menunjukkan perubahan yang signifikan, antuasiasme pada materi dan aktif untuk mempelajari materi, siswa mampu mengurutkan serta berhasil menemukan konsep penyelesaian dalam menangani berbagai permasalahan sosial. Hal ini menunjukkan bahwa dengan model problem based learning pada materi permasalahan sosial untuk siswa kelas XI SMA Negeri 1 Kesesi sukses dilaksanakan. (dar1/ton)

Guru Sosiologi SMA Negeri 1 Kesesi Kab. Pekalongan





Tinggalkan Balasan