Belajar IPA Sistem Blended Learning Pasca Pandemi Covid-19

900
Oleh: Wiwi Mulyaningsih, S.Pd.
Oleh: Wiwi Mulyaningsih, S.Pd.

RADARSEMARANG.ID, SEIRING dengan berjalannya waktu kebutuhan manusia semakin berkembang dan bertambah. Penemuan penemuan teknologi baru menjadi salah satu faktor penunjang bertambahnya kebutuhan baru dalam segala bidang pada bidang pendidikan. Inovasi-inovasi baru lahir seiring dengan berkembangnya teknologi dan kebutuhan guru dan kebutuhanan siswa. Hidup di zaman yang katanya zamannya generasi Z di mana generasi ini terbiasa mendapatkan informasi beragam dalam waktu yang sangat singkat hanya dengan pencet tombol ini maka lihat apa yang akan terjadi. (musyarofah, 2014)

Mobilitas manusia yang semakin padat dan lahirnya teknologi teknologi baru menjadi latar belakang lahirnya model dan pembelajaran blended learning sebagai inovasi baru dalam menjawab tantangan zaman pasca pandemi Covid 19.

Di mana semua aktivitas kegiatan pembelajaran harus tetap berlangsung walaupun siswa SMP Negeri 1 Sragi, Kabupaten Pekalongan kelas 7 sampai kelas 9 tanpa harus masuk kegiatan belajar bersama di dalam ruang kelasnya masing-masing. Semua itu tidak memungkinkan, karena semua di Lockdown tidak boleh ada kumpulan atau gerombolan dalam jumlah banyak orangnya. Harus physical distancing (dibatasi geraknya) dan harus pakai masker menjaga kebersihan badan dan juga semua lingkungan sekitar.

Secara spesifik dalam jurnal yang berjudul pengaruh blended learning terhadap motivasi belajar dan hasil belajar siswa, Profesor Sevelamer menyarankan enam tahapan dalam merancang dan menyelenggarakan blended learning agar hasilnya optimal, di antaranya: pertama, menetapkan macam dan materi bahan ajar. Kedua, menetapkan rancangan blended learning yang digunakan. Ketiga, tetapkan format online learning. Keempat, lakukan uji terhadap Belanda rancangan yang dibuat. Kelima, selenggarakan blended learning dengan baik. Keenam, siapkan kriteria evaluasi pelaksanaan blended learning (Sjukur, 2012).

Di sini langkah-langkah dari model blended learning yang penulis terapkan semuanya terjadwal disesuaikan dengan jurnal pembelajaran Walaupun semua pembelajaran via daring online.

Tahap pertama, menetapkan macam materi bahan ajar yang relevanditerapkan pada pembelajaran jarak jauh (PJJ) dilakukan secara online atau web based learning. Tahap kedua, menetapkan rancangan dari blended learning dari rancangan pembelajaran yang baik dan jelas sehingga benar-benar relevan dan memudahkan pembelajaran siswa karena dilakukan secara online.
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam rancangan pembelajaran blended learning adalah: pertama, bagaimana bahan ajar tersebut disajikan. Kedua, bahan ajar apa yang bersifat wajib dipelajari dan mana yang bersifat anjuran guna memperkaya pengetahuan. Ketiga, bagaimana siswa bisa mengakses dua komponen pembelajaran tersebut. Keempat, faktor pendukung apa yang diperlukan misalnya software, tetapi yang ini juga bagi saya tidak diperlukan.

Tahap ketiga, catatan formal online learning bahan ajar nya bisa menggunakan buku tugas di foto lewat kirim WA, diketik bentuk word atau PDF, video atau rekaman siaran radio pembelajaran IPA dalam bentuk file kemudian dikirim lewat grup belajar siswa via WA. Tahap keempat, melakukan uji terhadap rancangan yang di dibuat untuk mempermudah pembelajarannya.
Tahap kelima, menyelenggarakan blended learning dengan baik, karena sebelumnya sudah disosialisasikan guru. Mulai dari pengenalan tugas secara aktif bahan ajar materi yang sesuai.

Tahap keenam, menyiapkan kriteria untuk melakukan evaluasi contoh evaluasi yang dilakukan yaitu: ease to navigate. Seberapa mudah siswa bisa mengakses semua informasi yang disediakan di perangkat pembelajaran kriteria nya, semakin mudah melakukan akses makin baik. Content/ subtanse, bagaimana kualitas isi dipakai. Di sini kriterianya makin mendekati isi bahan ajar dengan tujuan pembelajaran adalah makin baik. Interest, dalam artian paket pembelajarannya mampu menimbulkan daya tarik siswa untuk belajar, kriteria nya makin baik. Aplikacability, berapa jauh paket pembelajaran yang bisa dipraktikkan secara mudah kriteria nya makin baik. Cost-effectiveness/ value, seberapa murah biaya yang dikeluarkan untuk mengikuti paket pembelajaran tersebut, semakin murah kriteria nya semakin baik. (dar1/aro)

Guru IPA SMP Negeri 1 Sragi, Kabupaten Pekalongan

Tinggalkan Balasan