Berhitung mnjadi Mudah dengan Bermain Dakon

228
Oleh: Sujadmianah, S. Pd.
Oleh: Sujadmianah, S. Pd.

RADARSEMARANG.ID, Menurut Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 58 Tahun 2009, PAUD adalah suatu upaya pembinaan yang ditujukan kepada anak sejak lahir sampai dengan usia 6 tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut. Berhitung merupakan salah satu bagian penting dalam kehidupan sehari-hari. Ruseffendi (dalam Septiani, 2012) menyatakan bahwa berhitung itu penting untuk kehidupan praktis sehari-hari.

Tanpa menggunakan metode pembelajaran yang tepat, para guru sudah mengajarkan berhitung pada taraf yang belum dimengerti anak. Anak yang belum memahami konsep bilangan sudah dipaksa untuk menghitung penjumlahan. Akhirnya anak-anak akan masuk pada tahap kebingungan dan anak tidak dapat menghitung dengan benar sebab konsep bilangan belum mereka kuasai. Guru bukan menitikberatkan pembelajaran pada proses yang terjadi namun mereka lebih melihat pada hasil.

Sebenarnya berhitung dapat diajarkan pada anak-anak dengan cara yang sangat mereka sukai, yaitu bermain. Pada usia dini, bermain merupakan dunia mereka. Dalam bermain mereka mengembangkan seluruh aspek dalam dirinya. Namun kita juga harus memberikan permainan yang sesuai dengan tahapan usia mereka, tidak terlalu sulit namun juga tidak terlalu mudah.

Dalam pendidikan anak usia dini (PAUD) di TK. Roudlotul Muttaqin Cepokomulyo, Gemuh, Kendal semua dilakukan dengan cara bermain. Anak-anak akan mengenal segala sesuatu yang ada di sekelilingnya dengan cara bermain. Permainan bisa membantu anak cara berhitung karena pada konsep berhitung tidak hanya harus bisa menghitung 1 sampai dengan 10, tapi juga harus bisa membedakan mana yang lebih besar dari yang lain.

Permainan yang bisa dilakukan adalah permainan tradisional maupun modern. Jika suka bermain dengan komputer atau gadget terbaru, maka ini mendorong anak untuk lebih individualistis, tidak tahu bagaimana berbagi dan bersosialisasi. Pada permainan tradisional banyak hal yang bisa dikembangkan dan dieksplorasi. Salah satu contoh permainan tradisional yang dapat digunakan untuk mengajarkan berhitung adalah permainan dakon.

Permainan yang melibatkan dua orang ini mengajarkan anak untuk bersikap sportif karena permainan ini bersifat kompetitif. Kegiatan pembelajaran yang bersifat konseptual, hanya mengerjakan apa yang sudah tersedia pada lembar kegiatan anak (LKA) menyebabkan anak kurang mampu mengeksplor kemampuan mereka dan apa yang dilihat hanya pada hasil pengerjaan bukan pada proses pengerjaan. Dengan permasalahan di atas secara tidak langsung guru mempunyai andil, karena guru kurang kreatif dan inovatif dalam mengajar. Guru kurang mampu memanfaatkan media pembelajaran terlebih lagi yang berhubungan dengan bermain dan permainan.

Kesimpulan dari beberapa teori di atas adalah bahwa anak merupakan aset bangsa yang sangat berharga, sebab ditangan mereka kelak letak masa depan negara ini. Namun sungguh disayangkan, di masa modern ini anak penuh dijejali dengan beban akademik yang sedemikian banyak. Seperti halnya baca tulis, kemampuan berhitung juga dianggap hal yang sangat penting dan utama, sehingga anak-anak yang masih dalam usia dini dicekoki dengan pembelajaran yang tidak sesuai dengan perkembangan anak. (ikd2/ton)

Guru TK Roudlotul Muttaqin Cepokomulyo, Gemuh. Kendal





Tinggalkan Balasan