Bermain Peran dalam Pembelajaran Teks Drama

215
Oleh : Savitri Andriyani, S.Pd.
Oleh : Savitri Andriyani, S.Pd.

RADARSEMARANG.ID, Drama merupakan pertunjukan yang menyangkut gambaran kehidupan manusia. Bermain drama di atas panggung diawali dengan berbagai latihan, yaitu olah rasa, olah vokal, olah tubuh, musik, tari, dan seni lainnya yang mendukung.

Beberapa hal yang harus diketahui siswa dalam bermain peran atau drama: 1) Penggunaan bahasa, baik cara pelafalan maupun intonasi, harus relevan. Logat yang diucapkan hendaknya disesuaikan dengan asal suku atau daerah, usia, dan status sosial tokoh yang diperankan, 2) Ekspresi tubuh dan mimik muka harus disesuaikan dengan dialog, 3) Untuk lebih menghidupkan suasana dan menjadikan dialog lebih wajar dan alamiah, para pemain dapat berimprovisasi di luar naskah, 4) Melafalkan dengan baik tiap kalimat yang diucapkan tokoh drama, dapat menggambarkan karakter tokoh serta konflik yang timbul di dalamnya. Oleh karena itu, seorang pemain drama harus meresapi isi cerita.

Selain memperhatikan hal-hal di atas ssiwa juga harus memahami komponen-komponen dalam bermain peran atau drama yaitu: 1. Penghayatan, adalah pemahaman terhadap isi naskah drama yang akan dipentaskan yang terlibat pada ekspresi dan pemahaman karakter tokoh. 2. Vokal, yang diperhatikan dalam vokal yaitu kejelasan ucapan, jeda, ketahanan dan kelancaran, penampilan, teknik muncul,gerakan, cara berpakaian, pandangan mata, konsentrasi.

Bermain peran dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan berbicara khususnya siswa kelas VIII.5 SMP Negeri 1 Wiradesa. Penanaman dan pengembangan aspek nilai, moral, dan sikap siswa akan lebih mudah dicapai apabila siswa secara langsung mengalami (memerankan) peran tertentu, daripada hanya mendengarkan penjelasan atau melihat dan mengamati saja.

Langkah-langkah bermain peran terdiri atas tiga tahapan yaitu, prapementasan, saat pementasan, dan setelah pementasan (pascapementasan). Untuk menyajikan suatu peran dibutuhkan persiapan-persiapan sebelum pementasan itu ditampilkan, yakni, tahap persiapan dan tahap latihan. Dalam tahap prapementasan yang harus dipersiapkan siswa adalah memilih naskah, memilih pemain, dan mempelajari naskah. Pementasan adalah proses, cara, perbuatan mementaskan naskah drama dari hasil latihan yang telah dilakukan sebelumnya. Atau diartikan pementasan merupakan puncak dari hasil latihan yang ditempuh selama berhari-hari, berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan lamanya untuk mementaskan hasil karya berupa gerak akting. Pada saat pementasan yang perlu diperhatikan oleh pemain adalah dalam hal akting harus wajar dan tidak dibuat-buat, artinya pemain dalam menampilkan perannya tidak berlebihan. Dalam situasi seperti itu, pemain tidak boleh memperlihatkan kepura-puraannya saat pementasan. Pemain harus meyakinkan penonton sehingga penonton merasa bahwa pemain menampilkan pengimajinasiannya secara nyata. Dalam pasca-pementasan, pementasan yang sudah berlangsung diadakan penilaian-penilaian terhadap unsur-unsur yang terdapat dalam bermain peran seperti: kinesik (gerak tubuh), intonasi, vokal, dan ekspresi. Terdapat juga saran dan kritik terhadap pementasan yang sudah berlangsung dengan tujuan mengerti kekurangan-kekurangan pementasan guna refleksi terhadap pementasan selanjutnya.

Siswa kelas VIII.5 SMP Negeri 1 Wiradesa sangat antusias dan bersemangat dalam mempelajari teks drama melalui metode bermain peran. Siswa lebih tertantang untuk mengekspresikan diri melalui peran yang mereka bawakan. Metode bermain peran sangat membantu dalam proses pembelajaran teks drama karena siswa tidak hanya belajar teori tetapi belajar praktik langsung dengan bermain peran. (pkl2/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Wiradesa Kabupaten Pekalongan





Tinggalkan Balasan