Tingkatkan Pemahaman Kultur Jaringan dengan Pendekatan STEM

380
Oleh : Yuwono Catur Minarti, S.Pd
Oleh : Yuwono Catur Minarti, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, Peduli lingkungan sangat penting dalam pembentukan karakter anak untuk menjaga lingkungan yang sehat dan bersih. Indikator peduli lingkungan di sekolah meliputi pemelihara lingkungan kelas, ketersediaan tempat pembuangan air di ruang pembelajaran, pembiasaan hemat energi dalam kelas. Peserta didik yang memahami masalah lingkungan akan mampu mengatasi dan mencegah masalah lingkungan yang berkemungkinan terjadi.

Struktur dan fungsi jaringan tumbuhan merupakan materi kelas VIII semester 1 pada Kurikulum 13. Materi ini diharapkan mampu membawa peserta didik untuk lebih mempedulikan lingkungannya. Yaitu dengan cara peserta didik mengetahui bagaimana kondisi di lingkungan sekitar, serta apa saja yang mendukung agar lingkungan tetap sehat.
Indikator peduli lingkungan terdiri dari indikator sekolah dan di dalam kelas. Adapun indikator sekolah meliputi pembiasaan memelihara kebersihan dan kelestarian lingkungan sekolah. Tersedia tempat pembuangan sampah dan tempat cuci tangan. Menyediakan kamar mandi dan air bersih dll.

Sedangkan indikator di dalam kelas meliputi memelihara lingkungan kelas, tersedia tempat pembuangan di dalam kelas, pembiasaan hemat energi, memasang stiker perintah mematikan lampu dan menutup kran air pada setiap ruangan apabila selesai digunakan.
Dalam upaya meningkatkan pemahaman siswa tentang kultur jarngan, dalam proses pembelajaran melakukan degan pendekatan STEM yatu Science (pengetahuan), Technology (teknologi), Engineering (teknik), and Mathematics (matematika). STEM adalah meta-disiplin di tingkat sekolah dimana guru sains, teknologi, teknik, dan matematika mengajar pendekatan terpadu masing-masing materi disiplin tidak dibagi-bagi tapi ditangani dan diperlakukan sebagai satu kesatuan yang dinamis.

Pembelajaran dengan pendekatan STEM dibagi menjadi 3 pendekatan guru pendidikan teknologi SILO, embedbe, pendekatan terpadu.
Seperti namanya STEM terpadu maka tidak ada batas dari masing-masing konsep STEM.

Langkah pembelajaran dalam metode PjBL (Project Bassed Learning) dengan pendekatan STEM melalui tahapan peserta didik diberi tugas membuat model 3 dimensi (3D) tentang penerapan kultur jaringan tumbuhan dalam kehidupan sehari.

Bentuk karya 3D bebas sesuai kreatitivitas dan inovasi masing-masing peserta didik yang dikerjakan secara kelompok. Proses kegiatan ini diberi waktu 4 minggu yang meliputi 1 minggu untuk desain proyek,1 minggu untuk konsultasi, 2 minggu untuk proses pembuatan dan finising model proyek. Desain proyek, peserta didik menyusun desain tentang materi model meliputi bentuk, ukuran, cara kerja dan manfaat proyek. Konsultasi proyek, peserta didik melakukan konsultasi rancangan proyek ke guru mapel tentang permasalahan dari proyek yang didesain bersama kelompoknya. Proses pembuatan dan finising proyek, dilakukan oleh peserta didik di rumah karena ini tugas proyek.

Hasil karya peserta didik sungguh luar biasa ada yang membuat model hidroponik, model sonar surya sumber energi, model filtrasi air bersih, model atap rumah yang ramah lingkungan dan lain-lain.

Selain itu pemahaman materi sudah masuk tingkat HOT karena peserta didik harus menganalisis, mengaplikasi, menerapakan dan mencipta suatu model karya mandiri. Kreativitas project based learning berpendekatan STEM mampu menjadikan pelajaran menarik dan tidak membosankan, lebih mudah untuk dipahami, menumbuhkan minat serta melatih sikap peduli lingkungan.
Penerapan project based learning berpendekatan STEM untuk meningkatkan literasi sains, membantu memotivasi dan memberikan rasa senang. Model project based learning berpendekatan STEM pada materi kultur jaringa membantu melatih kemampuan analitis peserta didik kelas VIII SMP 32 Semarang sera menambah keaktifan siswa saat model tersebut diterapkan. (ipa2/lis)

Guru IPA SMP Negeri 32 Semarang





Tinggalkan Balasan