Tingkatkan Keaktifan Belajar Menyenangkan dengan Bunga Agrikultur

96
Oleh : Erna Dewi Palupi, SE
Oleh : Erna Dewi Palupi, SE

RADARSEMARANG.ID, Keberhasilan pembelajaran di kelas salah satunya terletak pada kemampuan seorang guru dalam menguasai kelas dengan memperhatikan karakteristik peserta didik. Seorang guru tidak hanya berdiri di kelas untuk berceramah menyampaikan materi pembelajaran, lebih dari itu guru harus memiliki kompetensi profesional tugas dan perannya

Dalam model pembelajaran inovatif, peserta didik dilibatkan secara aktif dan tidak dijadikan sebagai objek. Pembelajaran tidak lagi berpusat pada guru, tetapi pada peserta didik. Guru memfasilitasi peserta didik untuk belajar sehingga mereka leluasa untuk belajar. Penggunaan model pembelajaran dengan media bunga agrikultur sangat cocok diterapkan pada materi penguatan agrikultur di Indonesia.

Indonesia merupakan negara agraris yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang banyak untuk produk pertanian dengan jenis tanaman pangan unggul. Sektor pertanian mampu menyerap 35,9% dari total angkatan kerja di Indonesia dan menyumbang 14,7% bagi pendapatan nasional Indonesia (BPS: 2012). Sulitnya memahami materi penguatan agrikultur menyebabkan guru harus mampu membuat terobosan cara pembelajaran yang efektif.

Memanfaatkan alat dan bahan yang ada di sekitar kita untuk media pembelajaran memberikan beberapa kelebihan, diantaranya bisa menekan biaya karena tersedia secara cuma-cuma, dan juga melibatkan peserta didik secara aktif untuk bisa berkreasi sesuai dengan keinginan dengan tetap dipantau guru. Alat dan bahan yang perlu disiapkan adalah ranting kering, benang dan kertas asturo warna. Media bunga agrikultur ini diterapkan pada kelas VIII A SMP Negeri 4 Batang karena peserta didik di kelas ini cenderung pasif sehingga dengan model ini diharapkan keaktifan peserta didik akan muncul, karena mereka dilibatkan secara langsung pada pembelajaran, mulai dari pembuatan media bunga agrikultur sampai pada proses presentasi.

Sebelumnya peserta didik dibagi dalam kelompok kecil yang terdiri dari lima anak, dengan pembagian memperhatikan keseimbangan putra dan putri. Kertas asturo di bentuk sesuai keinginan kelompok, bisa berbentuk hati, segiempat atau bunga. Setelah itu digunting sesuai dengan pola dan di tali dengan benang diujung atas bentuk tersebut, dan digantungkan pada ranting yang sudah disiapkan. Dalam sebuah ranting akan bergantungan kertas asturo yang berbentuk pola tertentu yang disebut dengan bunga agrikultur sebanyak sepuluh buah.

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan metode diskusi kelompok, dimana guru akan melempar pertanyaan terkait dengan materi penguatan agrikultur di Indonesia. Setiap pertanyaan yang mampu dijawab oleh suatu kelompok maka guru akan memberikan centangan pada bunga agrikultur yang bergantungan diranting. Jika sepuluh bunga sudah tercentang artinya sebuah kelompok telah menyelesaikan pertanyaan dari guru. Sebagai reward, kelompok akan mendapat sebuah pot bunga kecil yang akan digunakan untuk menancapkan ranting tersebut, sehingga kelompok memiliki sebuah pot bunga komplit dengan bunganya. Cara ini efektif untuk memunculkan keaktifan dan kerjasama peserta didik dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Munculnya keaktifan dari diri peserta didik dan kemampuan bekerjasama akan bermuara meningkatkan hasil belajar. (pkl1/ton)

Guru IPS SMP Negeri 4 Batang

Tinggalkan Balasan