Belajar IPS: Membangun Softskill Siswa

324
Oleh: Dra. Ernawati, M.Pd
Oleh: Dra. Ernawati, M.Pd

RADARSEMARANG.ID, Miris rasanya membaca berita tentang pembunuhan yang dilakukan oleh pelajar ABG di Sawah Besar, Jakarta Pusat. Pembunuhan tersebut konon dilakukan karena terinspirasi oleh film horor yang agresif dan sadistis. Lebih miris lagi ketika anak tersebut melakukannya dengan tanpa bersalah, bahkan berulangkali berucap sangat puas dengan apa yang dilakukannya. Berjuta tanya, seolah sulit menerima dengan logika apa sebenarnya yang telah terjadi? Mengapa tragedi memilukaan bisa terjadi ? Adakah yang salah dengan pola asuh kita, baik di rumah, sekolah bahkan di tengah masyarakat kita? Apapun itu sebuah pembelajaran dapat kita ambil dari peristiwa yang menggemparkan masyarakat tersebut.

Menjadi kesadaran bersama seluruh anggota keluarga, terutama kedua orangtua, kondisi psikologis anak akan sangat dipengaruhi oleh pola asuh orangtuanya. Rumah adalah tempat pertama kali terjadinya proses sosialisasi dan internalisasi nilai-nilai sebelum anak terjun di dalam masyaraakat. Di Lingkungan keluargalah kepribadian anak akan terbentuk. Anak yang dibesarkan dalam pola asuh yang demokratis, terbuka, penuh cinta dan sayang sangat berbeda dengan anak yang dibesarkan dalam lingkungan pola asuh yang otoriter. Orangtua yang selalu menuntut, terlalu dominan dan merasa paling tahu apa yang terbaik buat anaknya, komunikasi yang hanya berjalan satu arah, membuat anak dalam posisi under pressure penuh ketakutan dan kekhawatiran yang berdampak buruk terhadap perkembangan mentalnya. Ke depan justru akan melahirkan pribadi pembangkang dan pendobrak yang asosial dan sosok ahumanis yang tidak mempunyai empati. Pribadi yang menyimpan bara yang sewaktu-waktu dapat membuat percikan api yang dapat mengancam dirinya bahkan orang lain.

Di sekolah, pola mengajar guru juga akan mempengaruhi pola berpikir peserta didiknya. Guru yang indoktrinatif, yang menganggap kebenaran mutlak ada pada sang guru, membuat siswa merasa terbungkam dan tersumbat gagasan-gagasannya. Oleh karena itu, saatnya menjadi guru yang demokratis, yang bisa mendengar, responsif, menjadi motivator yang bijak, tegas tetapi tidak membatasi. Sehingga melahirkan sosok mandiri yang bertanggungjawab, peserta didik yang merdeka belajar seperti yang diharapkan banyak pihak saat ini.

Hadirnya orang-orang dewasa menjadi figur pengayom bagi seorang anak barangkali dapat menjadi solusi. Orangtua hendaknya dapat menciptakan surga bagi anak-anak di rumah. Guru di sekolah mampu menciptakan sekolah sebagai taman yang indah dan menyejukkan. Sekolah adalah rumah kedua bagi mereka. Guru hendaknya tidak hanya menekankan aspek kognitif dalam pembelajarnnya, tetapi yang lebih penting bagaimana mengembangkan softskills siswa. Softskills adalah atribut pribadi yang dapat mempengaruhi pola hubungan, komunikasi dan interaksi dengan orang lain. Tanpa mengecilkan peran mata pelajaran lain, mata pelajaran IPS di SMP Negeri 2 Sragen sangat berperan dalam mengembangkan softskills peserta didik, mengingat secara konten bahwa softskills mencakup hal-hal yang banyak dipelajari dalam mata pelajaran IPS, seperti kemampuan memimpin, berkomunikasi, berkolaborasi, bernegoisasi, problem solving, berpikir kritis, norma, nilai, etos kerja, adabtasi, kreatif ,inovatif dan lain-lain.

Pola interaksi dan komunikasi yang baik diharapkan mampu menghindarkan anak-anak kita agar tidak terjerumus dalam perilaku menyimpang. Anak harus mendapatkan pendampingan yang proporsional dalan setiap aktivitas, artinya orang tua /guru harus hadir kapanpun dan di manapun anak berada. Softskills sangat dibutuhkan, baik secara individual sebagai alat pengendalian diri, maupun orang dewasa yang lain sebagai cocial control. Menjadi tanggungjawab bersama menjadikan anak-anak kita menapaki zamannya dengan bahagia, daripada melihat mereka terjebak dalam perilaku menyimpang tanpa kita mampu berbuat apa-apa selain hanya mengelus dada. (by1/aro)

Guru IPS SMP Negeri 2 Sragen





Tinggalkan Balasan