Mudah Memahami Cerita Mahabarata melalui Wayang Kulit

442
Oleh : Sutrisno, S.Pd
Oleh : Sutrisno, S.Pd

RADARSEMARANG.ID, Sebagian besar siswa kurang berminat memahami dalam pelajaran bahasa Jawa karena bahasa dan cara penulisanya dirasa sulit. Padahal dalam materi bahasa Jawa tidak sekadar menulis aksara Jawa atau mempelajari basa ngoko menjadi bahasa krama/krama alus tapi juga memahami cerita wayang yang sarat dengan nilai- nilai luhur.
Pembelajaran yang monoton di ruangan dengan teknik ceramah akan membuat siswa menjadi bosan.Ttidak berkonsentrasi dalam belajar karena yang dilihat hanya yang ada di ruang kelas itu saja. Untuk itu pebelajaran bahasa Jawa tentang cerita Mahabarata perlu diubah lebih baik dan menarik dengan berbagai variasi. Salah satu menggunakan media wayang kulit yang menarik peserta didik.

Di SMK Negeri 1 Jambu yang merupakan sekolah mewah (mepet sawah) yang lingkungan sekitarnya masih menjaga nilai- nilai budaya misalnya reog, jaranan dan topeng ireng tetapi tentang cerita wayang kurang diminati para siswa. Sehingga dalam pembelajaran cerita Mahabarata dengan teknik ceramah siswa diminta membaca dan menghafal saja terlihat siswa kurang antusias dan cenderung tertekan. Hal itu terlihat dari saat diadakan ulangan hasinya rata-rata di bawah KKM. Melihat hasil demikian, maka perlu menerapkan pembelajaran yang mengajak siswa tidak hanya mendengar tetapi juga melihat dan berinteraksi langsung memegang dan berupaya memainkan beberapa tokoh wayang kulitnya yang ada dalam materi kelas X semester genap cerita Mahabarata.

Dengan media wayang kulit pada materi memahami cerita Mahabarata, diharapkan siswa senang, asyik dan antusias melaksanakan pembelajaran dan setelah diadakan evaluasi pembelajaran hasinya meningkat.
Penggunaan media wayang kulit sebagai salah satu metode untuk memudahkan anak menangkap alur cerita, tokoh dan penokohan dengan berbagai karakter masing- masing tokoh wayang serta pesan kebaikan yang terkandung dalam cerita wayang.

Media pembelajaran secara umum adalah alat bantu proses belajar mengajar. Sedangkan menurut Briggs (1977) media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi/ materi pembelajaran seperti buku, film, video dan sebagainya. Kemudian Nasional Education Associaton (1969) mengungkapkan media pembelajaran adalah sarana komunikasi dalam bentuk cetak maupun pandang-dengar termasuk teknologi perangkat keras. Oleh karena proses pembelajaran merupakan proses komunikasi dan berlangsung dalam suatu sistem, maka media pembelajaran menempati posisi yang cukup penting sebagai salah satu komponen sistem pembelajaran. Tanpa media komunikasi tidak akan terjadi dan proses pembelajaran sebagai proses komunikasi juga tidak akan bias berlangsung secara optimal.

Langkah pembelajaran dengan media wayang tentang memahami cerita Mahabarata kelas X semester genap di SMK Negeri 1 Jambu terdiri dari 4 tahap. Pertama tahap persiapan dengan menentukan judul cerita wayang (Bima Bungkus). Kedua mempersiapkan beberapa wayang kulit sesuai tokoh dalam cerita. Ketiga mengenalkan nama tiap tokoh, karakter tokoh dan suaranya, keempat siswa diminta membuat kelompok terdiri dari 5 orang.
Kemudian siswa diminta membagi siapa menjadi tokoh apa dan memainkan wayang sesuai cerita Bima Bungkus menurut alur cerita, suara tiap tokoh yang sudah dicontohkan dengan gerakan seperti dalang. Bahasa yang dipakai bahasa Jawa sesuai dialek sehari- hari dari ngoko halus sampai krama halus.

Setelah penggunaan media wayang, siswa merasa senang dan antusias dalam proses pembelajaran, lebih memahami alur cerita, nama tokoh, karakter tokoh serta amanat yang terkandung dalam cerita yang dimainkan. Terlebih lagi ketika diadakan ulangan tentang cerita Mahabarata (Bima Bungkus) kelas X semester genap di SMK Negeri 1 Jambu rata-rata nilai di atas KKM. (ug1/lis)

Guru Bahasa Jawa SMK Negeri 1 Jambu, Kabupaten Semarang.





Tinggalkan Balasan