Dengan Bola, Mudah Pahami Cara Perpindahan Kalor

1633
Oleh : Ghufroni S.Pd.SD
Oleh : Ghufroni S.Pd.SD

RADARSEMARANG.ID, Kata panas atau kalor sudah kerap didengar. Panas adalah suatu bentuk energi yang dapat berpindah karena perbedaan suhu antara dua benda atau lebih.

Panas biasa disebut dengan kalor yaitu suatu bentuk energi yang dapat berpindah dari benda yang memiliki kelebihan panas (kalor) ke benda yang kekurangan panas (kalor). Diibaratkan perpindahan kalor (panas) ini seperti aliran air di sungai, dimana hulu sungai sebagai benda yang kelebihan panas (kalor) dan hilir sungai sebagai benda yang kekurangan panas (kalor). Perpindahan panas terjadi dari benda yang lebih panas atau kalornya lebih banyak ke benda yang lebih dingin atau kalornya lebih sedikit. Sesuai pada pembelajaran kelas V tema 6 (Panas dan Perpindahannya), apabila ditinjau dari cara perpindahanya, ada tiga cara dalam perpindahan kalor yaitu konduksi, konveksi dan radiasi.

Pada pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) pemahaman terhadap konsep-konsep (materi) sangat penting. Sebab pemahaman konsep-konsep yang baik membuat peserta didik terlatih menyimpan memorinya dan sewaktu-waktu dapat digunakannya dalam pemecahan masalah dan berpikir kreatif. Pemahaman konsep yang baik akan mempermudah mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang telah ditetapkan oleh sekolah. Namun kenyataannya di kelas V  SDN 01 Krasak, masih jauh dari ideal. Pemahaman terhadap materi Panas dan perpindahannya masih rendah.

Sadiman (2008: 42) menyatakan bahwa pemahaman atau comprehension dapat diartikan menguasai sesuatu dengan pikiran. Oleh sebab itu, belajar harus mengerti secara makna dan filosofinya, maksud dan implikasi serta aplikasi-aplikasinya, sehingga menyebabkan siswa memahami suatu situasi. Mulyasa (2005: 78) menyatakan bahwa pemahaman adalah kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu.

Sejalan dengan pendapat di atas, Rusman (2010: 139) menyatakan bahwa pemahaman merupakan proses individu yang menerima dan memahami informasi yang diperoleh dari pembelajaran yang didapat melalui perhatian. Untuk itu dalam mengatasi kurangnya pemahaman atas konsep tentang perpindahan panas, penulis menggunakan media bola untuk membantu memahami konsep dalam pembelajaran di kelas.

Maka, guru akan memberikan bola pada anak yang duduk paling belakang. Dengan langkah awal, memberikan bola kepada peserta didik yang duduk paling depan. Lalu memberikannya kepada peserta didik yang di belakangnya lagi. Demikian seterusnya sampai bola itu diterima oleh peserta didik yang duduk paling belakang. Bola dapat sampai ke peserta didik yang paling belakang, karena adanya perpindahan bola dari tangan ke tangan. Begitu juga dengan peristiwa perpindahan kalor secara konduksi. Seandainya bola diibaratkan sebagai kalor, sementara peserta didik sebagai partikel-partikelnya, dapat diketahui bahwa peristiwa perpindahan kalor secara konduksi adalah peristiwa perpindahan kalor melalui zat perantara akan tetapi tanpa disertai dengan perpindahan partikel zat perantara tersebut.

Ilustrasi kedua, memberikan bola kepada peseta didik yang duduk di belakang dengan bantuan peserta didik yang duduk paling depan dengan cara dihantarkan langsung kepada peseta didik yang paling belakang. Jika bola itu diumpamakan sebagai energi panas dan peserta didik yang membawa bola adalah medianya, maka perpindahan kalor dengan cara konveksi akan menyertakan perantaranya.

Ilustrasi ketiga, bola langsung dilempar ke peserta didik yang paling belakang dan ditangkap. Seperti halnya perpindahan kalor secara radiasi yang proses perpindahannya tidak memerlukan zat perantara.

Pada pembelajaran ini, peserta didik langsung dapat memahami sebuah konsep serta dapat memberikan contoh-contoh perpindahan panas. Dengan media bola, dapat mengantarkan peserta didik lebih mudah memahami cara perpindahan energi panas dengan kesan yang menarik. (mat2/ida)

 

Guru SDN 01 Krasak Sragi Kabupaten Pekalongan

Tinggalkan Balasan