Kriteria Utama Peningkatan Profesionalisme Guru

94
Oleh : Asnani, S.Pd. SD.
Oleh : Asnani, S.Pd. SD.

RADARSEMARANG.ID, Di era global sekarang kualitas generasi penerus bangsa perlu diperjuangkan. Upaya peningkatan profesionalisme guru dalam dunia pendidikan perlu ditingkatkan, karena memiliki peran dan tugas yang mulia.

Peserta didik memerlukan peran seorang guru untuk membantunya dalam proses perkembangan diri dan pengoptimalan bakat dan kemampuan yang dimiliki peserta didik. Oleh sebab itu sebagai kepala sekolah SD Negeri 2 Sukodono Kecamatan Kendal perlu memainkan peranan penuh dengan bimbingan dan arahan kepada semua guru sebagai partner kerja sehingga dapat terjalin hubungan yang baik di lingkungan sekolah.

Mulyasa (2007: 37) mengidentifikasikan sedikitnya sembilan belas peran guru dalam pembelajaran. Kesembilan belas peran guru dalam pembelajaran yaitu, guru sebagai pendidik, pengajar, pembimbing, pelatih, penasehat, pembaharu (innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas, pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita, aktor, emansivator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.

Muchtar Luthfi (1984: 44) menyebutkan bahwa seseorang disebut memiliki profesi bila ia memenuhi kriteria sebagai berikut: 1) Profesi harus mengandung keahlian, artinya suatu profesi itu mesti ditandai oleh suatu keahlian yang khusus untuk profesi itu. Keahlian itu diperoleh dengan cara mempelajari secara khusus karena profesi bukanlah sebuah warisan. 2) Profesi dipilih karena panggilan hidup dan dijalani sepenuh waktu. Profesi juga dipilih karena dirasakan sebagai kewajiban sepenuh waktu, maksudnya bukan bersifat part time. 3) Profesi memiliki teori-teori yang baku secara universal. Artinya, profesi itu dijalani menurut aturan yang jelas, dikenal umum, teori terbuka dan secara universal pegangannya itu diakui. 4) Profesi adalah untuk masyarakat, bukan untuk diri sendiri. 5) Profesi harus dilengkapi dengan kecakapan diagnostik dan kompetensi aplikatif. Kecakapan dan kompetensi itu diperlukan untuk meyakinkan peran profesi itu terhadap kliennya. 6) Pemegang profesi memiliki otonomi dalam melakukan tugas profesinya. Otonomi ini hanya dapat diuji atau dinilai oleh rekan-rekannya seprofesi. 7) Profesi mempunyai kode etik yang disebut dengan kode etik profesi. 8) Profesi harus mempunyai klien yang jelas, yaitu orang yang membutuhkan layanan.

Suatu pandangan yang lebih praktis menyatakan bahwa seorang yang profesional dalam suatu profesi tertentu menghasilkan pemikiran-pemikiran tertentu dan karya yang kuat didasarkan pada suatu sistem pengetahuan yang telah dibakukan oleh dunia ilmu pengetahuan, atau masyarakat ilmiah dalam bidang studi tertentu.

Namun demikian keberadaan profesi guru dibandingkan dengan profesi lainnya sungguh memprihatinkan, khususnya jika dilihat sisi penghargaanyang diterima guru dalam bentuk materi. Memang hal ini cukup ironis, karena di satu sisi profesi guru dianggap sebagai profesi yang sarat dengan unsur pengabdian belaka, sehingga dipandang kurang layak untuk menuntut penghargaan-penghargaan yang lain. Namun di sisi lain, guru juga seorang manusia yang memiliki kebutuhan, keluarga, dan tanggung jawab yang lain. Untuk itu sudah selayaknya bila kesejahteraan guru juga perlu mendapatkan perhatian agar mereka mampu bekerja secara profesional sebagaimana yang dituntut oleh sebuah profesi. (ikd1/ton)

Kepala SDNegeri 2 Sukodono, Kendal

Tinggalkan Balasan