Pembelajaran HOTS Materi Rantai Makanan dengan Model TPS

174
Didik Prasetio, S.Pd.SD
Didik Prasetio, S.Pd.SD

RADARSEMARANG.ID, Keterampilan berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan istilah Higher Order Thinking Skills (HOTS) sangat diprioritaskan dalam pembelajaran. Di mana aspek-aspek HOTS seperti transfer of knowladge, critical and creative thinking, dan problem solving diharapkan dapat tercapai maksimal dalam pembelajaran. Pembelajaran yang HOTS sangat mendukung siswa untuk memiliki berbagai keterampilan yang dibutuhkan di era revolusi industri 4.0 sekarang ini..

Dalam merencanakan pembelajaran berpikir tingkat tinggi, kendala yang sering muncul adalah menyiapkan kondisi lingkungan belajar yang mendukung terciptamya proses berfikir dan tumbuh kembangnya sikap dan perilaku yang efektif. Proses ini bisa dilakukan dengan menjalin kegiatan berpikir dengan konten melalui kolaborasi materi, membuat kesimpulan, membangun representasi, menganalisis, dan membangun hubungan antar konsep (Lewis & Smith, 1993)

Salah satu pembelajaran HOTS yang penulis praktikkan di kelas V SD Negeri 1 Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga adalah pembelajaran dengan model think pair share (TPS) materi tentang rantai makanan. Model pembelajaran TPS atau berpikir berpasangan berbagi adalah jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa. Model TPS merupakan cara yang efektif untuk membuat variasi suasana pola diskusi kelas (Arends, 1997). Model ini akan menumbuhkan keterampilan komunikasi yang baik karena secara langsung siswa dituntut untuk memahami, mengelola, dan menciptkan komunikasi yang efektif dalam pembelajaran tersebut.

Syntaks pertama pembelajaran HOTS dengan model TPS yaitu tahap think (berpikir secara individual). Dimulai dengan guru mangajukan suatu pertanyaan atau masalah yang dikaitkan dengan pembelajaran, dan meminta siswa mengguanakan waktu beberapa menit untuk berpikir sendiri jawaban atas masalah tersebut. Guru menayangkan sebuah gambar rantai makanan dan mengajukan sebuah peranyaan yang berhubungan dengan rantai makanan tersebut. Pada tahapan ini siswa diminta menuliskan jawaban mereka. Hal ini karena guru tidak dapat memantau semua jawaban siswa, sehingga melalui catatan tersebut guru dapat mengetahui jawaban yang harus diperbaiki di akhir pembelajaran.

Tahap selanjutnya yaitu pair atau berpasangan dengan teman sebangku. Guru meminta siswa untuk berpasangan dan mendiskusikan menganai apa yang telah dipikirkan dalam tahap pertama. Interaksi selama periode ini akan menghasilkan jawaban bersama. Ideal waktu untuk tahap ini sekitar lima menit. Setiap pasangan siswa saling berdiskusi mengenai hasil jawaban mereka sebelumnya sehingga hasil akhir yang di dapat menjadi lebih baik. Siswa akan mendapatkan tambahan informasi dan pemecahan masalah yang lain. Di sinilah letak komunikasi dan kolaborasi efektif antarsiswa. Siswa juga asyik berdiskusi walaupun suasana kelas agak ramai.

Tahap terkhir adalah tahap share (berbagi jawaban dengan pasangan lain atau seluruh kelas). Pada langkah ini guru meminta pasangan-pasangan untuk berbagi dengan keseluruhan kelas yang telah mereka bicarakan. Bisa dengan berkeliling dari pasangan ke pasangan dan melanjutkan sampai semua pasangan mendapat kesempatan untuk menyampaikan dan melaporkan. Pada akhirnya siswa akan mendapatkan berbagai informasi tentang rantai makanan dari satu teman satu kelas. Dan di tahap akhir ini juga bisa dilakukan penarikan kesimpulan bersama guru.

Keunggulan model pembelajaran TPS ini adalah mudah dilaksanakan dalam kelas yang mempunyai jumlah siswa banyak. Selain itu juga dapat memberikan waktu kapada siswa untuk merefleksikan isi materi pembelajaran. Memberikan waktu kepada siswa untuk melatih mengeluarkan pendapat sebelum berbagi dengan kelompok kecil atau kelas secara keseluruhan. Tetapi kontrol komunikasi dan pengusaan kelas juga harus tetap terjaga agar setiap tahapan berjalan dengan lancar. (*/aro)

 

Guru Kelas V SD Negeri 1 Kramat, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga