Mengaktifkan Belajar Matematika Mandiri dengan Metode Talking Stick

213
Gesang Winahyo, S.Pd.
Gesang Winahyo, S.Pd.

RADARSEMARANG.ID, Proses pembelajaran tersusun atas sejumlah komponen yang saling berkaitan. Interaksi guru dan siswa dalam kegiatan belajar-mengajar memegang peran penting dalam mencapai tujuan yang diinginkan. Kemungkinan kegagalan guru dalam menyampaikan materi pembelajaran disebabkan saat proses belajar-mengajar, guru kurang bisa membangkitkan perhatian dan aktivitas siswa atau guru mengalami kesulitan membuat siswa memahami materi yang disampaikan. Sehingga mengakibatkan hasil belajar siswa di sekolah rendah.

Dalam pembelajaran matematika, apabila guru masih menggunakan paradigma pembelajaran lama, dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung berlangsung satu arah dari guru ke siswa dan guru lebih mendominasi pembelajaran, maka pembelajaran cenderung monoton. Sehingga akan mengakibatkan siswa merasa jenuh dan tersiksa. Oleh karena itu, guru hendaknya lebih memilih berbagai variasi pendekatan, strategi, dan metode yang sesuai dengan situasi. Sehingga tujuan pembelajaran yang direncanakan akan tercapai.

Adapun salah satu model pembelajaran yang diterapkan di kelas IX D SMP Negeri 4 Batang adalah model pembelajaran Talking Stick. Model pembelajaran Talking Stick ini merupakan suatu cara yang efektif untuk melaksanakan pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa dalam belajar di kelas. Dalam model pembelajaran ini, siswa dituntut mandiri, sehingga tidak tergantung pada siswa lain. Model pembelajaran Talking Stick ini, termasuk dalam model pembelajaran kooperatif, di mana pendekatan pembelajaran yang berfokus pada penggunaan kelompok kecil siswa untuk bekerja sama dalam memaksimalkan kondisi belajar untuk mencapai tujuan belajar. Menciptakan interaksi yang asah, asih, dan asuh, sehingga tercipta suasana belajar kooperatif dan siswa tidak hanya belajar dari guru, tetapi juga dari sesama siswa.

Dalam penerapan model pembelajaran Talking Stick ini, guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok, dengan anggota kelompok heterogen. Pembagian kelompok  siswa dibentuk dengan mempertimbangkan keakraban dan persahabatan atau minat masing-masing siswa. Setiap kelompok selanjutnya berdiskusi dan mempelajari materi pelajaran. Di mana proses aktivitas pembelajarannya menggunakan sebuah tongkat sebagai alat penunjuk giliran, dan tongkat tersebut berisi pertanyaan yang harus dijawab oleh siswa. Kemudian secara bergiliran tongkat tersebut berpindah ke tangan siswa lainnya setelah diisi dengan pertanyaan lain yang berbeda oleh guru. Demikian seterusnya sampai seluruh siswa mendapat giliran dan menjawab pertanyaan tersebut. Agar lebih santai dan menyenangkan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, bisa diselingi dengan menyanyikan lagu sewaktu tongkat dipindahtangankan. Dalam hal ini ini tentunya siswa akan lebih mandiri, bertanggung jawab dan percaya diri atas kemampuannya, sehingga tidak tergantung pada siswa lainnya. Setelah itu, guru bersama siswa membuat kesimpulan dari pertanyaan-pertanyaan yang telah dijawab oleh semua siswa dan melakukan penilaian atas kegiatan belajar yang berlangsung.

Dengan menerapkan metode pembelajaran Talking Stick ini diharapkan siswa dapat secara aktif termotivasi mengikuti pembelajaran dengan baik, dapat melatih siswa untuk lebih giat belajar secara mandiri dan menguji kesiapan siswa dalam pembelajaran matematika. (by1/aro)

 

Guru Matematika SMP Negeri 4 Batang