Tingkatkan Minat Menulis Cerpen dengan  STAD

174
Dra. Tumi Rahayu
Dra. Tumi Rahayu

RADARSEMARANG.ID, Mata pelajaran Bahasa Indonesia pada materi Menulis bagi sebagian siswa merupakan kegiatan yang kurang diminati. Hal ini disebabkan siswa lebih banyak berkomunikasi dengan media sosial daripada membaca dan menulis. Pengembangan keterampilan menulis perlu mendapat perhatian yang sungguh-sungguh sejak jenjang pendidikan di tingkat dasar. Keterampilan menulis tidak diperoleh secara alamiah, tetapi harus dipelajari.

Fakta di lapangan  masih ditemukan siswa yang sering mengeluh kesulitan setiap mendapat tugas menulis. Mereka kurang tahu apa yang harus ditulis, dan bagaimana cara menulis yang baik. Ada beberapa hal yang menjadi kendala dalam menulis, yaitu beberapa siswa kurang paham dalam mengembangkan ide. Tingkat penguasaan kosakata siswa masih rendah, kurangnya minat dan perhatian siswa, serta penyajian materi yang tidak menarik.

Dengan adanya kondisi tersebut maka perlu ditindaklanjuti agar siswa tertarik dan senang dalam menulis.  Di SMP Negeri 1 Semarang pada mata pelajaran Bahasa Indonesia materi Menulis Cerpen menerapkan model pembelajaran STAD (Student Team Achievement Divisions).

Sumarjo dan Saini (1998 : 10) menyatakan dengan terlibatnya manusia ke dalam karya sastra dapat menolong seseorang untuk menjadi manusia yang responsif terhadap hal-hal yang luhur dalam hidup. Untuk itu manusia akan selalu mencari nila- nilai kebenaran.

Pembelajaran yang baik adalah guru sebagai pengajar tidak mendominasi kegiatan. Tetapi membantu menciptakan situasi kondusif serta memberikan motivasi dan bimbingan agar siswa dapat mengembangkan potensi dan kreativitasnya melalui kegiatan belajar.

Menulis merupakan kegiatan yang menuntut beberapa kemampuan. Di antaranya tentang tema yang akan ditulis dan pengetahuan kebahasaan  serta cara penulisannya. Seseorang yang akan menulis harus didasari rasa senang dan sering menulis.

Menulis merupakan hal yang saling mengait antara keterampilan satu dengan keterampilan bahasa yang lain. Yaitu membaca, menyimak, dan berbicara. Indikator menulis cerpen antara lain; siswa mampu mendata peristiwa yang pernah dialami (peristiwa yang menyenangkan, ada peristiwa yang menyedihkan, ada peristiwa yang menggairahkan dan ada peristiwa yang menjengkelkan). Mampu menentukan konflik yang ada dalam peristiwa yang dipilihnya untuk dijadikan bahan tulisan. Mampu menentukan alur cerita, mampu menulis cerita pendek yang bertolak dari peristiwa yang pernah dialami. Mampu menyunting karangan sendiri atau karangan teman.

Student Team Achievement Divisions (STAD) merupakan model pembelajaran sederhana dan mudah diterapkan. Model ini terdiri dari 4 langkah yaitu : langkah pertama pembentukan kelompok heterogen. Guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang terdiri dari 3-5 siswa yang heterogen (dalam hal ini kemampuan akademik, jenis kelamin). Dilanjutkan penjelasan materi dan kegiatan kelompok.

Pada langkah kedua, guru memberikan informasi kepada siswa berkaitan dengan kegiatan yang akan dilakukan siswa serta relevansi kegiatan dengan materi pelajaran. Selanjutnya siswa melakukan diskusi dengan kelompoknya sesuai arahan guru. Jika terdapat kesulitan dalam hal interprestasi petunjuk, siswa bisa minta bantuan guru.

Ketiga, pelaksanaan kuis atau evaluasi. Diharapkan setelah diskusi guru memberikan kuis yang harus dikerjakan oleh siswa secara individu. Langkah terakhir pemberian penghargaan. Kelompok yang rata-rata nilai setiap anggotanya paling bagus pantas diberi penghargaan. Hasil tes ini dapat digunakan sebagai dasar pembentukan kelompok baru untuk topik selanjutnya. Diharapkan pada pembelajaran menulis cerpen menggunakan model  Student Team Achievement Divisions dapat meningkatkan minat siswa menulis cerpen sesuai ide yang didapatkannya. (bi1/lis)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 1 Semarang