alexametrics

Evi Nurlaili Rahmaniarsy, Pernah Menari di Istana Negara

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Evi mulai menari ketika berusia 3 tahun. Darah seni mengalir dari kakek dan ibunya. Hingga kini, setelah belasan tahun, dia pun masih aktif menari.

“Saya termotivasi menari untuk nguri-uri budaya agar jangan sampai punah. Jangan sampai tergeser kebudayaan lain yang tidak bermanfaat,” tutur Evi kepada Jawa Pos Radar Semarang belum lama ini.

Pada 2018, Evi mendirikan sanggar tari. Namanya Abhinaya Budaya. Sebelum pandemi Covid-19, saban Minggu Evi mengajar tari di sanggarnya. Gadis kelahiran 26 Agustus 2001 ini juga pernah melatih tari di instansi, sekolah, hingga perusahaan.

Dasar tari yang dikuasai Evi, yakni tari Jawa Klasik. Namun karena seni kini lebih berkembang, Evi cenderung bergeser ke tarian kontemporer. Hanya saja, tariannya tetap berakar ke budaya tari klasik.

Menari sejak dini lantas membuat Evi meraih berbagai prestasi. Gadis Magelang ini pernah menjadi juara 3 dan juara 1 berturut-turut dalam Jambore Nasionalisme. Dia juga pernah dipercaya menjadi penari latar artis Trie Utami.

“Saya juga pernah menari di Istana Negara pada tahun 2019, waktu HUT Kemerdekaan RI,” kata Evi bangga.

Tak hanya gemar menari, Evi gemar berolahraga futsal dan sepak bola. Di futsal, Evi bermain dalam level klub. Dia bergabung bersama tim Gandari dan Gangster. Sementara di sepak bola, dia menjadi bagian dari tim Putri Gemilang. Evi mengatakan, futsal dan sepak bola bukan hanya untuk kaum laki-laki.

Kini, Evi memilih fokus kuliah. Dia tercatat sebagai mahasiswi Politeknik Pembangunan Pertanian Jogjakarta-Magelang. Meski demikian, hobi menari dan berolahraga masih dilakoni. Evi memanfaatkan waktu luang. Setidaknya, seminggu dua kali dia berlatih futsal dan menari.

Pasalnya, Evi telanjur menemukan banyak kesenangan dari dua jenis hobi itu. Evi mengaku senang bisa memiliki banyak teman, saudara, ilmu, dan wawasan dari pengalamannya di seni tari dan olahraga. Dia juga bisa belajar sabar, disiplin, bertanggung jawab, menghormati orang lain, dan menyadari betapa pentingnya kebersamaan. “Seni dan olahraga juga membentuk saya menjadi pribadi yang tidak lepas dari tata krama dalam kehidupan,” ujarnya. (rhy/aro)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

Populer