Sarah Isma Fahrina, Minat Menjadi Desainer Busana

232
Sarah Isma Fahrina. (DOKUMEN PRIBADI)
Sarah Isma Fahrina. (DOKUMEN PRIBADI)

RADARSEMARANG.ID, Sarah Isma Fahrina tak ingin jauh dari dunia jahit-menjahit busana. Lahir dan dibesarkan dari keluarga penjahit, membuatnya tak ingin jauh-jauh dari dunia itu. Sejak SD, gadis kelahiran Pekalongan, 25 Agustus 1999 ini sudah tertarik dengan bidang tata busana.

“Mungkin karena terbiasa melihat ibu menjahit busana wanita. Hasilnya cantik dan menarik. Saya tertarik dan ingin mendalami,” kata Sarah, sapaan akrabnya, kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (28/6).

Angan-angan ingin bisa mendesain busana tertanam seiring pertumbuhannya dari anak-anak hingga remaja. Dengan tegas, ia mengutarakan keinginannya bersekolah di jurusan tata busana. “Dengan mantap saya masuk SMK Jurusan Tata Busana. Tanpa pikir panjang,” ujarnya.

Lulus SMK, demi mengejar cita-citanya, ia tak mau mengikuti arus teman-temannya yang berlomba masuk ke perguruan tinggi. Ia ingin fokus memperdalam ilmu tata busana. “Saya memilih kursus ketimbang kuliah. Saya masuk ke Lembaga Pengajaran Tata Busana (LPTB) Susan Budiharjo Semarang,” ungkapnya.

Lulus dari lembaga kursus tersebut, Sarah pulang ke kampung halamannya di Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Ia membantu ibunya sekaligus mempraktikkan ilmu yang didapat selama kursus. “Akhirnya, saya bisa mendesain busana. Produk yang saya kerjakan adalah gaun pesta dan gaun pengantin. Saya berwirausaha sekaligus mengembangkan usaha orangtua,” tuturnya.

Selama dua tahun berwirusaha sejak 2018, kini Sarah telah memiliki tujuh karyawan. Produk-produknya memang belum banyak terjual ke luar kota. Namun ia tetap menikmati dan mensyukuri hasilnya. Per bulan penghasilannya antara Rp 5 juta sampai Rp 10 juta. “Pernah sekali mendapat pesanan dari Blora. Baru itu. Selebihnya masih di seputar Pekalongan. Alhamdulillah saya bisa menikmati hasil kerja keras saya selama ini,” katanya penuh syukur. (nra/aro)





Tinggalkan Balasan