Inda Daneshwara Jadi Worshiper dan MC Beda Rasa

229
Inda Daneshwara. (Dokumen Pribadi)
Inda Daneshwara. (Dokumen Pribadi)

RADARSEMARANG.ID, Tidak pernah terbayang di pikiran Inda Daneshwara menjadi worshiper leader (WL) di gereja. Meski sama-sama berbicara di depan audience, nyatanya worshiper beda dengan pemandu acara atau Master of Ceremony (MC) pada umumnya.

“Worshiper itu nggak cuma bisa ngomong dan gerakin orang untuk ikut dengan apa yang kita katakan. Tapi hati dan pikiran audience harus diarahin untuk memuji kebesaran Tuhan,” kata Danesh –sapaan akrabnya–kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Pandai bicara bukan saja senjata utama worshiper selama bertugas. Namun harus mengerti dan hafal lagu-lagu pujian yang digunakan untuk membangun susasana doa. “Tentu saja kesiapan lahir dan batin kita sangat diperlukan,” akunya.

Ibu tiga anak ini tidak menyangka jika dirinya dipercaya sebagai worshiper. Tugas worshiper terlihat sulit. “Dulu nggak pernah terpikir bisa jadi worshiper. Kayaknya susah, dan kurang percaya diri saat menyanyi di depan orang banyak,” kenangnya.

Dengan menjadi worshiper, perempuan kelahiran 25 Februari 1981 ini merasakan punya dua hal positif. Ia mengajak orang lain lebih dekat dengan Tuhan. Dirinya pun ingat untuk selalu memantaskan diri di hadapan Sang Pencipta.

Agar tugas ini dijalankan dengan baik, Danesh rutin latihan dua kali dalam seminggu. Gunanya untuk membangun kekompakan antara dirinya dengan penyanyi dan pemusik. Tidak kalah penting mempersiapkan diri mulai dari mental, kesehatan, serta membaca alkitab untuk menambah pengetahuannya. “Berpuasa juga untuk lebih membersihkan hati kita,” katanya.

Ada tantangan jadi worshiper. Ia harus memahami audience, sehingga bahasa yang digunakan pun dapat disesuaikan. “Harus paham dengan siapa audience kita, karena sama dengan MC, bahasa dan body language kita saat menghadapi teen audience dan adult audience sangat berbeda,” tutur warga Kampung Tulung, Kota Magelang ini. (put/aro)





Tinggalkan Balasan