Alfina Laura Ingin Jadi Ahli Optometris

252
Alfina Laura Lingga Irawan. (Alvi Nur Janah / Jawa Pos Radar Semarang)
Alfina Laura Lingga Irawan. (Alvi Nur Janah / Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Bangku perkuliahan biasanya identik dengan jurusan populer, seperti hukum, komunikasi, ekonomi, akuntansi, hingga kedokteran. Namun, berbeda dengan yang diambil Alfina Laura Lingga Irawan. Mahasiswi STIKES Hakli Semarang ini mengambil Jurusan D3 Refraksi Optisi. “Orang awam tahunya kita bakalan kerja di optik. Banyak juga yang menyamakan dengan istilahnya dokter mata. Tapi sebenarnya, refraksi optisi dengan dokter mata itu berbeda,”katanya kepada Jawa Pos Radar Semarang, Minggu (22/3).
Nana — sapaan akrabnya – menjelaskan, refraksi optisi itu lebih ke kelainan mata. Sedangkan dokter mata lebih ke penyakit matanya. “Kelainan mata itu kayak yang pakai kacamata, lensa kontak itu nanti konsultasinya sama kita,”ujar gadis kelahiran Banjarnegara, 24 September 1999 ini.

Bagi seseorang yang menderita kelainan mata, lanjut dia, biasanya lebih dianjurkan untuk konsultasi ke refraksionis (sebutan yang ahli refraksi) terlebih dahulu. “Karena setiap ahli kesehatan itu ada batasan dan tindak lanjut yang bisa mereka ambil. Misalnya, diagnosisnya kelainan refraksi mata minus dan harus melakukan lasik. Tindak lanjutnya harus ke dokter yang didampingi oleh ahli optometrisnya,”jelas gadis berzodiak Libra ini.

Nana mengaku, jurusannya memang tidak sepopuler yang lain, namun ia bangga. “Jurusan ini belum banyak yang tahu. Apalagi mengenai seluk-beluk mata. Hal yang selalu aku pegang, mata adalah salah satu indera yang paling penting. Kita harus benar-benar menjaga. Kalau sampai mata ada kelainan, tentunya bakalan susah melihat,” kata mahasiswi semester empat ini.
Menurutnya, Refraksi Optisi lebih banyak pada kegiatan observasi, penanganan, pencegahan dan pembuatan lensa. “Nanti porsi aku lebih banyak di optik,”tambahnya.

Gadis pecinta kopi tersebut juga menjalani kerja part time atau paruh waktu. “Alhamdulillah, di sela-sela praktikum dan jadwal kuliah yang padat masih bisa kerja part time. Tempat kerja juga memberikan jadwal kerja yang menyesuaikan dengan jadwal kuliahku. Waktunya jadi tak bersinggungan,”ujar barista Maxx Coffee ini. (avi/aro)

Tinggalkan Balasan