Iftita Maulida, Ajari Ibu-Ibu PKK Merajut

185
Iftita Maulida. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)
Iftita Maulida. (IDA FADILAH/JAWA POS RADAR SEMARANG)

RADARSEMARANG.ID,  BERBEKAL kemampuannya merajut tas, Iftita Maulida kini didapuk mengajari ibu-ibu PKK dan remaja Karang Taruna secara rutin. Canggung awalnya, karena harus mengajari orang-orang lebih tua darinya. Apalagi belum memiliki pengalaman mengajar sebelumnya, sehingga harus menyiapkan mental yang cukup kuat dulu.

“Butuh mental juga di awalnya. Minder pasti ada. Ya semoga nantinya lahir kader-kader yang berwawasan dan memiliki kreativitas tinggi,” harap mahasiswi semester enam jurusan Tadris IPA IAIN Salatiga ini.

Bersyukur, situasi canggung tak butuh waktu lama. Apalagi, Iftita yang sudah memulai usaha tas rajut sejak SMP ini, kerap menjahitkan produk rajutannya ke tetangga tempatnya mondok di Pondok Pesantren (Ponpes) Salafiyah Salatiga.  Hubungannya dengan warga sekitar sudah bisa terjalin erat. Kini dia merasa beruntung bisa berinteraksi langsung dengan warga sekitar.

“Disuruh ngajari, ya maulah. Itung-itung membantu sehingga ibu-ibu bisa memanfaatkan waktu luang dengan baik. Saya senang, bisa menambah pengalaman, bisa lebih bersosialisasi dengan masyarakat luar,” tuturnya.

Diakuinya, sebelum mengembangkan tas rajut, ia pernah berjualan makanan keliling sekolah. Semakin beranjak dewasa dan mulai kuliah, ia beralih usaha ke tas rajut. Bermodalkan Rp 100 ribu, Iftita membeli perlengkapan rajut. Keuntungannya, disisihkan untuk sedikit uang jajan dan dijadikan modal lagi untuk berjualan.

Tak memiliki mesin jahit awalnya, ia terpaksa menjahitkan produk rajutannya ke tetangga. Dari situlah, sang pemilik mesin jahit memberikan tawaran untuk memberikan workshop kepada ibu-ibu PKK dan remaja Karang Taruna. “Saya berharap, keuntungan yang terkumpul bisa buat beli mesin rajut sendiri sehingga lebih berkembang,” harapnya.

Kini orderan semakin banyak, dirinya mengaku kerap kewalahan. Beruntung punya banyak teman yang bisa membantunya menyelesaikan pesanan. “Karena over order, ada beberapa pesanan yang pernah cancel. Pelanggannya rata-rata teman sendiri, namun ada juga yang dari luar kota seperti Semarang, Jepara dan Jawa Timur,” tuturnya.

Kini remaja kelahiran 22 Januari 1999 ini menambah usaha dengan berjualan snack dan kosmetik online. Baginya merajut saja tidak cukup untuk menambah penghasilan. “Jadi nggak stagnan di rajut saja. Kalau rajut paling 1 atau 2 per hari, tapi kalau make up hampir menjadi keperluan wanita setiap hari yang digunakan secara terus-menerus,” katanya. (ifa/ida

Tinggalkan Balasan