Olahraga Tempat Melepas Stres

341
Ocktalita Dyah Permatasari. (Dokumen Pribadi)
Ocktalita Dyah Permatasari. (Dokumen Pribadi)

RADARSEMARANG.ID, DI dalam tubuh yang sehat, terdapat jiwa yang kuat. Semboyan itulah yang dipegang teguh oleh Ocktalita Dyah Permatasari. Guna menjaga tubuhnya tetap sehat, gadis 21 tahun ini rajin beragam berolahraga.

Diakuinya, budaya berolahraga sudah ditanamkan sejak kecil. Ini karena sang ayah atlet sepak takraw. Bahkan keluarga lainnya, menggeluti olahraga bulu tangkis, voli, basket dan lainnya.

“Saya sejak dari kecil sudah diajak ayah berolahraga. Sejak SD saya sudah ikut klub profesional bulu tangkis. Tapi tidak saya teruskan setelah masuk SMP. Saya bosan. Akhirnya ayah menyuruh saya menekuni voli. Sampai sekarang saya masih bermain voli,” ujar anak sulung dari 4 bersaudara ini.

Kecintaan berolahraga semakin bertambah ketika kuliah. Dirinya mulai diperkenalkan futsal oleh temannya. Hal itu mendorong dirinya ikut Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) Futsal di kampus. Namun gadis semester akhir ini, juga mengikuti UKM voli dan badminton. Bahkan ia selalu menjadi andalan tiap UKM dalam perlombaan tingkat universitas.

“Saya memang jadi andalan UKM apa saja di fakultas. Dalam seminggu, saya bisa dua tiga kali berlatih untuk menghadapi kompetisi yang biasa diselenggarakan antarfakuktas. Terbaru saya disuruh mewakili UKM Badminton untuk membawa nama fakultas bertanding di tingkat universitas. Bersyukur, langsung dapat juara tiga,” lanjut putri pasangan Eny Susilowati dan Edipadma Poerwaka tersebut.

Bagi dara kelahiran Grobogan, nilai olahraga sangat tinggi dalam hidupnya. Itu jiwanya dan caranya melepas stres. Meski begitu dirinya meluangkan waktu juga untuk bermusik dan membuat band bersama temannya.

Meski begitu, kuliah tidak terganggu. Ia masih bersemangat dalam kuliah apalagi ia mengambil jurusan yang masih berhubungan dengan hidup sehat. Yakni jurusan Bimbingan Konseling di Universitas PGRI Semarang (Upgris) yang notabene melatih dirinya menyehatkan mental seseorang.

“Tubuh sehat tidak penting, jika mentalnya sakit. Maka dari itu, saya menyadari perlu adanya seseorang yang bisa menyembuhkan mental yang sakit tersebut. Saya memutuskan mengambil jurusan Bimbingan Konseling. Harapannya bisa membantu siswa yang mengalami tekanan agar tidak berimbas pada kesehatan mental. Saya secara tidak langsung menyelamatkan generasi muda penerus bangsa dari degradasi mental yang merusak,” pungkasnya. (akm/ida)