alexametrics

Kembangkan CLBK dan Kobuka

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Desa Kalisidi, Kabupaten Semarang, dikenal memiliki potensi alam yang mengagumkan. Berlokasi di lereng Gunung Ungaran, menjadikan wilayah desa ini sangat asri, teduh, dan sejuk.

Nama Desa Kalisidi sekarang sudah melambung di jagat pariwisata. Itu semua berkat sentuhan Sang Kades, Dimas Prayitno Putra. Ia Sarjana Ekonomi lulusan UPN Veteran, Yogyakarta. Karena berhasil membawa Kalisidi ke arah yang lebih baik, Dimas dipercaya oleh warga untuk memimpin selama tiga periode. Tepatnya, sejak 2007 silam.

Salah satu inovasinya, Kades Dimas berhasil mengembangkan Kalisidi menjadi Desa Wisata yang kini dikenal banyak orang. Ia memoles CLBK: Curug Lawe Benowo Kalisidi menjadi objek wisata yang menjual kesejukan alam. “Dalam CLBK, kita tetap melestarikan alam yang murni, tanpa mengubah bentuk, seperti menambah spot dan lainnya,” ujar suami dari Farah Awwalia Cendhana ini.

Banyak keindahan alam yang tersembunyi di Desa Kalisidi. Seperti air terjun yang saat ini menjadi destinasi wisata yang dikenal sebagai air terjun Curug Lawe Benowo Kalisidi atau disingkat CLBK. Air terjun ini sangat memikat para pecinta dan petualang alam. Selain menikmati keindahan alam, sekaligus bisa dijadikan ajang olahraga dan menyegarkan pikiran.

Untuk menopang keberadaan objek wisata CLBK, Pemerintah Desa Kalisidi berupaya agar keberadaan CLBK dapat memberikan manfaat bagi warganya. Karena itu, CLBK dikelola oleh Lembaga Masyarakat Desa Hutan. Tepatnya, beserta Pemerintah Desa, yang di dalamnya sudah barang tentu melibatkan masyarakat lokal.

Kades Dimas berupaya terus menjaga segmentasi pengunjung CLBK agar mereka betah dan membelanjakan sebagian uangnya di Kalisidi. “Di sini juga ada kuliner dengan menu khas seperti oblok-oblok godong kopi, menu iriban sayur hutan, sayur jipang, mangut, welut serta kopi dan susu Kalisidi. Juga ada wedang badheg.” Semua itu disajikan di persawahan yang elok. Adapun tempatnya yang dikenal publik sebagai Warung Griya Dahar Sinongko.

Produk kopi asli Kalisidi yang sudah ada sejak zaman kolonial Belanda juga dikembangkan. Tepatnya, dikembangkan sejak 2017 oleh Unit Usaha Kopi Rasa Desa Bumdes Kayaguna. Caranya, dengan membeli kopi dari petani lokal.

Per bulan, dengan mesin dan tenaga ahli yang ada, lebih dari 3 kuintal kopi kering diolah menjadi kopi bubuk. Lantas dipasarkan di seluruh warung desa dan warung/toko di sekitaran Ungaran dan Semarang. “Nanti kopi disangrai secara mekanik, biar rasa dan kualitas terjaga untuk menjadi kopi bubuk dengan banyak varian. Labelnya: KOBUKA (Kopi Bubuk Kalisidi).” (mg6/mg5/isk)

Menarik

Artikel Terkait

Terbaru

Lainnya

Populer

Artikel Menarik Lainnya