Antisipasi Kekeringan dengan Embung Mandiri

296
Mukafi Fadli, Anggota Komisi B DPRD Jateng. (Dewi Akmalah/ Jawa Pos Radar Semarang)
Mukafi Fadli, Anggota Komisi B DPRD Jateng. (Dewi Akmalah/ Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID, Memasuki musim kemarau, sejumlah wilayah di Jawa Tengah sudah menjadi langganan bencana kekeringan. Lantas apa yang perlu dilakukan masyarakat agar dapat mengurangi potensi dan mengantisiasi bencana tersebut? Berikut bincang-bincang wartawan Jawa Pos Radar Semarang Dewi Akmalah dengan Anggota Komisi B DPRD Jateng, Mukafi Fadli.

Apa yang perlu dilakukan masyarakat untuk mengantisipasi kekeringan yang sudah menjadi agenda tahunan di sejumlah wilayah di Jateng?
Kalau kekeringan mencari air susah. Makanya sebelum masuk masa kemarau total, masyarakat harus pintar menabung air. Waktu masih ada curah hujan sedikit, itu dimaksimalkan agar dapat tertampung. Jadi bisa untuk dipergunakan saat kemarau total nanti.

Bagaimana cara untuk menampung air tersebut?
Bisa dengan sumur resapan atau biopori. Biasanya warga menggunakan itu. Tapi yang paling ideal ya menggunakan embung atau waduk. Karena yang tertampung banyak. Selain menjadi sumber air warga, bisa juga untuk mengairi sawah.

Menurut anda apakah jumlah waduk/embung di Jateng sudah cukup untuk persiapan kemarau bagi seluruh kabupaten/kota, utamanya yang rawan kekeringan?
Saya kira belum. Kita masih perlu membuat waduk/embung lagi untuk menampung air. Terutama di daerah rawan kekeringan yang menjadi lumbung beras Jateng. Hanya saja untuk saat ini saya memaklumi pemerintah belum dapat menambah. Mengingat anggaran untuk pembangunan infrastruktur dan supratruktur seperti embung ini mengalami refocusing untuk penanganan covid-19. Jadi untuk sementara tertunda. Namun kita janji akan terus mengupayakan anggaran pembuatan embung akan masuk alokasi tahun berikutnya.

Dengan anggaran yang terefocusing, adakah sumber pendanaan lain yang dapat digunakan untuk membangun embung dalam jangka waktu dekat ini?
Ada. Saat ini kan tiap desa diberi keleluasaan untuk mengelola dana desa. Nah, dana tersebut bisa saja dialokasikan untuk membangun embung mandiri. Tidak masalah kecil. Yang penting bisa menampung air. Lagi pula saya yakin jika tiap desa memiliki embung sendiri-sendiri mereka dapat memenuhi kebutuhan air warganya. Sehingga tidak ada lagi terdengar mereka kekurangan air bersih dan sebagainya. Lagi pula embung juga bisa dimanfaatkan untuk pariwisata desa. Selain memenuhi suplai air, namun juga dapat menambah pemasukan desa melalui pariwisatanya. (*/zal)





Tinggalkan Balasan