Semarang Mulai Terapkan E-retribusi.

88

RADARSEMARANG.ID, Berbagai inovasi dilakukan Pemerintah Kota Semarang untuk mewujudkan Semarang Smart City. Dinas Perdagangan mulai menerapkan sistem e-retribusi di beberapa pasar. Adapun program tersebut adalah bertujuan untuk memudahkan pembayaran dan transparansi pendapatan asli daerah (PAD) di pos retribusi pasar.

Bincang-bincang Wartawan Jawa Pos Radar Semarang Alvi Nur Janah dengan Kepala Dinas Perdagangan Kota Semarang Fravarta Sadman.

 Sejauh ini, bagaimana sebenarnya sistem penerapan e-retribusi?

Untuk saat ini, terdapat 52 pasar tradisional di Kota Semarang. Sistem e-retribusi sudah dicoba di lima pasar tradisional. Retribusinya sudah dicoba di Pasar Sampangan, Pedurungan, Bangetayu, Rasamala, dan Jatingaleh. Dari sistem e-retribusi ini, ternyata ada peningkatan pada sisi pemasukan yang signifikan. Kartu e-retribusi sifatnya closeloop, artinya apabila kartu hilang, uang tidak akan hilang.

Apakah ada peningkatan pendapatan dari sampel lima pasar tersebut?

Peningkatan di kelima pasar tersebut rata-rata 35 persen. Supaya tetap konsisten, kita menurunkan dan membentuk tim untuk terjun langsung ke pasar. Karena jika berbicara masalah data, kami harus turun langsung ke lapangan. Tim turun untuk melihat data lebih detail agar tidak ada kebocoran

 

Harapannya dengan sistem e-retribusi?

Harapannya semua pasar tradisional menerapkan e-retribusi. Meskipun prosesnya tidak langsung lancar, tapi persiapan ke arah tersebut sudah dilaksanakan. Harus mampu mengubah kebiasaan masyarakat yang kaitannya dengan alih fungsi teknologi.

Sosialisasi yang dilakukan sudah sejauh mana?

Melalui kepala pasar sudah diberikan sosialisasi, disiapkan. Mereka sudah diarahkan untuk secepatnya beralih. Tanggapan mereka sangat bagus dan menerima. Para pedagang melaksanakan kewajiban dengan ketentuan. Bahkan ada kesadaran dari mereka untuk rutin membayar.

 Update perkembangan terbaru dari alatnya?

Untuk perkembangan, kita tinggal menunggu pemenang tender. Posisinya sekarang sudah diserahkan semua persyaratan ke unit pelayanan kota. Seperti blanko untuk tap cash kita kerjakan secepatnya. Para pedagang pasar nantinya memiliki kartu debit pasar yang bisa digesek setiap kali transaksi pembayaran retribusi.

Sebelum ada e-retribusi, pengumpulan retribusi melalui apa?

Dari juru pungut, kemudian dari kepala pasar sampai ke bendahara korwil. Baru ke bank Jateng. Kalau lewat e-retribusi, langsung ke rekening penampungan bank. Alurnya otomatis dipermudah menjadi lebih efektif. Tidak terlalu panjang. Kartu e-retribusi mirip dengan ATM dan uang langsung masuk ke rekening bank penampungan.

Kemudahan apa yang ditawarkan melalui e-retribusi?

Otomatis, pendapatan asli daerah (PAD) menjadi lebih tinggi, uang langsung masuk ke kas daerah (kasda). Selain itu, juga untuk meminimalisir kebocoran retribusi pasar. Bahkan, e-retribusi tidak membutuhkan banyak sdm apabila sudah diterapkan. Dinas perdagangan hanya membutuhkan petugas untuk berkeliling di pasar membawa tap cash. Jika dibandingkan dengan model konvensional, jumlah petugas yang  diturunkan cukup banyak. Sehingga tingkat kebocoran menjadi semakin tinggi. Untuk tarif retribusi itu berbeda-beda,  tergantung luas lapak dari pedagang. (avi/ton)

Tinggalkan Balasan