alexametrics

Ajarkan Kemandirian Anak dengan Tidur Sendiri

Artikel Lain

RADARSEMARANG.ID – Membiasakan anak untuk tidur terpisah dari orangtuanya merupakan salah satu tahapan pendidikan seks usia dini yang harus diberikan. Namun harus mencari info sejauh mana kesiapan anak untuk tidur sendiri. Cari tahu kenapa anak takut tidur sendiri, barulah memberikan pengertian kenapa anak harus tidur sendiri sesuai bahasa mereka.

Begitulah Yuliati Khasanah mengajarkan kepada anaknya. Dalam memberikan pengertian untuk tidur terpisah, biasanya ia sudah mulai menerapkan ketika hamil. “Kasih pengertian begini, biar kakak boboknya lebih nyaman. Nanti kalau pas adik bayi nangis, boboknya kakak tidak terganggu,” katanya pada Jawa Pos Radar Semarang.

Harus mandiri, lanjutnya. Tidak boleh dikeloni bunda lagi, belajar jadi pemberani tidak boleh takut-takut lagi. Selain itu, Yuli juga seringkali memuji atas keberanian anak tidur sendiri. Sebab anak itu paling senang dipuji. Praktis, orang tua tidak boleh pelit pujian.

Baca juga:  Ribuan Maba Upgris Gelar Aksi Tanam Sistem Aquaponik

Selama ini, memisahkan anak tidur dari orang tua dilakukan secara bertahap. Mulai dari pisah selimut, pisah tempat tidur dan akhirnya pisah kamar. Pembiasaan tidur terpisah sudah ia lakukan sejak anak masih bayi. Dari mulai anak baru lahir, ketika adik bayinya sudah kenyang dan terlelap, Yuli lantas menidurkan bayinya di boks bayi atau di tempat tidur tersendiri yang beda dengan tempat tidur orang tuanya.

Dalam mendesain kamar tidur utama, ia sengaja menyiapkan 2 tempat tidur. Satu tempat tidur besar untuk orang tua dan 1 tempat tidur  agak pendek untuk bayi dan batita.

Yuli menjelaskan, setelah itu tahap pemisahan kamar tidur. Biasanya dimulai membiasakan  dan melatih ketika balita atau masuk sekolah TK. Selain itu juga harus diiringi dengan komunikasi yang terus menerus agar nantinya sudah sekolah dasar, anaknya berani bobok sendiri. “Jadi anak sudah punya goal. Nanti pas SD sudah harus berani bobok sendiri,” imbuhnya.

Baca juga:  Cegah Penyakit, Ingatkan Si Kecil untuk Cici Tangan

Menurut Yuli, pemisahan tidur bukan hanya antarorang tua dengan anak, tapi juga anak dengan anak, anak laki-laki dengan anak perempuan. Ketika masih belum baliq, kakak dan adik masih tidur bersama. Tapi ketika sang kakak sudah baliq (usia 10 tahun, Red) maka dia harus tidur terpisah dengan saudara laki-lakinya. Di usia maksimal 10 tahun, anak benar-benar harus tidur sendiri di kamarnya. Bahkan mereka sudah merasa butuh ruang privasi dan berkreasi untuk diri sendiri.

“Selain itu di usia ini anak sudah mulai muncul ketertarikan dengan lawan jenis. Sehingga pemisahan tidur mutlak dilakukan agar anak-anak dapat  dihindarkan dari godaan syahwat,” jelasnya.

Untuk membuat anak betah berada di kamar, ibu lima anak ini membuat suasana kamar senyaman dan seaman mungkin. Ia memberi kebebasan anak request warna cat kamar, jenis tempat tidur, motif sprei, selimut dan pernik-pernik lain di kamarnya. Termasuk boneka dan barang-barang favorit mereka. Dalam mendekorasi, ajak anak untuk berperan serta sehingga ada rasa memiliki.

Baca juga:  Pemuda Mabuk Ngamuk, Tusuk Tiga Warga

Tak lupa, guru biologi di MAN 2 Semarang ini juga melakukan rutinitas positif sebelum tidur yang akan membuat mereka bobok pulas dan nyaman semalaman. Seperti sikat gigi, buang air kecil, berwudhu dan membaca doa. Tak hanya itu, ia juga mengantarkan tidur anak dengan dongeng dan cerita yang menyenangkan. “Penting untuk diingat, pastikan sebelum tidur, anak dalam kondisi kenyang,” tuturnya. (ifa/lis/bas)

Artikel Terkait

Menarik

Terbaru

Populer

Artikel Menarik Lainnya