Melawan Disleksia dengan Karya

Sri Purwanti (kiri) bersama anak keduanya Airlangga Satryatama Wisnu Murti dan suaminya Prakoso Juli Wahyono. (Eko Wahyu Budiyanto/Jawa Pos Radar Semarang)

RADARSEMARANG.ID – Disleksia merupakan gangguan belajar pada anak. Seperti kesulitan mengeja, membaca dan menulis. Pada beberapa anak, mereka juga sulit berbicara. Anak disleksia mengalami kesulitan mengeja atau membaca, karena umumnya mereka melihat huruf maupun kata seperti terbolak-balik.

Misalnya, huruf ‘d’ terlihat seperti huruf ‘b’. Memiliki anak berkebutuhan khusus seperti itu terkadang membuat orang tua merasa malu hingga harus menyembunyikannya dari dunia luar. Tetapi itu tidak berlaku bagi Sri Purwanti.

Ibu dari Airlangga Satryatama Wisnu Murti ini mengaku sangat bangga dengan anak bungsunya. Angga sapaan akrab pemuda kelahiran Semarang, 27 Januari 2003 ini mengidap disleksia.

Dia mengetahui ada perbedaan dalam diri anaknya jika dibandingkan dengan teman sebayanya sejak masih batita. “Dulu itu waktu kecil, sampai umur 2 tahun tidak pernah mau bicara. Kalau diajak ngomong selalu tidak mau melihat,” ujar Purwanti saat ditemui di kediamannya Sabtu (27/6/2020).

Melihat perbedaan tersebut, ia kemudian konsultasi dengan dokter anak saat Angga masih berusia 2 tahun. Setelah melalui serangkaian tes, diketahui Angga mengidap disleksia kategori sedang. Bukan patah semangat, justru membuatnya lebih tertantang untuk menemani anaknya dan mengubahnya menjadi lebih baik lagi.

Menjadi seorang ibu dari anak pengidap disleksia memang bukan perkara mudah. Kesabaran dan ketelitian menjadi hal wajib dimiliki dalam diri seorang ibu tersebut. Setiap hari, ia selalu menemani anaknya terapi.

Mulai dari terapi bicara, okupasi, sensori integrasi. Untuk membuat Angga bisa bicara satu kata saja, membutuhkan waktu selama dua tahun. “Kata pertama yang bisa ia tangkap dan ucapkan adalah ‘bos’,” ujarnya.

Melihat perkembangan selama dua tahun dan bisa berbicara tersebut membuatnya semakin semangat dan yakin untuk terus membimbing anak keduanya tersebut. Keyakinannya pun berbuah hasil yang baik.

Menurutnya, banyak orangtua yang gagal mendidik anak yang mengidap disleksia karena cenderung tidak teliti dan kurang sabar. Banyak orangtua yang justru malu melihat anaknya mengidap disleksia. Sehingga cenderung menyembunyikan anak dari dunia luar.

Bagi Purwanti, anak yang mengidap disleksia justru harus dikenalkan dengan dunia luar. Memperbanyak bersosialisasi dengan lingkungan. Angga justru dipilihkan di sekolah anak normal.

Menurutnya, hal itu akan bisa meningkatkan kepercayaan diri dan kemampuan anak disleksia. “Banyak orangtua tidak berhasil menangani anak disleksia karena tidak telaten, bukan karena tidak mampu. Ini membutuhkan waktu panjang. Karena memang harus diasah terus dan dipancing terus untuk mau berbicara,” katanya.

Hal yang unik dari Angga yaitu tanpa disadari, dari dia berusia 7 bulan selalu melihat film kartun di TV kabel. Anak ini bisa menyerap bahasa Inggris dalam film kartun terlebih dahulu. Dampaknya, sekarang Angga lebih fasih berbahasa Inggris, ketimbang bahasa Indonesia, ataupun bahasa yang lain.

Kedua orangtuanya mengikuti untuk lebih banyak menggunakan bahasa Inggris dalam komunikasi setiap hari. “Ternyata dari melihat film kartun itu ada faedahnya. Tetapi tidak bisa menulis,” ujarnya.

Berdasar pengalamannya, anak disleksia harus dihindarkan dari makanan-makanan yang mengandung cokelat. Karena bisa membuatnya lebih hiperaktif. Ia juga mengenalkan Angga dengan dunia seni. Melalui seni tersebut Angga lebih tenang dan menorehkan prestasi. Angga yang kini berusia 17 tahun ini sangat menonjol di bidang seni lukis.

“Enggak tahu kenapa suka lukis, tapi aku suka,” timpal Angga. Ia merasa lebih senang melukis di tempat yang tenang sambil mendengarkan musik. Lulusan SMP Nasima ini pernah meraih juara dua dalam lomba melukis tingkat Kecamatan Semarang Barat. Juga beberapa juara seni lukis tingkat kota. Diakui Sri Purwanti, Angga memang berbeda dengan teman-temannya yang lain. Tetapi dukungan dari guru-guru di sekolah sangat membantunya di bidang akademik. Hingga saat ini Angga masih menjalani terapi untuk melatih kemampuan berbicara dan membaca.

Purwanti tidak tahu sampai kapan terapi tersebut akan berlangsung. Tetapi menurutnya sampai kapan pun tidak masalah baginya karena memang hal tersebut perlu dilakukan. Dia menekankan bahwa memiliki anak dengan kebutuhan khusus bukan hal yang harus ditutupi.

“Jangan disembunyikan. Harus dikenalkan agar orang lain mengenal dan menariknya dalam lingkungan dan bersosialisasi,” tegasnya. Menurutnya dengan mengenalkan anak pada dunia luar maka akan kelihatan bakat yang dimiliki anak. Seperti Angga yang sudah menunjukkan bakatnya di dunia seni lukis. “Sekarang saya sudah tahu ke mana arah yang harus dituju Angga,” ujar Purwanti. (ewb/lis/bas)





Tinggalkan Balasan