Buat Checklist Beramal di Tembok Kamar

274
Prayudi Kurnianto bersama Eksa Dzikru Kusuma saat memperlihatkan celengan beramal miliknya. (Istimewa)

RADARSEMARANG.ID – Pemahaman tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah harus diajarkan sejak dini. Anak-anak perlu diajarkan untuk berbagi kepada sesama. Beramal sejak dini menjadikan anak terbiasa menyisihkan sebagian harta yang dimilikinya untuk berbagi.

Secara tidak langsung, membentuk karakter berempati dan tindakan nyata untuk membantu sesama. Meski anak tidak menyadari itu, namun ayah dan bunda perlu menanamkan nilai-nilai tersebut untuk buah hati. Seperti Prayudi Kurnianto, 33, yang mengajarkan anaknya Eksa Dzikru Kusuma untuk belajar beramal. Ia menyediakan kencleng atau kotak amal di rumah. Biasanya, ia menaruh kotak tersebut di samping televisi atau tempat yang mudah dijangkau anak.

Sejak masih balita, ia mengajarkan anaknya untuk memasukkan uang ke dalam kotak. Bahkan, saking terbiasanya, saat orang tuanya tidak memberikan uang untuk beramal, Eksa –sapaan akrabnya- akan meminta sendiri. “Anak akan terbiasa beramal dengan memasukkan uang amal ke kotak. Bahkan dia akan minta uang ke saya dan bundanya jika hari itu belum amal,” jelasnya kepada Jawa Pos Radar Semarang.

Ia mengaku awalnya kesulitan untuk pembiasaan itu. Namun ia memiliki cara agar tidak lupa memberikan uang untuk beramal ataupun uang jajan. Untuk itu, Yudi –sapaan akrabnya- membuat checklist di tembok kamarnya. Daftar itu berupa peringatan sudah memberikan uang amal atau belum. Dengan begitu, saat ia lupa akan segera ingat dengan melihat daftar checklist tersebut.

Hasil uang tersebut, ia setorkan ke masjid yang sedang dibangun. Meski tidak banyak, terpenting bagaimana caranya membangun anak untuk peduli dan terbiasa beramal. Hal itu rutin ia lakukan. Terbiasa menabung. Saat ini, anak berusia 6.5 tahun itu sudah memiliki banyak sekali celengan.

“Saya membiasakan beramal di rumah, di masjid yang dipakai salat Jumat. Terkadang di masjid yang dipakai saat singgah di perjalanan. Tapi kalau amal di jalan ke pengemis tidak pernah malah,” imbuhnya.

Sebelum anaknya banyak bertanya, guru matematika MAN 2 Semarang ini terlebih dahulu menekankan pemahaman bahwa beramal itu untuk menghindarkan dari musibah dan menambah rezeki. (ifa/ida/bas)





Tinggalkan Balasan