alexametrics

Pendidikan Karakter melalui Geguritan “Mung Remukan Gorengan”

Oleh: Dr. Panca Dewi Purwati, M. Pd.

Rekomendasi

Menarik

RADARSEMARANG.ID, Antologi puisi berbahasa Jawa berjudul “Mung Remukan Gorengan” ditulis oleh Budi Wahyono. Kumpulan puisi ini diterbitkan oleh TriKen Publisher pada Maret 2021. Kehadiran kumpulan geguritan ini mengingatkan masyarakat Jawa bahwa pentingnya mempertahankan bahasa Jawa. Bahasa daerah sebagai unsur budaya etnis memiliki peran efektif sarana membangun karakter bangsa. Ini adalah produk literasi berbahasa Jawa yang cukup membanggakan, bernilai konservasi.

Antologi berisi 127 puisi ini berupa geguritan gagrak anyar/jenis puisi baru. Judul “Mung Remukan Gorengan” adalah judul puisi ke-17 dalam antologi tersebut. Sesungguhnya puisi ini tidak satu-satunya puisi yang mampu menarik. Pemilihan judul kemungkinan berdasarkan sejarah perjuangan yang tergambar dalam puisi tersebut. Pernyataan ‘wis telung puluh lima taun’ memberitahu bahwa perjuangan sejak 1972 sudah meraih sukses di tahun 2007 (terbitnya puisi). Puisi ini terbit di Harian Solopos pada 17 Juli 2007. Secara umum puisi-puisi dalam antologi ini sudah terbit di berbagai media (Parikesit, Suara Merdeka, Solopos, Mekarsari, Derap Jaya Baya, Penjebar Semangat, Djaka Lodhang, dan lain-lain). Puisi pembuka (Lakon Sing Ora Uwis-Uwis) terbit tahun 1986 juga sangat menarik isinya. Gurit terakhir baru saja terbit di majalah mingguan Penjebar Semangat pada tagaal 30 Januari 2021 berjudul Polahe Thilang (2021:183).

Baris dan bait yang ditata penulis sederhana, bahasa keseharian, mengangkat tema-tema masyarakat jelata. Bait yang digunakan sebagai pengikat dari satu gagasan ke gagasan berikutnya mudah dipahami. Struktur batin dalam gurit-gurit di antologi ini sarat nilai.

Struktur Batin: Karakter Pancasila
Semua puisi sangat jelas menunjukkan keberpihakan pada para jelata. Pembaca diajak mengasah rasa dan mengajak berbuat baik sebagai bentuk ibadah. Puisi-puisi ini layak kalau disebut Antologi Pak Guru banget, pantas digugu (dipercaya) dan ditiru (dicontoh).

Anak-anak, bahkan orang dewasa bersuku Jawa banyak yang tidak menguasai bahasa Jawa dengan baik. Padahal di sisi kita tidak mau kehilangan budaya nasional yang berakar dari budaya lokal. Kehadiran antologi ini berkontribusi melestarikan budaya Jawa. Para generasi Milenial bisa menggunakan gurit-gurit tersebut sebagai sumber belajar. Sekarang bahkan tembang-tembang bersyair Jawa sangat disukai masyarakat. Geguritan ini dapat menjadi bahan mentah syair lagu bernilai luhur.

Bila patokannya adalah pelajar ber-Pancasila, konten sastra berupa geguritan ini dapat dianalisis nilai Pancasila-nya. Misalnya penanaman sila pertama Pancasila, dapat digali dari puisi ke-76 (Ing Dusun Kalipiru) dan ke-77 (Guritan Mi Instan) mengungkap pentingnya bertoleransi.

Amanat sila kedua, ketiga, keempat, dan kelima dapat dicari dalam antologi geguritan ini. Sebagai contoh gurit nomor 122 berjudul Banjir Kalsel mengandung amanat sila kedua. Gurit nomor 7 (Ora Bisa Aweh Gunem), nomor 11 (Anak Wedok Dadi Migran), nomor 12 berjudul (Mung Kari Wuwungan) adalah satu contoh puisi beramanat sila ketiga, keempat, dan kelima. Dan masih banyak lagi teks-teks gurit yang dapat digunakan untuk kepentingan menanamkan nilai karakter. Struktur batin selalu menantang para pembacanya.

Asesmen Nasional berupa uji kognisi AKM (Asesmen Kompetensi Minimum) Literasi dan Numerasi, survei karakter pelajar ber-Pancasila, dan survei lingkungan belajar, dikemas dengan bahasa Indonesia. Namun AKM Kelas semestinya melibatkan literasi kearifan lokal. Meskipun dari Pusat Asesmen dan Pembelajaran (Pusmenjar) belum menyebutkan keterlibatan literasi lokal, tapi akan sangat baik bila konten teks sastra berbahasa daerah dilibatkan dalam AKM Kelas. Artinya antologi semacam ini dapat direkomendasi sebagai sumber konten teks sastra dalam menyusun AKM.

Konten AKM kelas meliputi teks informasi dan sastra. Antologi ini dapat dijadikan sumber untuk memenuhi konten teks sastra, sebagai kelengkapan asesmen yang melibatkan kearifan lokal. Mungkin ini berasa mengada-ada. Namun sesungguhnya kondisi bahasa lokal sudah cukup menghawatirkan karena para siswa sekarang banyak yang kurang antusias terhadap penggunaan bahasa lokal. Maka perlu diukur dengan asesmen terstandar.

Antologi ini secara keseluruhan sangat layak untuk dibaca masyarakat umum sebagai sumber hiburan dan sumber pendidikan karakter. Tampilan halaman dan isi buku menarik. Dua hal yang penting ditampilkan sebagai pelengkap antologi ini. (1) Judul puisi sebaiknya didahului dengan penomoran puisi untuk memudahkan merujuk. (2) Glosarium pad bagian akhir buku tentu akan sangat bermanfaat bagi para pembacanya. (*/aro)

Dosen PGSD Universitas Negeri Semarang (UNNES)

Tinggalkan Balasan

Terbaru

PKB Demak Bagikan 1.000 Takjil untuk Masyarakat

RADARSEMARANG.ID, Demak - DPC Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kabupaten Demak berbagai takjil untuk masyarakat Demak. Sasarannya, antara lain para...

Lainnya

Menarik

Populer

Taman Pierre Tendean Usung Konsep Smart Park

RADARSEMARANG.ID, Semarang - Taman Pierre Tendean bakal menjadi taman percontohan di Kota Semarang. Mengusung konsep Smart Park dengan sentuhan...