Pendidik Juga Manusia

423
Oleh: Andari Puji Astuti, M.Pd

RADARSEMARANG.ID – Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) menjadi pilihan kembali di tahun ajaran baru 2020/ 2021. Sesuai peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nasional melalui Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Pendidikan dalam Masa Darurat Coronavirus Disease (COVID-19), sejak Maret 2020 pembelajaran dilaksanakan melalui PJJ. Pendidik dan peserta didik beradaptasi dengan sistem PJJ sejak Maret 2020. PJJ dilakukan untuk memberikan jaminan kesehatan dan keamanan di bidang Pendidikan selama pendemi COVID-19. Guru atau Pendidik sebagai ujung tombak pendidikan di Indonesia dituntut beradaptasi dengan cepat dalam menyelenggarakan PJJ. Berbeda dengan unsur pendidikan yang lain, Pendidik diberikan amanah lebih fleksibel dan reaktif terhadap perubahan pembelajaran dari kelas ke rumah. Hal ini dilakukan untuk memenuhi amanat undang undang tentang kompetensi Profesional Pendidik di Indonesia. Kompetensi professional Pendidik meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi profesional, kompetensi sosial dan kompetensi kepribadian. Masyarakat dan negara, melihat kompetensi Pendidik selama ini diprioritaskan pada kompetensi yang berkaitan dengan manajemen kelas dan penguasaan materi ajar. Kedua kompetensi ini memberikan “beban” lebih kepada pendidik bila kompetensi kepribadian tidak terpenuhi. Penting bagi petugas profesional untuk memenuhi kebutuhan dirinya terlebih dahulu. Pekerja profesional yang sudah memenuhi kebutuhan diri dengan baik akan mampu memberikan aktualisasi maksimal di bidang masing-masing, begitu juga dengan Pendidik.

Pemenuhan kebutuhan diri seorang Pendidik akan berdampak pada kualitas pelayanan terhadap peserta didik. Pendampingan belajar secara jarak jauh membutuhkan waktu yang jauh lebih panjang dibanding memberikan pembelajaran di kelas. Pelayanan individual ketika peserta didik bertanya di luar jadwal jauh lebih menyita waktu dibandingkan saat Pendidik menjelaskan suatu topik di kelas. Bisa dibayangkan bila seorang Pendidik mengampu 6 kelas dengan jumlah peserta didik berkisar antara 25-30 orang/ kelas, berapa banyak peserta didik yang perlu dilayani oleh Pendidik? Penting sekali bagi seorang Pendidik menyelesaikan kebutuhan dirinya terlebih dahulu sebelum mampu memberikan pelayanan maksimal. Sesuai diagram kebutuhan Maslow, kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi adalah kebutuhan fisiologis, seperti makanan dan tidur yang cukup. Riset menunjukkan rasa frustasi dan marah terhadap orang lain lebih mudah timbul, saat perut kosong dan jam tidur berkurang.

Kebutuhan berikutnya yang dibutuhkan oleh pendidik adalah rasa aman selama melaksanakan PJJ. Penting membuat pendidik merasa aman selama melaksanakan PJJ akan berdampak maksimal bagi peserta didik. Keamanan ini berkaitan dengan tersedianya fasilitas yang memadai untuk melaksanakan PJJ. Seperti regulasi yang berpihak pada semua unsur Pendidikan. Tersedianya internet public dari negara yang bisa dimanfaatkan oleh semua warga negara terkait dengan pendidikan juga bisa memberikan kebutuhan terhadap keamanan dalam pelaksanaan PJJ. Pentingnya memberikan sarana pembelajaran yang dapat diakses oleh semua unsur Pendidikan merupakan tanggung jawab negara, karena Pendidikan merupakan hak dasar setiap warga negara yang diatur oleh Undang-Undang.

Kebutuhan pendidik yang lain adalah kebutuhan sosial. Kebutuhan ini terkait perlu adanya pendampingan bagi pendidik dalam melaksanakan PJJ. Kerjasama dan saling diskusi dalam pengelolaan kelas daring, metode belajar kreatif yang bisa diterapkan baik daring dan luring. Sebenarnya sudah banyak komunitas peduli Pendidikan yang ada di negeri ini, seperti adanya Musyawarah Pendidik Mata Pelajaran (MGMP) di tiap kabupaten/ kota dan komunitas pendidikan yang memberikan pendampingan pelatihan Pendidik gratis ataupun berbayar baik secara daring atau luring. Namun, sekali lagi komunikasi menjadi jembatan utama agar kebutuhan sosial ini bisa terpenuhi dengan baik. Bayangkan ketika pendidik kesulitan menjalin relasi dan berdiskusi dalam melaksanakan PJJ, maka kegiatan belajar mengajar tidak akan optimal. Rasa frustasi Pendidik bisa tersalurkan dengan cara yang tidak tepat. Seperti PJJ dilaksanakan dengan metode ceramah atau sekedar memberikan materi dan tugas tanpa makna jangka panjang. Beda kasus ketika pendidik mampu berdiskusi dengan rekan sejawat, metode belajar kreatif sebagai bagian dari high teach, meski dengan low technology, membuat peserta didik termotivasi hadir sepenuh hati. Penting membangun jejaring komunitas antar Pendidik di tiap daerah.

Pemenuhan kebutuhan lain adalah pemberian apresiasi oleh Pendidik bagi dirinya sendiri. Maraknya pemberitaan memojokkan Pendidik seperti hanya memberikan tugas, pembelajaran monoton, kurang mampu beradaptasi dengan teknologi, dan tingginya ekpekstasi masyarakat seolah melupakan bahwa Pendidik sebagai insan pembelajar selalu mengikuti perkembangan zaman melalui serangkaian pembelajaran. Pendidik rutin mengikuti In House Training (IHT), workshop dan serangkaian “webinar series” demi meningkatkan kompetensi pedagogic dan professional. Namun layaknya manusia, Pendidikpun ada yang mampu menyerap ilmu baru dengan cepat dan sebaliknya. Oleh karena itu, para pemangku kepentingan harus tetap mengapresiasi para pendidik, antara lain dengan menempatkan pendidik pada posisi sesuai kinerja mereka.

Kebutuhan lain yang penting adalah aktualisasi bagi pendidik. Durasi pelaksanaan PJJ membutuhkan waktu pelayanan yang lebih lama dibanding pembelajaran tatap muka. Untuk itu pemenuhan beban mengajar guru selama 24jam/ minggu untuk dapat diakui sebagai pendidik professional lebih bijak bila dikaji ulang. Merancang kegiatan pembelajaran secara daring membutuhkan energi yang jauh lebih banyak, dan membutuhkan banyak referensi. Perencanaan yang matang ini akan membangun ikatan emosional peserta didik untuk terus belajar. Sedangkan menjaga motivasi belajar peserta didik adalah tugas berikutnya yang jauh menyita waktu para pendidik. Aktualisasi membutuhkan ruang gerak yang lebih. Aktualisasi diri pendidik akan lebih bermanfaat tidak hanya untuk lingkungan sekolah namun juga untuk negara. Pemenuhan tertib administrasi diperlukan, namun lebih bijak bila aktulisasi berupa kolaborasi pendidik, peserta didik dan masyarakat ini lebih diprioritaskan.

 

Tidak ada satu model pembelajaran pun yang pantas untuk semua kondisi selama PJJ dilaksanakan. Untuk itu pembelajaran jarak jauh akan optimal bila Pendidik melakukan pembelajaran secara synchronous dan asynchronous. Pembelajaran asynchronous menjadi penting ketika tatap muka tidak bisa dilakukan secara langsung. Untuk dapat melakukan pembelajaran asynchronous, maka dibutuhkan pendidik yang mampu mengenali dan memenuhi kebutuhan dirinya dengan baik. (*/bas)

Dosen S1 Pendidikan Kimia Universitas Muhammadiyah Semarang

 





Tinggalkan Balasan