Mewarisi Semangat Kartini di Masa Pandemi Covid-19

319
Oleh : Dr Siti Aminah S.TP M.Si
Oleh : Dr Siti Aminah S.TP M.Si

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI covid-19 cukup memberikan perubahan sangat besar hampir pada semua aspek kehidupan. Bukan hanya masalah kesehatan, namun persoalan pendidikan, ekonomi, dan sosial memerlukan pemikiran yang sangat serius. Social distancing dan physical distancing adalah kebijakan solutif dalam pencegahan covid-19. Sehingga hampir seluruh aktivitas yang dilakukan harus digantikan di rumah. Kondisi tersebut tampaknya memberikan pengaruh sangat signifikan terhadap pendapatan masyarakat dan keluarga, baik pekerja maupun pelaku usaha.

Lantas bagaimana peran ibu dan emansipasi wanita di era covid-19 ini? Emansipasi wanita yang telah diperjuangkan RA Kartini dalam kesetaraaan hak dan pendidikaan perempuan sudah terimplementasi dengan baik. Konsep “Door Duistermis tox Lich” (“Habis Gelap Terbitlah Terang”) telah mampu mempengaruhi perubahan kemajuan perempuan. Demikian juga perjuangan tokoh lain emansipasi dan pendidikan perempuan seperti Cut Nyak Dhien Dewi Sartika, Siti Walidah (Nyi Ahmad Dahlan), Maria Walanda Maramis dan lain-lain. Perjuangan yang tidak ringan dan banyak rintangan dengan kegigihan para pahlawan perempuan telah menuai hasil yang luar biasa bagi pemajuan perempan Indonesia saat ini.

Kesetaraan hak laki-laki dan perempuan saat ini sudah bukan persoalan. Beberapa fakta di masyarakat menunjukkan pergantian peran perempuan dalam keluarga, selain sebagai istri dan ibu, juga sebagai orang nomor satu yang menopang kebutuhan keluarga. Tantangan perjuangan perempuan saat ini cukup kompleks. Era disrupsi yang saat ini sedang dialami bukan tanpa persoalan. Digitalisasi telah memanjakan masyarakat dalam memperoleh semua informasi dengan cepat. Di sisi lain, akan memberikan pengaruh buruk terhadap karakter dan pendidikan anak. Informasi dan tayangan negatif bertebaran di media sosial. Peran ibu menjadi tuntutan mutlak untuk dapat mengarahkan dan memfilter info-info yang mudah diakses buah hati, sehingga nilai-nilai agama dan budaya tetap terjaga.

Belum selesai tugas ibu dalam mengondisikan keluarga dari pengaruh negatif era digitalisasi, covid-19 telah menjadi pandemi yang memberikan dampak sangat signifikan bagi seluruh aspek kehidupaan masyarakat. Tantangan dan perjuangan berat bagi para ibu yang harus menjadi sutradara, sekaligus pemeran utama dalam keluarga.

Semenjak diberlakukan physical distancing, secara otomatis melekat tugas ibu untuk menggantikan guru di sekolah dalam membelajari putra-putri dengan materi serta tugas-tugas dari guru secara daring. Beberapa minggu ini, bermunculan keluhan para ibu dan anak. Kompleksitas persoalan yang dihadapi sang Ibu, menjadikan tugas pendampingan belajar “menggantikan sang guru” tidak dapat terlaksana dengan baik. Kemudian anak merasa “Ibuku bukan guruku yang baik”. Di satu sisi, sebagian ibu, tidak bisa lagi memikirkan pembelajaran daring, karena tidak cukup uang untuk menyiapkan paket data internet. Fokus pikiran para ibu yang kehilangan pekerjaan, adalah “apa yang akan dimakan besok pagi.” Ketahanan pangan keluarga semakin melemah, sementara mengakses pekerjaan untuk income keluarga semakin sulit. Di tengah situasi sulit ini, harga kebutuhan dapur terus melejit. Perjuangan perempuan di rumah tangga dibutuhkan kesabaran, penghematan dan pengaturan pengeluaran yang ketat.

Berbagai strategi telah diupayakan pemerintah, dalam upaya pencegahan pandemi covid-19 ini, seperti bantuan sembako, diskon pembayaran listrik, penundaan pembayaran angsuran bank dan lainnya. Demikian pula eksponen masyarakat baik yang tergabung dalam organisasi kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ataupun individu masif melakukan gerakan sosial untuk membantu sesama. Termasuk berupaya melakukan pemenuhan Alat Pelindung Diri (APD) untuk tenaga medis.

Demikian pula perempuan-perempuan tangguh yang tergabung dalam organisasi wanita tidak kalah masifnya dalam gerakan sosial untuk pencegahan dan memberikan bantuan kepada masyarakat terdampak. Seperti organisasi Aisyiyah yang menggerakkan segenap anggota dan pimpinan dari tingkat ranting hingga pusat, menghimpun kekuatan dalam melakukan kegiatan kemanusian akibat covid-19 ini. Covid-19 menyatukan segala kekuatan untuk gerakan pencegahan, sosial dan kemanusiaan.

Persoalannya adalah sampai kapan bantuan akan diberikan? Perlu sinergitas dari elemen masyarakat dan pemerintah untuk memfokuskan perhatikan terhadap, 1) persoalan kesehatan, 2) kemanusiaan, 3) jejaring sosisial di antaranya melalui lumbung pangan atau ATM pangan, dan 4) mengondisikan usaha-usaha masyarakat kecil dan menengah (UMKM) untuk tetap bertahan.

Kartini, Siti Walidah dan pahlawan emansipasi perempuan lainnya menginspirasi dan memberikan pewarisan semangat perjuang perempuan melintasi zaman dan menjadi pencerah bagi keluarga, masryarakat, bangsa dan negera. Semangat Kartini dimasa covid-19 ini akan meningkatkan imunitas perempuan untuk terus berjuang dan bertahan serta mampu memainkan peran yang mencerahkan. (*/ida)

Dosen Prodi Teknologi Pangan Unimus dan Sekretaris PWA Jawa Tengah





Tinggalkan Balasan