Arti Penting Petani, Jimpitan dan Lumbung Pangan Hari Ini

632
Oleh: Abdullah, S. Pt

RADARSEMARANG.ID – Saat ini hampir seluruh belahan dunia dibuat sibuk oleh makhluk yang berasal dari Famili Koronavide atau yang diketahui dengan SARS – Cov -2 atau yang akrab disebut dengan Virus Korona atau Covid-19. Ditengah aturan pemerintah untuk menghimbau masyarakat berdiam diri di rumah dalam rangka mengurangi wabah ini, maka ada satu hal yang terfikirkan oleh mayoritas dari kita, “bagaimana suplai  makanan saat harus di rumah saja, bagaimana terpenuhi kebutuhan pangan mereka dan keluarganya”. Pangan sendiri merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus dipenuhi setiap saat, baik itu pangan asal hewani maupun dari tumbuhan, tidak bisa tidak. Bahkan hak untuk memperoleh pangan merupakan salah satu hak asasi manusia, sebagaimana tertuang dalam pasal 27 UUD 1945 maupun dalam Deklarasi Roma (1996). Untuk itulah di tengah kondisi saat ini, tetap ada yang mengurusi tersedianya pangan.

Dari peristiwa ini kita baru merasakan arti penting dari mereka yang berprofesi sebagai petani, peternak maupun nelayan. Berdasarkan data BPS tahun 2018 petani di Indonesia berjumlah 33.487.806 jiwa atau jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 264 juta jiwa, maka secara persentase jumlah petani setara 12,7 persen dari jumlah penduduk. BPS juga mencatat dalam 10 tahun terakhir terdapat penurunan jumlah petani sejumlah 5 juta orang. Angka yang fantastik bukan? Bisa dibayangkan jika petani yang ada saat ini, juga ikut berdiam di rumah untuk beberapa waktu tertentu, mereka berhenti mengayun cangkulnya di sawah, beristirahat dalam mengembalakan ternaknya ke padang pengembalaan, nelayan berhenti melaut untuk menebar jaringnya di tengah derasnya ombak.  Bagaimana jika sebagian petani, peternak, nelayan di dunia ini tidak beraktivitas selama dua pekan atau sebulan penuh? Tentu kita semua tidak ingin hal tersebut terjadi. Kita berharap di tengah cobaan ini tetap ada yang mengurusi kebutuhan pangan kita, layaknya dokter dan perawat yang tetap siaga penuh ditengah ujian ini.

Kondisinya saat ini juga menuntut rasa kemanusian kita semua, untuk senantiasa berbagi dengan sesama, yang mampu memberikan kepada yang tidak mampu, yang memiliki beras berlebih diberikan kepada tetangganya yang kekurangan beras. Budaya seperti ini telah berjalan cukup lama, di Jawa Tengah maupun Jawa Timur kita mengenal dengan istilah ‘jimpitan’, di Jawa Barat kita mengenalnya dengan beas perelek, dan setiap daerah pastinya punya penamaannya sendiri untuk kegiatan pengumpulan beras tersebut.  Jimpitan sendiri merupakan salah satu kearifan lokal masyarakat Jawa yang hari ini keberadaan dirasa perlu untuk dihidupkan kembali di tengah wabah korona. Di dalam kegiatan ‘jimpitan’ ada semangat gotong royong yang begitu melekat, dimana budaya ini sudah menjadi jati diri bangsa Indonesia sejak lama. Jimpitan sendiri bisa diartikan sebagai kegiatan pengumpulan beras secara sukarela dari masyarakat yang mampu, kemudian didistribusikan kembali kepada masyarakat yang tidak mampu ataupun kepada masyarakat yang terkena musibah. Bisa dibayangkan jika jimpitan atau perelek menjadi gerakan di seluruh RT, RW, kampung, desa yang ada di Indonesia, rasanya akan sulit kita temui berita ada masyarakat yang tidak bisa makan pada hari ini. Dari jimpitan ini kita diajarkan untuk mengerti arti hal yang sedikit terasa sangat melimpah jika dikerjakan bersama.

Saat ini beberapa wilayah di Indonesia untuk satu bulan kedepan, yaitu bulan April dan Mei masih akan mengalami panen raya, dikarenakan pergesaran musim penghujan di wilayah Indonesia, dimana musim tanam padi dimulai antara bulan Januari maupun bulan Februari 2020. Namun disaat yang bersamaan masyarakat Indonesia juga akan menghadapi Ramadan dan Idhul Fitri, dimana biasanya permintaan makanan akan meningkat, untuk itu diperlukan manajemen pengelolaan yang baik, khususnya dalam hal pangan, salah satu hal sederhana yang dapat menjadi solusi dan sudah menjadi budaya yaitu menghidupkan kembali lumbung padi atau pangan yang ada disetiap dusun ataupun desa. Lumbung Pangan yang ada di dusun atau desa menjadi sarana untuk menyimpan bahan pangan pokok, seperti gabah, jagung dalam waktu tertentu untuk mengahadapi masa sulit masyarakat desa tersebut, misal saat terdapat gejolak harga, masa paceklik maupun saat terdapat bencana alam.

Ketiga hal ini merupakan komponen utama bagi bangsa ini untuk menghadapi masa – masa sulit kedepan; petani, jimpitan dan lumbung pangan. Tentunya kita semua berharap bahwa apa yang dihadapi oleh bangsa kita dan dunia hari ini segera berlalu. (*/bas)

Manager – Centre of Excellence Tani Berdaya Rumah Zakat

 





Tinggalkan Balasan