Peta Pembangunan Manusia Jateng

236
Oleh : Tri Karjono
Oleh : Tri Karjono

RADARSEMARANG.ID, DALAM berbagai kesempatan presiden mengingatkan akan pentingnya pembangunan SDM sebagai investasi jangka panjang bagi pembangunan bangsa. SDM merupakan modal terbesar dan terkuat yang harus dimiliki untuk mewujudkan Indonesia maju.

Salah satu ukuran keberhasilan suatu pembangunan adalah terjadinya peningkatan kualitas manusia. Dimana manusia sebagai obyek pembangunan diharapkan semakin mampu menikmati hidup lebih lama dan sehat (a long and healthy life), lebih berpendidikan dan terampil (knowledge), dan memiliki pendapatan yang cukup dan layak untuk memenuhi kebutuhan dasarnya (decent standard of living), seperti: pemenuhan gizi, sandang, papan dan lingkungan tempat tinggal yang baik.

Selama ini Indeks Pembangunan Manusia (IPM) menjadi ukuran tingkat dan perkembangan keberhasilan pembangunan kualitas hidup penduduk di suatu wilayah pada kurun waktu tertentu. Nilai IPM mampu dibandingkan dengan wilayah lain, sehingga dapat digunakan untuk membandingkan tingkat keberhasilan pembangunan SDM-nya. Disamping itu IPM juga menjadi salah satu indikator dalam menghitung dana alokasi umum (DAU).

IPM dibentuk oleh tiga dimensi dasar kualitas manusia diatas, yaitu umur panjang dan hidup sehat, pengetahuan, dan standar hidup layak. Umur panjang dan hidup sehat digambarkan oleh umur harapan hidup saat lahir (UHH). Pengetahuan diukur melalui indikator rata-rata lama sekolah (RLS) dan harapan lama sekolah (HLS). Sedangkan standar hidup yang layak digambarkan oleh pengeluaran per kapita penduduknya.

BPS mencatat bahwa selama periode 2011-2019, IPM Jawa Tengah tumbuh 5,09 poin atau rata-rata sebesar 0,95 persen per tahun, dengan capaian terakhir 2019 sebesar 71,73 atau tumbuh sebesar 0,86 persen. Ini merupakan tahun ketiga IPM Jawa Tengah mencapai level tinggi (diatas 70).

Peningkatan IPM Jawa Tengah tahun 2019 tidak terlepas dari meningkatnya pula IPM seluruh Kabupaten/Kota. Ada tiga kabupaten yang mencatat kemajuan pembangunan manusia paling cepat, yaitu Kabupaten Tegal (1,35%), Kabupaten Banjarnegara (1,20%) dan Kabupaten Kebumen (1,16%). Sementara tiga kabupaten/kota yang mengalami pertumbuhan terendah adalah Kota Surakarta (0,49%), Kabupaten Kudus (0,48%), dan Kabupaten Karanganyar (0,46%).

Namun jika dilihat capaian indeksnya, baru ada tiga kabupaten/kota dengan status IPM ‘sangat tinggi’ atau diatas 80 yaitu Surakarta, Salatiga dan Kota Semarang. Sementara masih ada 15 kabupaten kota yang berada dibawah 70 dengan tiga wilayah terendah adalah Brebes (66,12), Pemalang (66,32) dan Banjarnegara (67,34).

Jika dibanding dengan IPM Nasional, situasi di Jawa Tengah tahun 2019 ini masih sedikit lebih rendah 0,19 poin. Namun jika diperhatikan dari sisi pertumbuhannya pada tahun ini lebih besar dari pertumbuhan Nasional yang hanya 0,74 persen. Disamping itu selama tiga tahun terakhir selalu mengalami peningkatan 2017 (0,77 persen) dan 2018 (0,85 persen). Hal ini mengindikasikan bahwa upaya dan kerja keras Jawa Tengah untuk dapat meningkatkan SDM pada seluruh dimensi pembentuknya telah menampakkan progres yang baik.

Perlu dilakukan upaya yang lebih keras lagi jika ingin mengejar tingkat kualitas pembangunan manusia Jawa Tengah diatas rata-rata Nasional dan wilayah sekitar. Dengan upaya lebih memperhatikan peningkatan RLS melalui penyadaran masyarakat terhadap pentingnya pendidikan misalnya serta pengeluaran perkapita melalui segala upaya untuk meningkatkan pendapatan penduduk, akan sangat membantu meningkatkan indeks pembanunan manusia Jawa Tengah. Tentunya tanpa melepas perhatian pula terhadap aspek lain yang telah tumbuh lebih baik. (gml1/bas)

Ahli Madya BPS Prov. Jawa Tengah





Tinggalkan Balasan